
Oleh : Suhana
Laporan EUMOFA No. 9/2025 mengungkap sebuah paradoks dalam pasar perikanan dan akuakultur Eropa, dimana nilai ekonomi meningkat, tetapi hal ini dibayangi oleh merosotnya volume produksi domestik dan ketergantungan impor yang semakin dalam. Di balik statistik yang tampak stabil, tersembunyi cerita tentang sektor yang sedang beradaptasi—atau mungkin terjepit—oleh tekanan inflasi, perubahan ekosistem, dan realitas geopolitik perdagangan global.
Laporan EUMOFA ini adalah sebuah gambaran tentang sektor yang sedang menua dan terjepit. Eropa berhasil mempertahankan nilai ekonominya dengan membuat konsumen membayar lebih mahal, tetapi gagal menjaga volume produksi domestik. Masa depan pasokan bergantung pada negara-negara seperti Norwegia dan Inggris (pasca-Brexit), serta pada pemain global seperti Thailand untuk produk olahan. Kebijakan bersama harus bergeser dari sekadar memastikan keberlanjutan stok ikan, kepada sebuah strategi industri yang jelas untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan maritim Eropa.

Illusi Pertumbuhan: Nilai Naik, Volume Turun
Nilai penjualan pertama Eropa yang naik 4% (menjadi €2,36 miliar) bukanlah indikator kesehatan sektor yang sebenarnya. Ini adalah sebuah illusi yang digerakkan oleh inflasi. Kenyataannya, volume penjualan justru merosot 5%. Konsumen membayar lebih untuk dapat lebih sedikit. Tren ini paling mencolok pada komoditas bernilai tinggi seperti salmonid, yang anjlok 38% baik dalam nilai maupun volume, mencerminkan kerentanan produksi domestik terhadap faktor biologis dan persaingan.
Sementara itu, penurunan volume yang dramatis di negara-negara seperti Jerman (-79% volume) mengisyaratkan guncangan yang lebih dalam, mungkin terkait kuota, perubahan stok ikan, atau biaya operasional yang tidak lagi tertahankan bagi nelayan skala kecil. Kenaikan di negara seperti Irlandia dan Finlandia, yang didorong oleh ikan pelagis kecil (seperti herring dan mackerel), lebih mencerminkan fluktuasi musiman dan siklus stok daripada kekuatan pasar yang berkelanjutan.
Ketergantungan pada Impor: Eropa yang Semakin “Net-Importer”
Cerita yang paling mengkhawatirkan terletak pada data impor. Kenaikan 13% volume impor dari luar UE—dua kali lipat dari kenaikan nilainya (8%)—menegaskan sebuah tren strategis bahwa UE semakin bergantung pada pasokan luar untuk memenuhi permintaan dalam negerinya.
Fokus pada salmon adalah contoh sempurna dari ketergantungan ini. Meskipun volumenya naik 12%, nilainya justru turun 7%. Ini menunjukkan banjirnya produk impor yang membanjiri pasar dan menekan harga. Norwegia, dengan 79% pangsa pasokan, memegang kendali atas pasar salmon Eropa. Fakta bahwa Swedia, gerbang masuk utama, hampir sepenuhnya (hampir 100%) bergantung pada salmon Norwegia, adalah posisi yang berisiko secara strategis. Eropa membeli lebih banyak, tetapi dengan harga yang lebih murah, yang menguntungkan konsumen dalam jangka pendek namun mengikis kedaulatan pangan maritimnya dalam jangka panjang.
Konsumen yang Terjepit: Daya Beli Melemah
Data konsumsi rumah tangga melukiskan gambaran yang suram tentang daya beli. Kenaikan konsumsi di Jerman dan Irlandia adalah pengecualian, sementara Prancis dan Hungaria mengalami penurunan dua digit dalam volume yang dibeli. Ini adalah sinyal jelas bahwa tekanan inflasi hidup sehari-hari membuat protein hewani yang sehat ini semakin tidak terjangkau bagi sebagian rumah tangga. Pola konsumsi salmon yang musiman—melonjak saat hari raya—menunjukkan bahwa produk ini telah menjadi barang “mewah” yang dikonsumsi pada momen-momen tertentu, bukan barang pokok sehari-hari.
Sorotan Global: Komitmen di Atas Kertas vs. Realitas Lapangan
Laporan ini dengan bangga mencatat pencapaian global seperti perjanjian WTO tentang subsidi perikanan dan BBNJ. Namun, terdapat kesenjangan yang lebar antara retorika politik di Brussels dengan realitas di lautan. Sementara UE menyerukan penghentian penangkapan ikan IUU, studi kasus Thailand mengungkap bagaimana “kartu kuning” UE sebelumnya justru memaksa reformasi kebijakan yang drastis. Ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi adalah alat yang jauh lebih efektif daripada perjanjian multilateral. Apakah komitmen baru ini akan diterjemahkan menjadi penegakan hukum yang nyata di perairan global, atau hanya akan menjadi arsip yang bagus, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Studi Kasus: Dua Wajah Keterbukaan Pasar
Thailand: Sang Pengolah. Thailand adalah cerminan dari bagaimana sebuah negara dapat memanfaatkan globalisasi. Mereka mengimpor bahan baku dalam jumlah besar (seperti tuna) dan mengekspor produk olahan bernilai tambah. Industri pengolahan mereka yang tangguh, yang menjadi tulang punggung ekspor, justru bergantung pada impor bahan mentah. Eropa, dalam hubungan ini, berperan sebagai pembeli produk olahan, sementara Thailand menguasai rantai nilai.
Portugal: Korban Selera Lokalnya Sendiri. Portugal adalah contoh tragis dari ketergantungan. Sebagai konsumen ikan tertinggi di UE, mereka harus mengimpor 100% kod (bacalhau) yang menjadi jiwa kuliner nasional mereka. Mereka mengekspor sarden segar dan kerang, tetapi harus mengimpor kembali dalam bentuk kalengan atau produk olahan lainnya. Ini adalah paradoks yang menyakitkan: sebuah bangsa dengan warisan maritim yang kaya justru tidak memiliki kedaulatan atas produk ikoniknya sendiri.

Strateg bagi Eksportir Indonesia ke Pasar Eropa
Berdasarkan analisis tren Eropa di atas, peluang bagi Indonesia tidak terletak pada bersaing di pasar komoditas mentah yang sudah jenuh, melainkan pada penguasaan ceruk (niche) dan rantai nilai. Berikut adalah rekomendasi untuk para eksportir Indonesia:
Pertama, hindari jebakan komoditas, kuasai rantai nilai. Eropa sudah kebanjiran ikan mentah dan beku dari Norwegia, China, dan lainnya. Jangan terjebak dalam persaingan harga untuk komoditas seperti tuna segar/frozen atau udang mentah dalam volume besar. Pelajaran dari Thailand harus dijadikan acuan, yaitu eksporlah produk yang sudah “separuh jadi” atau “siap olah” untuk menangkap nilai tambah yang lebih tinggi.
Contohnya alih-alih mengekspor tuna utuh beku, eksporlah tuna loin (fillet tanpa tulang dan kulit) yang dibekukan, steak tuna siap marinasi, atau bahkan tuna precooked. Untuk udang, tingkatkan ekspor udang dengan nilai tambah (value-added) seperti udang kupas dan bersih (PUD), udang dengan ekor (PTO), atau udang dalam kemasan siap masak.
Kedua, bidik celah komoditas yang diimpor Eropa dalam volume besar. Analisis laporan menunjukkan Eropa masih sangat bergantung pada impor untuk komoditas tertentu. Indonesia memiliki potensi untuk beberapa di antaranya:
- Cephalopoda (Cumi & Gurita):Italia adalah importir gurita dan cumi terbesar. Ekspor gurita dan cumi dengan kualitas super (ukuran seragam, penanganan prima) dan dalam bentuk olahan (seperti tubes and tentacles yang sudah dibersihkan) dapat langsung menargetkan pasar ritel dan HORECA Italia.
- Ikan Tuna Kaleng & Olahan: Finlandia, Jerman, dan Denmark adalah importir utama tuna skipjack kaleng. Indonesia sebagai produsen tuna terbesar di dunia harus memperkuat industri pengalengan dalam negeri untuk mengekspor produk jadi, bukan hanya bahan baku mentah. Patuhi standar sustainability (seperti MSC) dan ketelusuran (traceability) yang menjadi perhatian konsumen Eropa.
- Bivalvia (Kerang):Dengan nilai impor bivalvia Eropa yang naik 17%, ini adalah peluang emas. Fokus pada kerang-kerangan bernilai tinggi seperti kerang darah (blood cockle) atau scallop dengan sertifikasi kebersihan dan keamanan pangan (seperti sistem AUV) yang ketat.
Ketiga, manfaatkan keunggulan niche dan keberlanjutan. Eropa adalah pasar yang sangat sensitif terhadap isu lingkungan dan sosial. Bersertifikat & Terlacak, Investasi dalam sertifikasi keberlanjutan (MSC, ASC) dan sertifikasi sosial bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk masuk ke pasar mainstream Eropa. Ceritakan story di balik produk: dari nelayan tradisional yang melestarikan ekosistem, hingga program pemberdayaan masyarakat pesisir.
Eksplorasi Spesies Alternatif (Underutilized Species). Daripada hanya fokus pada spesies populer, identifikasi spesies lokal Indonesia yang unik dan berkelanjutan (seperti Barramundi/Kakap Putih hasil budidaya, Cakalang, atau ikan pelagis kecil lainnya). Edukasi pasar Eropa tentang keunggulan dan kelezatan spesies ini melalui promosi yang gencar.
Keempat, pelajari pola konsumsi dan kemasan yang tepat. Sesuaikan dengan Tren “Convenience”, konsumen Eropa, terutama di negara-negara Utara, sangat menyukai produk yang praktis. Kembangkan kemasan yang user-friendly, porsi tunggal (single-serving), dan produk “ready-to-cook” atau “ready-to-heat” dengan bumbu yang sudah disesuaikan dengan selera Eropa (Mediterania, herbs, dll). Targetkan Musim dan Hari Raya, seperti pola konsumsi salmon yang melonjak saat Natal, siapkan kampanye dan stok ekspor untuk momen-momen spesifik seperti itu.
Kelima, jangan hanya jual produk, tapi juga “Trust” (Kepercayaan). Pasar Eropa sangat ketat dengan regulasi. Konsistensi kualitas, ketepatan pengiriman, dan kemampuan memenuhi standar keamanan pangan EU yang kompleks adalah kunci. Bangun hubungan kemitraan jangka panjang dengan importir, bukan sekadar hubungan transaksional. Undang mereka untuk melihat langsung proses produksi di Indonesia untuk membangun kepercayaan.
Dus, pasar Eropa tidak membutuhkan lebih banyak pemasok ikan mentah. Mereka membutuhkan mitra yang cerdas yang dapat menyediakan produk bernilai tambah, berkelanjutan, dan andal. Indonesia memiliki semua bahan baku dan potensi untuk menjadi pemain utama, bukan hanya sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi sebagai penguasa rantai nilai di pasar Eropa. Strateginya harus bergeser dari “menjual volume” menjadi “menjual nilai, kualitas, dan kepercayaan.”
