
Sinopsis Jurnal
Oleh: Suhana
Setiap tanggal 6 April, diperingati sebagai Hari Nelayan. Namun di balik perayaan itu, tersimpan realitas yang jarang dibahas secara terbuka, yaitu menjadi nelayan merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia mencatat bahwa lebih dari 32.000 nelayan meninggal setiap tahun akibat kecelakaan kerja di laut (FAO, 2020). Angka ini diyakini jauh lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak tercatat, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Di Indonesia sendiri, isu keselamatan nelayan sering kali tenggelam di tengah narasi peningkatan produksi dan ekspor perikanan. Padahal, banyak kecelakaan laut justru terjadi pada kapal kecil, yang menjadi tulang punggung perikanan nasional, beberapa diantaranya disajikan dalam Tabel 1. Ironisnya, sebagian besar kebijakan masih berfokus pada aspek teknis kapal dan alat tangkap, sementara faktor manusia—yang sering menjadi penyebab utama kecelakaan—kurang mendapatkan perhatian serius.
Tabel 1. Kasus kecelakaan nelayan Indonesia berdasarkan laporan media online di Indonesia
| No | Lokasi Kejadian | Tanggal Kejadian | Penyebab Kecelakaan Laut | Kerugian | Sumber |
| 1 | Perairan Taliabu, Maluku Utara | 30–31 Maret 2026 | Cuaca buruk & gelombang tinggi merusak kapal | Kapal tenggelam, 21 orang terombang-ambing (selamat) | AP News / Okezone |
| 2 | Perairan Pulau Wasir, Aru (Maluku) | Feb 2026 | Diterjang gelombang tinggi | 7 ABK hilang, kapal tenggelam | Radar Surabaya |
| 3 | Perairan Flores Timur, NTT | 26 Jan 2026 | Cuaca buruk & gelombang tinggi | Kapal tenggelam, nelayan dievakuasi | Humas Polri |
| 4 | Perairan Indramayu, Jawa Barat | 16 Des 2025 | Ombak besar menghantam kapal | 10 ABK hilang dari 17 awak | Antara News |
| 5 | Laut Jawa (selatan Kalimantan) | 9–11 Des 2025 | Kerusakan kapal (hampir tenggelam) | Potensi kehilangan kapal & risiko awak, berhasil diselamatkan | KKP RI |
| 6 | Kepulauan Seribu, DKI Jakarta | 7–10 Okt 2025 | Cuaca buruk & angin kencang | 1 meninggal, beberapa hilang, kapal tenggelam | Detik News |
Sumber Link Berita:
- https://apnews.com/article/760d781164826cb5922a17178e2a2492
- https://radarsurabaya.jawapos.com/nasional/2602050013/diterjang-gelombang-tinggi-kapal-nelayan-tenggelam-di-aru-7-abk-hilang
- https://humas.polri.go.id/news/detail/2258694-respon-cepat-anggota-brimob-polda-ntt-kapal-nelayan-tenggelam-di-perairan-flores-timur-berhasil-dievakuasi
- https://jatim.antaranews.com/berita/1014478/tim-sar-cari-10-abk-kapal-nelayan-yang-hilang-di-perairan-indramayu
- https://kkp.go.id/news/news-detail/kkp-selamatkan-kapal-nelayan-nyaris-tenggelam-di-laut-jawa-qlj7.html
- https://news.detik.com/berita/d-8154011/kapal-nelayan-tenggelam-di-laut-kepulauan-seribu-7-orang-selamat-1-tewas
Seperti ditegaskan dalam berbagai studi keselamatan maritim, “human factors remain a dominant cause of maritime accidents” (Hetherington, Flin, & Mearns, 2006). Artinya, perilaku manusia di atas kapal, seperti kelelahan, kelengahan, atau kesalahan operasional, merupakan faktor kunci yang menentukan keselamatan.
Sebuah penelitian terbaru menghadirkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya memantau kapal, penelitian ini mencoba memahami perilaku nelayan secara langsung melalui teknologi wearable—perangkat yang dikenakan di tubuh seperti gelang pintar (Yang et al., 2026).
Penelitian tersebut mengembangkan sistem berbasis sensor gerak dan kecerdasan buatan untuk mengenali aktivitas nelayan secara real-time. Aktivitas yang dipantau meliputi mengemudi kapal, menarik jaring, menyortir ikan, hingga kondisi berisiko seperti mengantuk. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem ini mampu mencapai akurasi lebih dari 90% dalam mengenali perilaku nelayan (Yang et al., 2026).
Pendekatan ini penting karena, seperti dinyatakan dalam penelitian tersebut, “understanding crew behaviour can provide more valuable insights for preventing accidents” (Yang et al., 2026). Dengan kata lain, keselamatan tidak cukup hanya dilihat dari kondisi kapal, tetapi juga dari bagaimana manusia berperilaku selama operasi penangkapan ikan.
Teknologi ini menggunakan sensor accelerometer dan gyroscope yang dipasang di pergelangan tangan nelayan. Sensor ini merekam pola gerakan tubuh, yang kemudian dianalisis oleh model deep learning berbasis CNN dan GRU.
Salah satu temuan penting adalah bahwa kombinasi sensor (accelerometer + gyroscope) secara signifikan meningkatkan akurasi deteksi perilaku. Penggunaan sensor tunggal justru menurunkan akurasi hingga 28% (Yang et al., 2026). Ini menunjukkan bahwa perilaku manusia bersifat kompleks dan membutuhkan pendekatan multisensor untuk dipahami secara akurat.
Selain itu, sistem ini dirancang untuk bekerja secara ringan (lightweight) sehingga dapat digunakan langsung di kapal tanpa bergantung pada koneksi internet. Ini menjadi keunggulan penting, terutama untuk wilayah laut Indonesia yang masih memiliki keterbatasan infrastruktur komunikasi.

Relevansi bagi Nelayan Indonesia
Indonesia memiliki lebih dari 2,7 juta nelayan, sebagian besar adalah nelayan kecil yang beroperasi dengan kapal sederhana. Dalam konteks ini, risiko keselamatan menjadi sangat tinggi karena keterbatasan teknologi, minimnya pelatihan, dan tekanan ekonomi yang mendorong nelayan untuk tetap melaut meski dalam kondisi tidak ideal.
Kelelahan menjadi salah satu faktor risiko utama. Penelitian menunjukkan bahwa kelelahan dapat menurunkan kewaspadaan, memperlambat reaksi, dan meningkatkan kemungkinan kesalahan (Williamson et al., 2011). Dalam konteks nelayan, kondisi ini sering terjadi karena jam kerja yang panjang dan pola istirahat yang tidak teratur.
Teknologi wearable menawarkan solusi konkret untuk masalah ini. Dengan kemampuan mendeteksi kondisi mengantuk atau penurunan aktivitas, sistem dapat memberikan peringatan dini sebelum terjadi kecelakaan.
Lebih jauh lagi, teknologi ini dapat mengisi kekosongan sistem pemantauan pada kapal kecil. Selama ini, sistem seperti Vessel Monitoring System (VMS) lebih banyak digunakan pada kapal besar. Padahal, mayoritas kecelakaan justru terjadi pada kapal kecil yang tidak terpantau.
Dari Reaktif ke Preventif
Temuan Yang et al., (2026) membuka peluang besar untuk transformasi kebijakan keselamatan nelayan di Indonesia. Selama ini, pendekatan yang digunakan cenderung reaktif—misalnya melalui bantuan pascakecelakaan atau program asuransi nelayan.
Padahal, pendekatan preventif berbasis data jauh lebih efektif. Dengan teknologi wearable, pemerintah dapat mengumpulkan data perilaku nelayan secara agregat untuk mengidentifikasi pola kelelahan, menentukan batas kerja yang aman, menyusun pelatihan berbasis risiko nyata, dan mengembangkan sistem peringatan dini
Seperti dikemukakan oleh Reason (1997), kecelakaan bukanlah peristiwa tunggal, melainkan hasil dari akumulasi kesalahan kecil yang tidak terdeteksi. Dalam konteks ini, teknologi pemantauan perilaku dapat berfungsi sebagai alat untuk mendeteksi “kesalahan kecil” sebelum berkembang menjadi kecelakaan besar.
Meskipun potensinya besar, implementasi teknologi ini tidaklah sederhana. Pertama, aspek biaya. Meski perangkat wearable relatif terjangkau, distribusi dalam skala nasional membutuhkan investasi yang signifikan. Namun, jika dibandingkan dengan kerugian akibat kecelakaan, investasi ini justru dapat menghemat biaya dalam jangka panjang.
Kedua, aspek sosial dan budaya. Nelayan mungkin merasa diawasi atau tidak nyaman dengan penggunaan teknologi ini. Oleh karena itu, pendekatan partisipatif sangat penting, dengan menekankan bahwa teknologi ini bertujuan untuk melindungi, bukan mengontrol.
Ketiga, integrasi kebijakan. Teknologi ini perlu dihubungkan dengan program yang sudah ada, seperti asuransi nelayan, bantuan alat tangkap, dan sistem informasi cuaca. Tanpa integrasi, teknologi hanya akan menjadi proyek terpisah yang sulit berkelanjutan.
Baca juga: kerentanan-pesisir-indonesia-perspektif-global-dan-adaptasi
Menuju Keselamatan Nelayan Berbasis Teknologi
Teknologi wearable berbasis kecerdasan buatan menawarkan paradigma baru dalam keselamatan nelayan (Yang et al., 2026). Ia menggeser fokus dari kapal ke manusia, dari reaktif ke preventif, dan dari pendekatan umum ke berbasis data.
Dalam konteks Indonesia, ini adalah peluang besar untuk melakukan lompatan inovasi. Dengan wilayah laut yang luas dan jumlah nelayan yang besar, pendekatan konvensional tidak lagi memadai. Diperlukan solusi yang sederhana, terjangkau, dan langsung menyentuh nelayan.
Bayangkan jika setiap nelayan memiliki perangkat kecil di pergelangan tangannya yang mampu “membaca” kondisi tubuh dan aktivitasnya. Ketika kelelahan terdeteksi, sistem memberi peringatan. Ketika risiko meningkat, tindakan dapat segera diambil. Ini bukan sekadar teknologi, tetapi investasi untuk keselamatan dan keberlanjutan sektor perikanan.
Dus, keselamatan nelayan adalah fondasi dari ketahanan pangan laut Indonesia. Tanpa nelayan yang aman, tidak akan ada perikanan yang berkelanjutan. Teknologi seperti wearable dan kecerdasan buatan bukanlah solusi tunggal, tetapi merupakan langkah penting menuju sistem keselamatan yang lebih cerdas dan manusiawi. Seperti yang ditunjukkan dalam penelitian ini, memahami perilaku manusia adalah kunci untuk mencegah kecelakaan di laut (Yang et al., 2026). Kini, tantangannya adalah bagaimana menjadikan inovasi ini tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar hadir di atas kapal-kapal nelayan Indonesia.
Referensi
- Food and Agriculture Organization. (2020). The State of World Fisheries and Aquaculture 2020. FAO.
- Hetherington, C., Flin, R., & Mearns, K. (2006). Safety in shipping: The human element. Journal of Safety Research, 37(4), 401–411.
- Reason, J. (1997). Managing the risks of organizational accidents. Ashgate Publishing.
- Williamson, A., Lombardi, D. A., Folkard, S., Stutts, J., Courtney, T. K., & Connor, J. L. (2011). The link between fatigue and safety. Accident Analysis & Prevention, 43(2), 498–515.
- Yang, C., Chen, D., Man, J., Yan, X., & Soares, C. G. (2026). Deep learning-based fishermen’s behaviour recognition with wearable devices to enhance maritime safety. Sensors and Actuators A: Physical, 398, 117351.
