Oleh: Suhana

 

Di tengah krisis pangan, perubahan iklim, dan kebutuhan akan sumber daya berkelanjutan, rumput laut diam-diam menjelma menjadi salah satu komoditas paling strategis di dunia. Dari bahan makanan hingga kosmetik, dari industri farmasi hingga energi hijau, rumput laut kini menjadi bagian penting dari ekonomi global. Namun di balik potensinya yang besar, ada paradoks yang mencolok—terutama bagi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dunia.

Laporan terbaru FAO–Globefish (2026) menunjukkan bahwa perdagangan rumput laut global sedang mengalami perubahan besar ([FAO] Globefish, 2026). Bukan lagi soal siapa yang paling banyak memproduksi, tetapi siapa yang mampu menciptakan nilai tambah.

Secara global, produksi rumput laut mencapai sekitar 37,8 juta ton pada 2022, dan hampir seluruhnya berasal dari Asia . Bahkan, sekitar 97% produksi rumput laut dunia berasal dari budidaya (aquaculture), bukan tangkapan alam . Ini menunjukkan bahwa industri ini sudah sangat terstruktur dan berbasis teknologi.

China dan Indonesia menjadi dua raksasa utama, yaitu China sekitar 61% produksi global, dan Indonesia sekitar 26%. Keduanya mendominasi hampir seluruh rantai pasok dunia. Namun dominasi ini tidak otomatis berarti keuntungan yang merata.

Tabel. 1. Rata-Rata Harga Ekspor Rumput Laut Dunia, January–September 2024–2025 (USD/kg)

 

Volume Turun, Harga Naik: Sinyal Perubahan Pasar

Salah satu temuan penting dalam laporan FAO adalah fenomena yang tampak kontradiktif, yaitu polume perdagangan global rumput laut turun sekitar 4–5% pada 2025, tetapi nilai perdagangan justru naik hingga hampir 10%([FAO] Globefish, 2026). Harga rata-rata global bahkan meningkat lebih dari 14%. Apa artinya? Pasar sedang berubah. Dunia tidak lagi sekadar membutuhkan rumput laut dalam jumlah besar, tetapi dalam bentuk yang lebih bernilai—lebih olahan, lebih siap konsumsi, dan lebih inovatif. Dengan kata lain, ini adalah pergeseran dari “volume economy” ke “value economy.”

Baca juga: ekspor-rumput-laut-ri-tinggi-tapi-nilai-masih-rendah

Indonesia adalah eksportir rumput laut terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 67% dari total volume ekspor global. Namun ironisnya, posisi ini tidak diikuti dengan kekuatan ekonomi yang sepadan.

Sebagian besar ekspor Indonesia masih berupa bahan mentah dengan harga sekitar USD 1 per kg, jauh di bawah negara lain seperti Korea Selatan yang bisa mencapai hampir USD 18 per kg. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 88% ekspor Indonesia bergantung pada satu pasar, yaitu China. Ketergantungan ini menciptakan risiko besar. Jika permintaan dari China menurun, maka seluruh rantai produksi di Indonesia—dari petani hingga eksportir—akan langsung terdampak. Inilah yang disebut sebagai “ketergantungan struktural” dalam ekonomi global.

China bukan hanya produsen terbesar, tetapi juga importir utama rumput laut dunia, menyerap lebih dari setengah perdagangan global. Fakta ini menjadikan China sebagai penentu harga global, pengarah arus perdagangan, dan “Gatekeeper” pasar rumput laut dunia. Ketika impor China turun, dampaknya terasa langsung pada negara pemasok seperti Indonesia.

Berbeda dengan Indonesia, Korea Selatan mengambil strategi yang sangat berbeda. Mereka tidak fokus pada volume, melainkan pada nilai tambah. Produk utama mereka adalah gim (rumput laut kering siap konsumsi), yang dijual langsung ke konsumen global. Hasilnya adalah harga ekspor jauh lebih tinggi, pasar lebih beragam, dan ketahanan ekonomi lebih kuat. Bahkan ketika perdagangan global menurun, ekspor Korea Selatan justru meningkat. Ini membuktikan satu hal penting, yaitu nilai tambah lebih penting daripada volume produksi.

Perubahan iklim mulai terasa dalam industri ini. Laporan FAO mencatat bahwa suhu laut yang meningkat memperpendek musim budidaya dan produksi menjadi lebih tidak stabil. Sebagai respons, Korea Selatan mulai mengembangkan budidaya rumput laut di darat (land-based cultivation) untuk mengurangi ketergantungan pada kondisi alam .

Ini menunjukkan bahwa masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi juga oleh inovasi teknologi. Rumput laut bukan lagi sekadar bahan makanan tradisional seperti sushi atau sup. Saat ini, penggunaannya meluas ke berbagai sector Industri makanan (pengental alami seperti agar dan karaginan), Farmasi dan kosmetik, Pakan ternak, dan Energi serta biofuel

Bahkan, pasar global rumput laut diperkirakan mencapai USD 72,3 miliar pada 2025 dan terus tumbuh hingga lebih dari USD 140 miliar pada 2035 ([FAO] Globefish, 2026). Dengan tren gaya hidup sehat dan makanan berbasis nabati, permintaan rumput laut diperkirakan akan terus meningkat. 

Eropa: Pasar Baru yang Menjanjikan

Menariknya, permintaan rumput laut mulai tumbuh di luar Asia, terutama di Eropa. Negara seperti Denmark dan Jerman mulai mempromosikan rumput laut sebagai sumber pangan berkelanjutan.

Ini membuka peluang baru bagi negara produsen. Namun untuk masuk ke pasar ini, diperlukan standar kualitas tinggi, produk olahan, dan branding yang kuat. Sayangnya, Indonesia masih tertinggal dalam aspek ini.

Selama ini, keberhasilan sektor rumput laut Indonesia sering diukur dari peningkatan produksi. Namun data menunjukkan bahwa produksi naik tetapi nilai ekspor tidak signifikan meningkat. Ini menciptakan ilusi pertumbuhan. Dalam ekonomi modern, produksi tinggi tanpa nilai tambah justru bisa menjadi jebakan. Negara akan terperangkap sebagai pemasok bahan mentah dengan margin rendah.

Laporan FAO secara implisit mengirim pesan kuat, yaitu industri rumput laut global sedang memasuki fase baru. Negara yang ingin bertahan dan berkembang harus melakukan transformasi, yaitu (1) Dari bahan mentah ke produk olahan; (2) Dari pasar tunggal ke diversifikasi pasar; (3) Dari produksi tradisional ke teknologi modern; dan (4) Dari harga murah ke nilai premium. Tanpa langkah ini, posisi Indonesia sebagai “raja rumput laut dunia” bisa menjadi rapuh.

Dus, rumput laut adalah simbol masa depan: ramah lingkungan, serbaguna, dan bernilai tinggi. Namun seperti banyak komoditas lain, keberhasilan tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya, tetapi oleh siapa yang mampu mengelolanya dengan cerdas. Indonesia memiliki semua modal dasar, seperti garis pantai Panjang, tenaga kerja melimpah, dan posisi dominan di pasar global

Namun tanpa strategi hilirisasi, inovasi, dan diversifikasi, potensi besar ini bisa terjebak dalam pola lama—menjadi pemasok murah di pasar global. Seperti pepatah ekonomi mengatakan: “Negara yang hanya mengekspor bahan mentah, sebenarnya sedang mengekspor kemiskinan.” Pertanyaannya sekarang adalah Apakah Indonesia siap naik kelas, atau tetap nyaman di posisi lama?

 

Referensi

FAO Globefish. (2026). Quarterly Seaweed Analysis – February 2026. Rome: FAO.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!