Oleh: Suhana
Mengapa data ilmiah menjadi fondasi baru dalam pengelolaan perikanan dunia? Pelajaran penting dari EUMOFA Monthly Highlights No. 6/2026 untuk Indonesia.
Selama bertahun-tahun keberhasilan sektor perikanan sering diukur dari satu indikator sederhana, yaitu berapa banyak ikan yang berhasil ditangkap. Semakin tinggi produksi, semakin dianggap berhasil. Paradigma ini melahirkan perlombaan meningkatkan hasil tangkapan, memperbesar armada, dan memperluas wilayah penangkapan. Namun, di balik peningkatan produksi tersebut, banyak stok ikan dunia justru mengalami tekanan akibat eksploitasi yang berlebihan.
Kini paradigma itu mulai berubah. Dunia tidak lagi hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan bahwa sumber daya ikan tetap tersedia bagi generasi mendatang. Laporan European Market Observatory for Fisheries and Aquaculture Products (EUMOFA) Monthly Highlights No. 6/2026 menunjukkan bahwa sektor perikanan global tengah memasuki era baru, ketika pengelolaan berbasis sains (science-based fisheries management) menjadi fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan.
Perubahan ini bukan sekadar konsep akademik. Ia lahir dari kenyataan bahwa eksploitasi sumber daya laut selama beberapa dekade telah menyebabkan banyak stok ikan mengalami penurunan. Karena itu, negara-negara maju mulai menyadari bahwa keberhasilan sektor perikanan tidak lagi diukur dari seberapa banyak ikan yang ditangkap, tetapi dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan keberlanjutan sumber daya.

Bukti bahwa Pengelolaan Berbasis Sains Bekerja
Salah satu temuan paling penting dalam laporan EUMOFA adalah hasil pertemuan negara-negara Uni Eropa dan mitra Mediterania pada 5 Mei 2026. Dalam pertemuan tersebut disepakati kelanjutan inisiatif MedFish4Ever yang akan menjadi arah kebijakan perikanan kawasan hingga dekade berikutnya. Evaluasi yang dipaparkan menunjukkan bahwa sekitar setengah stok ikan Mediterania telah mulai pulih berkat penerapan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan. Namun demikian, lebih dari separuh stok yang dinilai masih berada dalam kondisi overfished, sehingga upaya pemulihan harus terus diperkuat.
Berdasarkan hasil tersebut, lima prioritas baru ditetapkan, yaitu memperkuat tata kelola perikanan, memberantas praktik Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing dan kelebihan kapasitas armada, mempercepat pemulihan stok berbasis sains, menjamin transisi yang adil bagi perikanan skala kecil, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta memperkuat kerja sama regional melalui General Fisheries Commission for the Mediterranean (GFCM).
Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas, yaitu ilmu pengetahuan telah terbukti mampu memperbaiki kondisi stok ikan.
Baca juga: Sains menjadi kompas baru kebijakan perikanan
Dari Produksi Menuju Bukti Ilmiah
Apa yang dimaksud dengan science-based fisheries management?. Pendekatan ini menempatkan data ilmiah sebagai dasar utama pengambilan keputusan. Penetapan kuota tangkap, jumlah kapal, musim penangkapan, hingga kebijakan investasi tidak lagi didasarkan pada tekanan politik atau kepentingan ekonomi jangka pendek, tetapi pada hasil stock assessment, survei populasi ikan, data tangkapan, indikator biologis, dan kondisi ekosistem laut.
Paradigma ini mengubah cara pemerintah memandang sumber daya ikan. Jika sebelumnya pertanyaan yang muncul adalah “Berapa banyak ikan yang bisa kita tangkap?”, kini pertanyaannya berubah menjadi “Berapa banyak ikan yang masih dapat ditangkap tanpa mengganggu keberlanjutan stoknya?”
Perubahan sederhana ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap masa depan sektor perikanan.
Dunia Semakin Ketat Mengawasi Pengelolaan Perikanan
Penguatan pendekatan berbasis sains juga tercermin dalam tata kelola internasional. Laporan EUMOFA mencatat bahwa FAO memperoleh status pengamat pada Komite WTO mengenai Subsidi Perikanan, yang bertugas mengawasi implementasi WTO Agreement on Fisheries Subsidies. Peran FAO meliputi penyediaan dukungan teknis dalam penilaian stok ikan, tata kelola perikanan, sistem pemantauan dan pengawasan (Monitoring, Control and Surveillance/MCS), hingga pemberantasan IUU Fishing.
Hal ini menunjukkan bahwa tata kelola perikanan tidak lagi hanya menjadi urusan domestik. Standar internasional semakin menuntut agar setiap kebijakan didasarkan pada bukti ilmiah yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pasar Membeli Keberlanjutan, Bukan Sekadar Produk
Perubahan paradigma juga terlihat dari perilaku pasar Uni Eropa. Laporan EUMOFA (6/2026) menunjukkan bahwa harga produk ikan dan hasil laut masih mengalami inflasi sekitar 4,5%, sedangkan harga ikan segar meningkat 6,0% dan ikan olahan naik 6,5% dibanding tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen tetap bersedia membayar lebih mahal untuk produk perikanan yang berkualitas dan memiliki jaminan keamanan pangan serta keberlanjutan.
Keberhasilan India mempertahankan akses ekspor ke Uni Eropa menjadi contoh nyata. Setelah memenuhi persyaratan keamanan pangan, pengendalian residu antimikroba, dan sistem traceability, nilai ekspor seafood India ke Uni Eropa meningkat sekitar 41,45%, sementara volumenya naik 38,29% dibanding tahun sebelumnya.
Artinya, daya saing ekspor kini tidak lagi hanya ditentukan oleh harga atau volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan membuktikan bahwa produk tersebut berasal dari sistem pengelolaan yang bertanggung jawab.
Data Menjadi Kompas Kebijakan
Laporan EUMOFA juga memperlihatkan bagaimana data digunakan sebagai dasar evaluasi pasar. Pada periode Januari–Maret 2026, total nilai first sales mencapai sekitar EUR 962,9 juta, turun 2% dibanding tahun sebelumnya, sementara volumenya relatif stabil sekitar 600 ribu ton. Penurunan nilai terutama berasal dari kelompok tuna dan cephalopoda, sedangkan kelompok small pelagics justru menunjukkan peningkatan.
Informasi semacam ini memungkinkan pemerintah mengetahui secara rinci komoditas mana yang mengalami penurunan, spesies apa yang perlu dipulihkan, serta kebijakan apa yang harus diprioritaskan. Tanpa data, kebijakan hanya akan didasarkan pada asumsi.
Indonesia Tidak Kekurangan Ikan, tetapi Masih Membutuhkan Data yang Lebih Baik
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang sangat besar. Pemerintah bahkan telah mulai menerapkan kebijakan Penangkapan Ikan Terukur Berbasis Kuota untuk menjaga keberlanjutan sumber daya.
Namun keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada kualitas data yang tersedia. Kuota tangkap idealnya tidak hanya mengacu pada produksi historis, tetapi juga pada hasil stock assessment yang diperbarui secara berkala, kondisi biologis ikan, serta dinamika ekosistem di setiap Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Tanpa basis ilmiah yang kuat, kuota berisiko menjadi sekadar instrumen administratif.
Selain itu, Indonesia perlu terus memperkuat sistem Monitoring, Control and Surveillance (MCS) melalui pemanfaatan Vessel Monitoring System (VMS), logbook elektronik, electronic monitoring, penginderaan jauh, dan kecerdasan buatan (AI) agar data penangkapan semakin akurat dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Investasi Terbaik Adalah Investasi pada Ilmu Pengetahuan
Selama ini investasi sektor perikanan identik dengan pembangunan pelabuhan, kapal, atau cold storage. Padahal pengalaman Uni Eropa menunjukkan bahwa investasi yang paling menentukan justru berada pada riset, data, dan sistem informasi.
Tanpa survei stok yang rutin, laboratorium yang memadai, sistem pengumpulan data yang terintegrasi, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian, pengelolaan berbasis sains sulit diwujudkan secara konsisten.
Investasi pada ilmu pengetahuan memang tidak selalu menghasilkan peningkatan produksi dalam waktu singkat. Namun dalam jangka panjang, investasi tersebut akan menghasilkan stok ikan yang lebih sehat, industri yang lebih stabil, serta daya saing yang lebih kuat di pasar internasional.
Laporan EUMOFA Monthly Highlights No. 6/2026 memberikan pesan yang sangat kuat, yaitu masa depan perikanan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak ikan yang dapat ditangkap, tetapi oleh seberapa baik suatu negara mengelola sumber daya tersebut berdasarkan ilmu pengetahuan. Bukti dari kawasan Mediterania menunjukkan bahwa kebijakan yang didasarkan pada data ilmiah mampu memulihkan stok ikan sekaligus memperkuat keberlanjutan sektor perikanan.
Bagi Indonesia, momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kebijakan perikanan berbasis sains melalui peningkatan kualitas riset, sistem data yang terintegrasi, pemantauan stok yang lebih akurat, dan penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, serta pelaku usaha. Dengan sumber daya laut yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pemimpin dunia dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan.
Dus, keberhasilan sektor perikanan bukan lagi diukur dari besarnya hasil tangkapan hari ini, melainkan dari kemampuan memastikan bahwa sumber daya ikan tetap tersedia untuk memenuhi kebutuhan pangan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat di masa depan. Inilah esensi dari judul artikel sinopsis ini, yaitu masa depan perikanan benar-benar ditentukan oleh sains.
