
Oleh : Suhana
Kondisi Juli 2025: Harga Naik, NTN Tidak Bergerak
Daya beli nelayan pada bulan Juli melemah dibandingkan bulan sebelumnya, hal ini terlihat dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) bulan Juli 2025 sedikit melemah ke 103,31 (dari 103,42 pada Juni), menunjukkan daya beli nelayan tidak meningkat seiring kenaikan harga yang diterima. Indeks Harga yang Diterima Nelayan (IT) pada Juli 2025 mencapai 125,90, naik tipis dibanding Juni (125,36). Kenaikan ini didorong oleh subsektor penangkapan laut, yang meningkat dari 125,58 menjadi 126,17, sementara penangkapan perairan umum stagnan di 120,15.
Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB) juga meningkat menjadi 121,87 dari 121,21 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan pada komponen konsumsi rumah tangga, dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik dari 130,67 menjadi 132,04. Selain itu, biaya perumahan, air, listrik, dan bahan bakar tetap berada pada level tinggi di angka 110,8, sementara pengeluaran untuk perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami peningkatan dari 125,23 menjadi 125,52. Kenaikan pada komponen-komponen tersebut menunjukkan bahwa inflasi konsumsi masih menjadi tekanan utama terhadap daya beli nelayan pada Juli 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (IT) terhambat oleh inflasi konsumsi, di mana meskipun harga jual ikan meningkat, lonjakan harga bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga justru menggerus tambahan pendapatan nelayan. Selain itu, biaya produksi tetap tinggi dengan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) yang naik sedikit menjadi 116,59, mencerminkan beban tetap seperti biaya BBM dan perawatan kapal yang belum berkurang.
Di sisi lain, sektor penangkapan perairan umum mengalami stagnasi karena harga tangkapan tidak bergerak, sehingga nelayan sungai dan danau tidak ikut merasakan kenaikan IT yang terjadi di sektor laut. Kondisi ini semakin diperparah oleh Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang meski masih berada di atas 100 dan secara teoritis menunjukkan daya beli surplus, namun melemahnya dibanding bulan sebelumnya menjadi sinyal bahwa tekanan biaya hidup semakin kuat dan mengurangi kesejahteraan nelayan secara nyata.
Jika pola Juli berlanjut, nelayan berisiko mengalami “pendapatan semu”—pendapatan naik di atas kertas tetapi terkikis oleh inflasi konsumsi. Kenaikan harga ikan tidak otomatis memperbaiki kesejahteraan jika beban pengeluaran rumah tangga dan biaya produksi tetap tinggi.
Rekomendasi Strategis
Oleh sebab itu guna meningkatkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) di bulan berikutnya ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan, yaitu pertama, pengendalian inflasi konsumsi di wilayah pesisir melalui operasi pasar bahan pokok di sentra nelayan untuk menekan harga pangan serta pemberian subsidi tarif listrik rumah tangga pesisir agar komponen perumahan tidak menekan IB.
Kedua, efisiensi biaya produksi dengan memperluas distribusi BBM solar nelayan bersubsidi untuk mengurangi beban BPPBM dan mempercepat program konversi ke mesin kapal hemat energi.
Ketiga, diversifikasi pasar dan produk perikanan dengan mendorong nelayan memanfaatkan jalur pemasaran langsung baik online maupun offline ke konsumen dan restoran, serta memberikan pelatihan pengolahan ikan bernilai tambah untuk menjaga harga tetap stabil meski pasokan melimpah.
Keempat, pemberian insentif kepada nelayan perairan umum melalui bantuan modal produktif seperti jaring dan perahu kecil guna meningkatkan volume tangkapan dan daya saing harga di sektor perairan darat.
Dus, kondisi bulan Juli 2025 memperlihatkan paradoks kenaikan harga tanpa peningkatan nyata pada daya beli nelayan. Kondisi ini menuntut kebijakan yang lebih agresif, yaitu menekan inflasi konsumsi, memperbaiki efisiensi biaya operasional, dan memperluas akses pasar langsung. Tanpa langkah konkret, nelayan hanya akan menikmati kenaikan harga sesaat tanpa perbaikan kesejahteraan jangka panjang.
