Oleh: Suhana

Pernahkah Anda membayangkan bahwa sepiring ikan kembung atau teri yang harganya relatif murah di pasar tradisional sebenarnya adalah “harta karun” nutrisi yang lebih berharga daripada salmon impor? Di balik kesederhanaannya, tersimpan sebuah dilema global yang sedang diperdebatkan oleh para ilmuwan: “Fish for food or food for fish?” – Apakah ikan seharusnya langsung mendarat di piring manusia, atau justru berakhir di penggilingan pabrik pakan untuk membesarkan ikan lain yang lebih mahal?

Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh David Baptista de Sousa (2026) dalam jurnal Future Foods mengungkap sebuah kenyataan pahit menggunakan metode Material Flow Analysis (MFA). Temuan mereka bukan sekadar angka, melainkan sebuah teguran bagi kebijakan pangan kita, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia.

Dilema Jalur Protein: DHC vs IHC

Penelitian ini membedah dua jalur distribusi ikan pelagis (seperti teri dan tuna). Jalur pertama disebut Direct Human Consumption (DHC), di mana ikan diproses minimal (dikalengkan atau dibekukan) untuk langsung kita makan. Jalur kedua adalah Indirect Human Consumption (IHC), di mana ikan utuh dijadikan tepung ikan (FMFO) untuk memberi makan ikan budidaya (dalam studi ini adalah ikan trout), yang nantinya baru dimakan manusia.

Gambar. Batas sistem analisis aliran material (MFA) yang dilakukan untuk setiap rute. (Sumber : David Baptista de Sousa (2026))

Hasilnya? Jalur DHC menang telak dalam segala aspek efisiensi. Secara matematis, mengubah ikan hasil tangkapan yang sudah bergizi menjadi pakan ikan budidaya hanya untuk mendapatkan jenis ikan lain adalah bentuk “pemborosan protein” berskala besar.

Mengapa Kita Harus Khawatir?

Di Indonesia, kita sering merasa bangga dengan pertumbuhan industri akuakultur (budidaya) kita. Namun, ada sisi gelap yang jarang dibahas, yaitu ketergantungan pada pakan. Banyak ikan pelagis kecil hasil tangkapan nelayan kita yang “disedot” oleh industri pakan. Temuan Sousa et.all (2026) menunjukkan bahwa sektor akuakultur global saat ini menyerap sekitar 68% tepung ikan dan 89% minyak ikan dunia, yang menunjukkan ketergantungan struktural pada perikanan tangkap.

Secara kritis, penelitian Sousa et.all (2026) menunjukkan bahwa ketika kita memilih jalur IHC (pakan), kita kehilangan porsi protein bersih yang signifikan dalam proses konversi biologis. Ikan trout—atau dalam konteks kita mungkin udang atau ikan predator budidaya lainnya—membutuhkan asupan protein dalam jumlah besar untuk menghasilkan sedikit daging. Ini adalah inefisiensi yang sangat mahal bagi sebuah bangsa yang masih berjuang melawan stunting.

Belajar dari Temuan: Strategi untuk Indonesia

Jika kita ingin serius memenuhi gizi masyarakat, temuan jurnal ini harus diterjemahkan ke dalam strategi nasional yang radikal. Berikut adalah poin-poin transformatif yang bisa kita ambil, yaitu pertama, menghapus kasta “Ikan Murah”. Selama ini, ada stigma bahwa ikan teri, lemuru, atau kembung adalah makanan kelas dua. Padahal, secara nutrisi, mereka adalah superfood. Mereka kaya akan Omega-3 (EPA/DHA) yang krusial untuk otak anak. Jurnal ini menegaskan bahwa ikan-ikan ini memiliki bioavailabilitas protein yang sangat tinggi jika dikonsumsi langsung. Strategi gizi kita harus berfokus pada kampanye bahwa “Ikan Lokal adalah Ikan Premium”.

Kedua, model hibrida. Salah satu temuan paling menarik dari studi ini adalah rekomendasi Model Hibrida. Peneliti menyarankan agar daging ikan (fillet) digunakan untuk konsumsi langsung manusia, sementara produk sampingan (kepala, jeroan, tulang) baru diolah menjadi tepung ikan untuk pakan. Namun demikian, di Indonesia, industri pengolahan kita belum sepenuhnya terintegrasi secara sirkular. Banyak ikan utuh yang masih layak makan langsung dilempar ke penggilingan pakan hanya karena logistik rantai dingin kita buruk. Kita butuh investasi besar pada cold chain agar ikan tetap segar sampai ke konsumen manusia, bukan hanya sampai ke pabrik pakan.

Ketiga, intervensi stunting dengan protein langsung. Angka stunting di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Menggunakan ikan sebagai pakan ikan lain (jalur tidak langsung) membuat harga protein menjadi mahal. Jalur langsung (DHC) menawarkan solusi protein berkualitas tinggi dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Pemerintah seharusnya memprioritaskan stok ikan pelagis lokal untuk program makanan tambahan di Puskesmas, daripada membiarkannya diekspor dalam bentuk tepung ikan.

Menggugat Logika Ekonomi vs Logika Gizi

Secara kritis, kita harus mempertanyakan: Mengapa ikan yang bergizi tinggi seringkali lebih menguntungkan secara ekonomi jika dijadikan pakan? Jawabannya adalah karena pasar global menginginkan komoditas mewah seperti salmon atau udang ekspor. Namun, kebijakan ini menciptakan “ketidakadilan gizi”. Masyarakat pesisir yang menangkap ikan tersebut seringkali justru tidak mampu membeli hasil budidaya yang mahal itu.

Kita terjebak dalam logika ekonomi yang mengejar devisa, namun mengabaikan kedaulatan pangan. Temuan Sousa dkk. memberikan dasar ilmiah untuk melakukan intervensi pasar: harus ada kuota yang jelas bahwa ikan pelagis tertentu wajib diprioritaskan untuk pasar domestik dan konsumsi manusia sebelum diizinkan menjadi bahan baku pakan. 

Inovasi Teknologi

Studi ini juga menekankan pentingnya teknologi pengolahan. Pengalengan dan pembekuan terbukti mempertahankan nilai gizi dengan sangat baik. Untuk Indonesia, tantangannya adalah desentralisasi teknologi ini. Jangan hanya berpusat di Jawa. Jika kita bisa membangun pabrik pengolahan minimal di Maluku atau Papua, kita bisa memangkas kerugian protein akibat pembusukan dan mengalihkan aliran material dari “pakan” kembali ke “pangan”.

Dus, membaca jurnal ini menyadarkan kita bahwa masalah gizi bukan hanya soal kekurangan makanan, tapi soal salah urus aliran protein. Kita memiliki laut yang kaya, namun kita seringkali memboroskan kekayaan itu lewat rantai produksi yang tidak efisien.

Pilihannya jelas, yaitu pertama, terus memberikan “makanan mewah” kepada ikan di keramba budidaya demi keuntungan ekonomi jangka pendek, atau; kedua, memastikan protein laut tersebut mendarat di piring-piring anak bangsa untuk membangun generasi yang lebih cerdas.

Sebagai bangsa bahari, sudah saatnya kita berhenti memperlakukan ikan kita sekadar sebagai komoditas industri, dan mulai memperlakukannya sebagai fondasi pertahanan kesehatan nasional. Konsumsi langsung ikan pelagis bukan hanya soal selera, ini adalah soal efisiensi gizi dan keadilan sosial.

Mari kita mulai dengan hal sederhana, yaitu bangga makan ikan lokal. Karena di dalam seekor teri, terdapat kecerdasan yang mungkin hilang jika kita terus-menerus mengolahnya menjadi tepung.

 

Referensi Utama: Baptista de Sousa, D., Kahhat, R., & Vázquez-Rowe, I. (2026). Fish for food or food for fish? Use of material flow analysis to optimize protein availability of seafood products for human consumption. Future Foods, 13, 100857.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!