Oleh: Suhana

 

Triwulan pertama tahun 2026 membuka babak baru dalam dinamika pasar global Cakalang (skipjack tuna). Dalam waktu hanya tiga bulan, harga bahan baku di Bangkok—yang menjadi salah satu acuan utama dunia—melonjak tajam dari sekitar 1.500 USD/ton pada Januari menjadi 2.000 USD/ton di Maret, atau naik lebih dari 33% dalam satu triwulan. Rata-rata harga pada Q1 2026 tercatat sekitar 1.693 USD/ton, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan indikasi kuat adanya tekanan struktural dalam sistem perikanan global.

Gambar 1. Perkembangan Harga Cakalang Beku di Bangkok Per Triwulan 1 (Sumber: ThaiUnion, 2026))

Seperti ditegaskan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), “pasar tuna global semakin mengetat ketika hasil tangkapan menurun di wilayah utama produksi” (FAO, 2024). Pernyataan ini relevan dengan kondisi awal 2026, di mana keterbatasan pasokan menjadi faktor dominan di balik kenaikan harga.

Sementara itu, jika melihat tren historis, harga Cakalang memang bersifat siklikal. Namun, kenaikan tajam dalam waktu singkat seperti Q1 2026 tergolong tidak lazim. Pada periode normal, kenaikan harga berlangsung bertahap mengikuti musim dan dinamika pasokan. Sebaliknya, pada 2026, harga melonjak drastis hanya dalam tiga bulan.

Fenomena ini mengindikasikan adanya shock dari sisi pasokan (supply shock). Dalam literatur ekonomi perikanan, kondisi ini terjadi ketika penurunan pasokan tidak diimbangi oleh penurunan permintaan, sehingga harga melonjak tajam (Anderson, 2003). Dalam konteks tuna global, permintaan relatif stabil, sehingga setiap gangguan pasokan langsung berdampak pada harga.

Baca juga: harga-cakalang-global-2025-stabilitas-dan-hilirisasi

Apa yang Terjadi di Balik Kenaikan Ini?

Beberapa faktor utama menjelaskan lonjakan harga ini. Pertama, penurunan hasil tangkapan di wilayah Western and Central Pacific Ocean (WCPO), yang merupakan pusat produksi tuna dunia. FAO mencatat bahwa penurunan tangkapan di wilayah ini telah menyebabkan pasar menjadi lebih ketat dan harga meningkat (FAO, 2024). Dengan kata lain, ikan yang tersedia di pasar global semakin terbatas.

Kedua, kebijakan pengelolaan perikanan seperti penutupan penggunaan Fish Aggregating Devices (FAD closure) turut mengurangi volume tangkapan. Menurut laporan pasar global, kebijakan ini secara langsung membatasi efisiensi penangkapan dan berkontribusi terhadap kenaikan harga (Mintec, 2023). FAD closure memang penting untuk keberlanjutan, tetapi dalam jangka pendek berdampak pada pasokan.

Ketiga, kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar. Biaya energi yang tinggi membuat banyak armada penangkapan mengurangi aktivitasnya. Dalam laporan industri, disebutkan bahwa “kenaikan harga bahan bakar terus mendorong harga tuna naik karena biaya operasi meningkat” (Undercurrent News, 2026). Ini memperkuat tekanan dari sisi pasokan.

Keempat, faktor musiman seperti Lunar New Year yang biasanya menurunkan aktivitas perdagangan. Namun menariknya, pada 2026 harga tetap naik meskipun permintaan sempat melambat. Ini menunjukkan bahwa faktor utama tetap berada pada sisi pasokan, bukan permintaan.

Dampak bagi Indonesia: Peluang atau Ancaman?

Sebagai salah satu produsen tuna terbesar dunia, Indonesia berada pada posisi yang unik. Di satu sisi, kenaikan harga global membuka peluang peningkatan pendapatan bagi nelayan. Namun di sisi lain, tidak semua pelaku perikanan menikmati manfaat tersebut.

Bagi nelayan kecil, kenaikan harga sering kali tidak langsung terasa. Hal ini disebabkan oleh panjangnya rantai distribusi dan ketergantungan pada perantara. Seperti dijelaskan dalam studi rantai nilai perikanan, nelayan kecil sering berada pada posisi tawar yang lemah sehingga tidak mendapatkan harga optimal (FAO, 2018).

Sementara itu, bagi industri pengolahan, kenaikan harga bahan baku justru menjadi tekanan besar. Ketika harga ikan naik, biaya produksi meningkat, sementara harga produk akhir tidak selalu bisa disesuaikan. Kondisi ini dikenal sebagai price squeeze, yang dapat mengurangi profitabilitas industri (Asche et al., 2015).

Berdasarkan catatan penulis, lonjakan harga cakalang bukan hal baru. Pada tahun 2012–2013, harga juga sempat mencapai lebih dari 2.000 USD/ton. Namun, ada perbedaan mendasar antara kondisi saat itu dan sekarang. Jika sebelumnya kenaikan harga lebih dipengaruhi oleh faktor alami seperti cuaca dan siklus stok ikan, kini faktor yang mempengaruhi jauh lebih kompleks.

Menurut World Bank, sektor perikanan global saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, kebijakan, dan lingkungan yang saling berinteraksi (World Bank, 2020).

Perubahan iklim, misalnya, mulai mempengaruhi distribusi ikan dan produktivitas laut. Sementara itu, kebijakan pengelolaan yang semakin ketat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan, tetapi juga berdampak pada produksi jangka pendek.

Risiko Ke Depan: Antara Harga Tinggi dan Overfishing

Harga tinggi sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia meningkatkan insentif ekonomi bagi nelayan. Namun di sisi lain, ia juga berpotensi mendorong overfishing.

Dalam teori ekonomi sumber daya, harga tinggi dapat meningkatkan upaya penangkapan (fishing effort), yang jika tidak dikendalikan akan mengancam keberlanjutan stok ikan (Clark, 2006). Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan menjadi sangat penting dalam situasi seperti ini.

Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam euforia harga tinggi. Tanpa pengelolaan yang baik, keuntungan jangka pendek dapat mengorbankan keberlanjutan jangka panjang.

Melihat dinamika ini, ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan. Pertama, memperkuat rantai pasok domestik, sehingga nelayan dapat memperoleh harga yang lebih adil. Kedua, meningkatkan efisiensi industri pengolahan, terutama dalam menghadapi kenaikan biaya bahan baku. Ketiga, mengembangkan produk bernilai tambah, agar tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Keempat, memperkuat sistem informasi harga, sehingga pelaku usaha memiliki akses terhadap data pasar secara real-time.

Langkah-langkah ini penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengikut harga global, tetapi juga memiliki daya tawar yang lebih kuat.

Dus, lonjakan harga cakalang pada Triwulan I 2026 adalah sinyal kuat bahwa pasar global sedang mengalami tekanan serius. Keterbatasan pasokan, kenaikan biaya operasional, dan kebijakan pengelolaan yang ketat telah menciptakan kondisi pasar yang tidak stabil.

Bagi Indonesia, ini adalah momen penting untuk berbenah. Apakah kita akan terus menjadi “price taker”, atau mulai mengambil peran lebih strategis dalam rantai nilai global?

Seperti diingatkan FAO, keberlanjutan dan efisiensi harus berjalan beriringan dalam pengelolaan perikanan modern (FAO, 2024). Tanpa itu, lonjakan harga hari ini bisa menjadi masalah besar di masa depan.

 

Daftar Pustaka

Anderson, L. G. (2003). The economics of fisheries management. Johns Hopkins University Press.

Asche, F., Bellemare, M. F., Roheim, C., Smith, M. D., & Tveterås, S. (2015). Fair enough? Food security and the international trade of seafood. World Development, 67, 151–160. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2014.10.013

Clark, C. W. (2006). Mathematical bioeconomics: The optimal management of renewable resources (2nd ed.). Wiley.

Food and Agriculture Organization. (2018). The state of world fisheries and aquaculture 2018. FAO.

Food and Agriculture Organization. (2024). Global tuna market tightens as catches decline. FAO Globefish.

Mintec. (2023). Thai skipjack tuna price rises ahead of FAD ban. Mintec Global.

Undercurrent News. (2026). Soaring fuel costs continue to push Bangkok skipjack tuna prices higher.

World Bank. (2020). The sunken billions revisited: Progress and challenges in global marine fisheries. World Bank.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!