Oleh: Suhana

 

Tilapia atau ikan nila selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas akuakultur paling sukses di dunia. Ikan ini dibudidayakan di berbagai negara karena pertumbuhannya cepat, teknologi budidayanya relatif mudah, dan permintaannya cukup luas. Namun, laporan terbaru Chinese Fish Price Report Issue 1/2026 yang diterbitkan oleh FAO-GLOBEFISH menunjukkan bahwa industri tilapia sedang menghadapi tantangan serius. Harga tilapia di Tiongkok mengalami penurunan tajam dan mencapai titik terendah baru pada akhir tahun 2025. Fenomena ini bukan hanya penting bagi Tiongkok sebagai produsen besar dunia, tetapi juga menjadi peringatan sekaligus pelajaran bagi Indonesia yang juga merupakan salah satu produsen utama tilapia global.

Laporan tersebut mencatat bahwa sepanjang Oktober hingga Desember 2025 harga tilapia ukuran 0,3–0,5 kilogram per ekor di Provinsi Guangdong terus mengalami penurunan. Pada Oktober 2025, harga turun hingga 43,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada November terjadi sedikit pemulihan sebesar 4,3 persen dibanding bulan sebelumnya, tetapi harga masih lebih rendah 34,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Kondisi kembali memburuk pada Desember ketika harga turun lagi sebesar 6,3 persen dibanding November dan 40,8 persen dibanding Desember 2024 (FAO-GLOBEFISH & CAPPMA, 2026).

Gambar 1. Perkembangan Harga Tilapia China (Sumber: FAO-GLOBEFISH , 2026. Chinese Fish Price Report Issue 1/2026)

Sekilas, kondisi ini tampak sebagai persoalan biasa dalam siklus pasar perikanan. Namun jika dicermati lebih dalam, penurunan harga yang mencapai lebih dari 40 persen menunjukkan adanya persoalan struktural yang lebih serius. Laporan menyebutkan beberapa faktor penyebab, yaitu masuknya panen baru ke pasar, dampak kebijakan tarif perdagangan, sikap hati-hati industri pengolahan dalam melakukan pembelian, lemahnya konsumsi domestik, serta menurunnya permintaan dari pasar ekspor utama (FAO-GLOBEFISH & CAPPMA, 2026).

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi kemampuan memproduksi ikan, melainkan kemampuan pasar menyerap hasil produksi tersebut. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak negara berlomba meningkatkan produksi akuakultur untuk memenuhi kebutuhan protein dunia. Namun ketika produksi tumbuh lebih cepat dibanding pertumbuhan konsumsi, maka harga akan tertekan. Situasi seperti inilah yang kini tampaknya sedang terjadi pada tilapia Tiongkok.

Laporan tersebut juga mengindikasikan adanya dampak perang dagang dan hambatan tarif terhadap perdagangan tilapia. Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat menjadi salah satu pasar utama produk tilapia Tiongkok. Namun meningkatnya tensi perdagangan menyebabkan produk tilapia menghadapi tekanan tarif dan penurunan daya saing. Ketika ekspor melemah, sebagian produk yang semula ditujukan ke pasar internasional akhirnya kembali masuk ke pasar domestik sehingga memperbesar pasokan dan menekan harga lebih jauh.

Kondisi ini mengingatkan bahwa ketergantungan pada satu atau dua pasar utama merupakan risiko besar bagi industri perikanan. Ketika terjadi perubahan kebijakan perdagangan, perlambatan ekonomi, atau perubahan preferensi konsumen di negara tujuan, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh pembudidaya di tingkat produksi.

Masalah lain yang terlihat dari laporan tersebut adalah masih rendahnya nilai tambah produk tilapia. Ketika harga ikan segar turun, industri yang memiliki diversifikasi produk umumnya masih dapat bertahan melalui produk olahan bernilai tinggi. Sebaliknya, jika pasar hanya bergantung pada ikan segar atau fillet standar, maka seluruh tekanan harga akan langsung dirasakan oleh pembudidaya. Dalam laporan yang sama, industri lobster air tawar (crayfish) Tiongkok justru menunjukkan perkembangan positif karena semakin banyak perusahaan yang beralih ke produk bernilai tambah seperti produk siap saji, produk berbumbu, dan makanan ringan berbasis hasil perikanan. Produk-produk tersebut menjadi sumber keuntungan baru ketika pasar produk konvensional melambat (FAO-GLOBEFISH & CAPPMA, 2026).

Pelajaran bagi Indonesia

Selama beberapa tahun terakhir, produksi tilapia Indonesia terus meningkat dan menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor perikanan budidaya. Berdasarkan data perdagangan Indonesia, nilai ekspor tilapia mencapai sekitar USD 93,5 juta pada tahun 2024, lebih tinggi dibandingkan sekitar USD 77,2 juta pada tahun 2012. Namun demikian, sebagian besar ekspor masih berbentuk produk primer dengan tingkat nilai tambah yang relatif terbatas. Kondisi ini membuat Indonesia berpotensi menghadapi tantangan serupa apabila pasar global mengalami perlambatan atau terjadi perubahan kebijakan perdagangan di negara tujuan.

Di sisi lain, situasi yang sedang terjadi di Tiongkok juga membuka peluang bagi Indonesia. Ketika daya saing produk Tiongkok melemah akibat hambatan perdagangan, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pemasok alternatif bagi pasar internasional. Peluang tersebut terutama terbuka di Amerika Serikat, Timur Tengah, dan beberapa negara Eropa yang terus membutuhkan pasokan ikan putih (white fish) dengan harga terjangkau.

Namun untuk memanfaatkan peluang tersebut, Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Strategi yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas dan nilai tambah. Produk tilapia Indonesia perlu didorong menuju segmen premium melalui penerapan sistem ketertelusuran (traceability), sertifikasi keberlanjutan, sertifikasi keamanan pangan, serta pengembangan produk siap masak dan siap konsumsi. Dengan demikian, nilai produk tidak hanya bergantung pada harga ikan segar di pasar internasional.

Selain itu, penguatan pasar domestik juga menjadi faktor penting. Pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa ketika ekspor melemah, pasar dalam negeri belum mampu menyerap kelebihan produksi secara optimal. Indonesia perlu mengembangkan kampanye konsumsi ikan yang lebih efektif, memperluas distribusi produk olahan, serta mendorong inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda dan masyarakat perkotaan.

Dus, laporan Chinese Fish Price Report memberikan pesan yang sangat jelas. Keberhasilan industri perikanan masa depan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kemampuan meningkatkan produksi. Tantangan yang lebih besar adalah menciptakan pasar yang mampu menyerap produksi dengan harga yang menguntungkan, membangun produk bernilai tambah, serta memperkuat daya saing di tengah perubahan ekonomi global yang semakin cepat.

Bagi Indonesia, kondisi yang terjadi di Tiongkok harus dipandang sebagai cermin untuk melakukan evaluasi sejak dini. Jika hanya berfokus pada peningkatan produksi, maka risiko kelebihan pasokan dan tekanan harga dapat terjadi sewaktu-waktu. Sebaliknya, jika Indonesia mampu memperkuat hilirisasi, diversifikasi pasar, sertifikasi mutu, dan inovasi produk, maka tilapia dapat berkembang menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya menghasilkan volume produksi besar, tetapi juga memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi pembudidaya, pelaku usaha, dan masyarakat secara luas.

 

Referensi

FAO-GLOBEFISH & China Aquatic Products Processing and Marketing Alliance (CAPPMA). (2026). Chinese Fish Price Report: Issue 1/2026. Food and Agriculture Organization of the United Nations.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!