Oleh: Suhana

 

Ketika berbicara tentang arwana Indonesia, perhatian publik umumnya tertuju pada sentra budidaya. Wajar saja. Arwana merupakan salah satu ikan hias paling prestisius di dunia, bahkan sering dijuluki dragon fish karena bentuk tubuh dan sisiknya yang menyerupai naga dalam budaya Tiongkok. Namun, ada satu pertanyaan yang sama pentingnya dengan persoalan produksi: setelah dibudidayakan, ke mana sebenarnya arwana Indonesia dijual?

Pertanyaan tersebut menjadi menarik karena perdagangan arwana tidak mengikuti pola perdagangan ikan konsumsi. Jika udang, tuna, atau rumput laut diperdagangkan dalam jumlah besar dengan orientasi volume, maka arwana justru diperdagangkan berdasarkan nilai, kualitas genetik, warna, ukuran, sertifikasi, dan reputasi penangkarannya. Seekor arwana berkualitas tinggi dapat bernilai jutaan hingga ratusan juta rupiah. Oleh sebab itu, memahami ekspor arwana berarti memahami bagaimana Indonesia memanfaatkan keunggulan biodiversitasnya menjadi sumber devisa.

Data ekspor tahun 2025 memperlihatkan bahwa Indonesia mengekspor arwana senilai USD 9,54 juta dengan volume sekitar 124,3 ton. Dibandingkan tahun 2020, volume ekspor meningkat lebih dari dua kali lipat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut terdapat fenomena lain yang patut dicermati, yaitu penurunan nilai rata-rata ekspor per kilogram. Pada 2020 harga rata-rata masih sekitar USD162 per kilogram, sedangkan pada 2025 turun menjadi sekitar USD77 per kilogram. Artinya, peningkatan volume belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi peningkatan nilai ekonomi.

Tabel Perkembangan Ekspor Ikan Arwana Indonesia

Tahun Nilai (USD) Volume (kg)
2020 8,375,140 51,729
2021 7,367,944 52,221
2022 8,821,225 73,953
2023 11,240,081 115,008
2024 10,581,998 135,658
2025 9,544,697 124,330

Sumber: BPS (2026), diolah

Fenomena tersebut mengandung pesan penting. Tantangan industri arwana Indonesia bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah ekspor, melainkan meningkatkan nilai tambah melalui kualitas, diferensiasi produk, dan penguatan merek Indonesia di pasar internasional.

China, pasar yang sulit tergantikan

Apabila ditelusuri berdasarkan negara tujuan, terlihat bahwa ekspor arwana Indonesia memiliki tingkat konsentrasi yang sangat tinggi. China menyerap sekitar USD6,97 juta, atau hampir 73 persen dari total nilai ekspor nasional. Dari sisi volume, lebih dari separuh arwana Indonesia juga berakhir di pasar China.

Dominasi tersebut menunjukkan bahwa China merupakan pusat gravitasi perdagangan arwana Indonesia. Hampir seluruh provinsi pengekspor utama memiliki hubungan dagang langsung dengan negara tersebut. Besarnya permintaan dipengaruhi oleh posisi arwana sebagai simbol keberuntungan, kemakmuran, dan status sosial dalam budaya masyarakat Tionghoa. Permintaan tersebut telah menciptakan pasar yang relatif stabil selama bertahun-tahun.

Namun, dominasi satu pasar juga menyimpan risiko. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap China membuat ekspor Indonesia rentan terhadap perubahan regulasi impor, perlambatan ekonomi, maupun perubahan preferensi konsumen. Diversifikasi pasar karena itu menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan.

Jepang membeli lebih sedikit, tetapi membayar lebih mahal

Menariknya, negara dengan nilai ekonomi tertinggi per kilogram bukanlah China, melainkan Jepang. Walaupun volume ekspornya hanya sekitar 5,4 ton, nilai yang diperoleh mencapai lebih dari USD723 ribu.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Jepang lebih banyak mengimpor arwana berkualitas premium dengan standar kesehatan ikan, sertifikasi, dan mutu yang sangat tinggi. Dengan kata lain, Jepang merupakan pasar yang mengapresiasi kualitas, bukan sekadar kuantitas.

Pelajaran yang dapat dipetik cukup jelas. Peningkatan devisa tidak selalu harus ditempuh melalui peningkatan volume. Meningkatkan kualitas ikan justru dapat menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.

Baca juga: tahukah-anda-produsen-ikan-hias-arwana-di-indonesia 

Kalimantan Barat menjadi pintu utama ekspor

Jika artikel sebelumnya menjelaskan bahwa pusat produksi arwana tidak hanya berada di Kalimantan, maka data ekspor justru menunjukkan bahwa Kalimantan Barat merupakan pusat utama perdagangan internasional arwana Indonesia.

Pada 2025, provinsi ini menyumbang sekitar 69 persen nilai ekspor nasional dan lebih dari 72 persen volume ekspor. Dari wilayah inilah arwana Indonesia mengalir ke China, Jepang, Vietnam, Taiwan, Thailand, Hong Kong, Filipina, Malaysia, Korea Selatan, Brunei Darussalam, Kanada, hingga Suriname.

Posisi tersebut tidak mengherankan. Kalimantan Barat merupakan habitat alami Arwana Super Red, salah satu varietas arwana paling terkenal di dunia. Selain memiliki sumber plasma nutfah yang kuat, daerah ini juga telah berkembang menjadi klaster budidaya, sertifikasi, dan perdagangan yang terintegrasi.

Riau menunjukkan bahwa kualitas lebih penting daripada jumlah

Di balik dominasi Kalimantan Barat, terdapat fenomena menarik dari Provinsi Riau. Kontribusi volume ekspornya hanya sekitar 5,5 persen, tetapi nilai ekspornya mencapai lebih dari 16 persen dari total nasional. Jika dihitung, nilai rata-rata ekspor dari Riau mencapai sekitar USD228 per kilogram, jauh di atas rata-rata nasional.

Artinya, Riau kemungkinan besar mengekspor arwana dengan kelas kualitas yang lebih tinggi atau memasok pasar premium yang bersedia membayar lebih mahal. Fenomena ini membuktikan bahwa strategi pembangunan industri arwana tidak selalu harus mengejar skala produksi besar. Fokus pada kualitas juga mampu menghasilkan devisa yang signifikan.

Jakarta sebagai simpul perdagangan

Provinsi lain yang menarik adalah DKI Jakarta. Kontribusi Jakarta terhadap volume ekspor lebih besar dibanding kontribusi nilainya. Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta lebih banyak berfungsi sebagai pusat konsolidasi perdagangan. Arwana dari berbagai daerah dikumpulkan, menjalani proses administrasi ekspor, pemeriksaan kesehatan ikan, dan kemudian dikirim ke berbagai negara tujuan.

Fenomena seperti ini lazim dijumpai pada komoditas ekspor bernilai tinggi yang membutuhkan layanan logistik, transportasi udara, serta dukungan kelembagaan yang lebih lengkap.

Koridor perdagangan yang membentuk industri arwana

Analisis aliran perdagangan (origin–destination) memperlihatkan bahwa industri arwana Indonesia sebenarnya dibangun oleh beberapa koridor utama.

Tabel Arus Perdagangan Ikan Arwana Menurut Provinsi Asal dan Negara Tujuan Ekspor Tahun 2025

Sumber: BPS (2026), diolah

Koridor terbesar adalah Kalimantan Barat–China, yang sendiri menyumbang lebih dari separuh nilai ekspor nasional. Koridor penting lainnya adalah Riau–China, DKI Jakarta–China, Kalimantan Barat–Vietnam, dan Kalimantan Barat–Jepang.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki dua simpul utama. Di sisi pasokan terdapat Kalimantan Barat sebagai pusat produksi dan ekspor, sedangkan di sisi permintaan terdapat China sebagai pasar terbesar. Hubungan keduanya menjadi tulang punggung industri arwana nasional.

Saatnya beralih dari “more volume” menuju “higher value”

Selama ini keberhasilan ekspor sering diukur dari bertambahnya volume pengiriman. Namun data arwana memberikan pelajaran berbeda. Ketika volume meningkat tetapi harga rata-rata turun, devisa tidak tumbuh secepat yang diharapkan.

Karena itu, strategi pembangunan industri arwana Indonesia perlu bergeser. Fokus kebijakan sebaiknya tidak hanya meningkatkan jumlah ikan yang diekspor, tetapi juga memperbesar nilai ekonomi setiap ekor arwana melalui perbaikan genetika, sertifikasi, ketertelusuran (traceability), kesehatan ikan, inovasi budidaya, dan penguatan merek Arwana Indonesia di pasar internasional.

Indonesia memiliki modal yang sangat kuat. Biodiversitas yang unik, pengalaman panjang dalam budidaya, dukungan regulasi CITES, serta jaringan pembudidaya yang terus berkembang merupakan fondasi penting untuk menjadi pemimpin pasar dunia.

Dus, masa depan industri arwana Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ikan yang mampu diproduksi. Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar nilai yang dapat diciptakan dari setiap ekor arwana yang berenang keluar dari kolam-kolam budidaya Indonesia menuju akuarium para kolektor di berbagai belahan dunia. Di situlah arwana tidak lagi sekadar menjadi ikan hias, melainkan simbol keberhasilan Indonesia mengubah kekayaan hayati menjadi kekuatan ekonomi biru yang berdaya saing global.

 


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca