
Oleh: Suhana
Kenaikan Nilai Tukar Nelayan (NTN) sering kali dijadikan indikator utama bahwa kesejahteraan nelayan membaik. Namun, apakah benar demikian? Data Triwulan I tahun 2026 justru menunjukkan sebuah paradoks, yaitu di satu sisi NTN meningkat, tetapi di sisi lain terdapat sinyal-sinyal kerentanan struktural yang tidak bisa diabaikan. Jika tidak dibaca secara kritis, kenaikan ini bisa menyesatkan arah kebijakan.
Secara agregat, Indeks Harga yang Diterima Nelayan (IT) mengalami kenaikan dari 132,37 pada Januari menjadi 134,57 pada Maret 2026, atau tumbuh sekitar 1,66 persen. Di saat yang sama, Indeks Harga yang Dibayar Nelayan (IB) juga naik, namun lebih lambat, dari 122,60 menjadi 123,40 atau sekitar 0,65 persen. Selisih pertumbuhan ini menghasilkan kenaikan NTN dari 107,96 menjadi 109,05. Secara matematis, ini berarti daya beli nelayan meningkat, karena harga hasil tangkapan mereka naik lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.
Tabel 1. Indeks Harga yang Diterima Petani (IT), Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB), dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) Triwulan 1 2026
| Komponen | Januari | Februari | Maret |
| 1. INDEKS HARGA YANG DITERIMA PETANI | 132.37 | 133.3 | 134.57 |
| 1.1. Penangkapan Perairan Umum | 123.85 | 123.73 | 124.5 |
| 1.2. Penangkapan Laut | 132.56 | 133.54 | 134.79 |
| 2. INDEKS HARGA YANG DIBAYAR PETANI | 122.6 | 123.03 | 123.4 |
| 2.1. Konsumsi Rumah Tangga | 127.46 | 128.25 | 128.77 |
| 2.1.1. Makanan, Minuman Dan Tembakau | 132.88 | 134.05 | 134.65 |
| 2.1.2. Pakaian Dan Alas Kaki | 123.37 | 123.6 | 124.71 |
| 2.1.3. Perumahan, Air, Listrik Dan Bahan Bakar Rumah Tangga | 110.99 | 111.1 | 111.36 |
| 2.1.4. Perlengkapan, Peralatan Dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga | 120.18 | 120.3 | 120.45 |
| 2.1.5. Kesehatan | 119.08 | 119.27 | 119.36 |
| 2.1.6. Transportasi | 121.55 | 121.24 | 121.79 |
| 2.1.7. Informasi, Komunikasi, Dan Jasa Keuangan | 102.94 | 102.97 | 102.99 |
| 2.1.8. Rekreasi, Olahraga, Dan Budaya | 117.65 | 117.76 | 117.85 |
| 2.1.9. Pendidikan | 104.98 | 104.99 | 104.99 |
| 2.1.10. Penyediaan Makanan Dan Minuman/Restoran | 116.77 | 116.9 | 117.02 |
| 2.1.11. Perawatan Pribadi Dan Jasa Lainnya | 130.56 | 131.92 | 132.37 |
| 2.2. Indeks BPPBM (Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal ) | 117.19 | 117.28 | 117.5 |
| 2.2.1. Sewa Dan Pengeluaran Lainnya | 114.71 | 114.9 | 115 |
| 2.2.2. Transportasi Dan Komunikasi | 121.79 | 121.66 | 122.11 |
| 2.2.3. Barang Modal | 112.45 | 112.61 | 112.62 |
| 2.2.4. Upah Buruh | 114.44 | 114.83 | 115.11 |
| 3. NILAI TUKAR NELAYAN | 107.96 | 108.34 | 109.05 |
| 4. NILAI TUKAR USAHA NELAYAN | 112.95 | 113.66 | 114.53 |
Sumber: BPS, 2026
Namun, membaca angka NTN tanpa melihat struktur pembentuknya ibarat melihat permukaan laut tanpa memahami arus di bawahnya. Kenaikan NTN memang nyata, tetapi sumber kenaikannya perlu dikritisi. Apakah berasal dari peningkatan produktivitas, efisiensi usaha, atau sekadar efek harga pasar yang fluktuatif?
Baca juga: ntn-2025-benarkah-kesejahteraan-nelayan-kita-mulai-membaik
Jika ditelusuri lebih dalam, kenaikan IT terutama didorong oleh subsektor penangkapan laut. Indeks pada subsektor ini meningkat dari 132,56 pada Januari menjadi 134,79 pada Maret. Sebaliknya, penangkapan perairan umum hanya naik tipis dari 123,85 menjadi 124,5. Ini menunjukkan bahwa nelayan laut memperoleh manfaat lebih besar dibandingkan nelayan di perairan darat. Dengan kata lain, ada ketimpangan yang mulai terlihat dalam struktur perikanan kita.
Kenaikan harga hasil tangkapan laut ini besar kemungkinan dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti permintaan pasar atau dinamika harga global komoditas perikanan. Artinya, peningkatan pendapatan nelayan belum tentu berasal dari peningkatan produktivitas atau efisiensi. Ini penting dicatat, karena jika harga global turun, maka IT berpotensi ikut terkoreksi, dan NTN bisa kembali melemah.
Di sisi lain, tekanan terhadap nelayan justru datang dari komponen yang sering kali luput dari perhatian, yaitu konsumsi rumah tangga. Indeks konsumsi rumah tangga naik dari 127,46 menjadi 128,77 selama triwulan pertama. Pendorong utamanya adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang melonjak dari 132,88 menjadi 134,65. Selain itu, perawatan pribadi dan jasa lainnya juga meningkat cukup signifikan dari 130,56 menjadi 132,37.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa inflasi yang dirasakan nelayan tidak hanya berasal dari biaya produksi, tetapi juga dari kebutuhan sehari-hari. Bahkan, jika dilihat lebih kritis, tekanan dari konsumsi rumah tangga lebih kuat dibandingkan kenaikan biaya produksi. Ini menjadi sinyal bahwa kesejahteraan riil nelayan bisa saja tidak sebaik yang ditunjukkan oleh NTN.
Menariknya, komponen biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) relatif stabil, hanya naik dari 117,19 menjadi 117,5. Kenaikan kecil ini menunjukkan bahwa biaya operasional usaha perikanan masih terkendali. Beberapa komponen seperti upah buruh memang naik dari 114,44 menjadi 115,11, namun tidak cukup besar untuk menekan margin usaha secara signifikan. Transportasi dan komunikasi juga relatif stabil, meskipun sempat mengalami sedikit fluktuasi.
Stabilnya biaya produksi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa NTN tetap meningkat. Namun, kondisi ini juga bisa menjadi pedang bermata dua. Jika di masa depan terjadi kenaikan tajam pada biaya input—seperti bahan bakar, logistik, atau upah—maka NTN bisa dengan cepat tertekan.
Selain NTN, indikator lain yang tidak kalah penting adalah Nilai Tukar Usaha Nelayan (NTUN). Pada Triwulan I 2026, NTUN meningkat dari 112,95 menjadi 114,53. Angka ini lebih tinggi dibandingkan NTN, yang berarti usaha perikanan secara umum masih memberikan keuntungan yang cukup baik. Ini adalah sinyal positif bahwa secara bisnis, sektor perikanan tangkap masih layak dan menarik.
Namun, sekali lagi, pertanyaannya adalah seberapa berkelanjutan kondisi ini? Jika keuntungan usaha hanya bergantung pada harga jual yang tinggi, tanpa diimbangi peningkatan efisiensi dan produktivitas, maka fondasi ekonomi nelayan menjadi rapuh. Sedikit saja terjadi gangguan pasar, maka keuntungan tersebut bisa langsung tergerus.
Di sinilah letak persoalan struktural yang sering diabaikan dalam kebijakan perikanan. Selama ini, banyak indikator kesejahteraan nelayan masih berbasis harga (price-based), bukan berbasis produktivitas (productivity-based). Akibatnya, ketika harga naik, kesejahteraan terlihat membaik. Namun ketika harga turun, kondisi nelayan langsung memburuk.
Lebih jauh lagi, adanya kesenjangan antara nelayan laut dan nelayan perairan umum menunjukkan bahwa pembangunan sektor perikanan belum inklusif. Nelayan di wilayah tertentu mendapatkan manfaat lebih besar, sementara yang lain tertinggal. Jika tidak diintervensi, ketimpangan ini bisa semakin melebar.
Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah perlu lebih tajam dan berbasis pada akar masalah. Dalam jangka pendek, stabilisasi harga pangan menjadi sangat penting, mengingat tekanan terbesar justru datang dari konsumsi rumah tangga. Intervensi seperti subsidi atau pengendalian harga bisa membantu menjaga daya beli nelayan.
Dalam jangka menengah, efisiensi rantai pasok perikanan harus menjadi prioritas. Banyak nelayan masih menghadapi biaya distribusi yang tinggi akibat infrastruktur yang terbatas. Penguatan cold storage, akses pasar, dan sistem logistik dapat membantu meningkatkan nilai tambah yang diterima nelayan.
Sementara itu, dalam jangka panjang, transformasi struktural menjadi keniscayaan. Sektor perikanan harus bergerak dari ketergantungan pada harga menuju peningkatan produktivitas. Ini bisa dilakukan melalui inovasi teknologi, peningkatan kapasitas nelayan, serta diversifikasi usaha. Nelayan tidak boleh hanya bergantung pada hasil tangkapan, tetapi juga perlu didorong untuk masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi, seperti pengolahan dan pemasaran.
Selain itu, penguatan data dan sistem monitoring juga menjadi kunci. NTN tidak boleh menjadi satu-satunya indikator kesejahteraan. Perlu ada indikator tambahan yang mampu menangkap kondisi riil di lapangan, termasuk aspek sosial dan ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan.
Dus, data Triwulan I 2026 memberikan pelajaran penting, yaitu kenaikan NTN memang kabar baik, tetapi bukan alasan untuk berpuas diri. Di balik angka yang terlihat positif, terdapat kerentanan yang bisa sewaktu-waktu muncul ke permukaan. Tanpa pembenahan struktural, kenaikan ini berpotensi menjadi semu. Kesejahteraan nelayan tidak boleh hanya bergantung pada naik turunnya harga. Ia harus dibangun di atas fondasi yang kuat, yaitu produktivitas, efisiensi, dan keadilan distribusi. Jika tidak, maka setiap kenaikan NTN hanya akan menjadi ilusi sementara—sebuah angka yang terlihat menjanjikan, tetapi rapuh ketika diuji oleh realitas ekonomi.
Dengan demikian, tantangan ke depan bukan sekadar menjaga agar NTN tetap tinggi, tetapi memastikan bahwa kenaikan tersebut benar-benar mencerminkan perbaikan kesejahteraan yang berkelanjutan. Dan untuk itu, dibutuhkan keberanian untuk melihat lebih dalam, melampaui angka, dan menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya.
