
Jumat (10/04), kunjungan lapangan yang dilakukan Tim Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) yang dipimpin oleh Dr. Suseno ke Coral Triangle Center (CTC) di Bali bukan sekadar agenda seremonial. Berbeda dari bayangan banyak orang tentang lembaga konservasi yang kaku dan teknokratis, CTC justru menghadirkan pendekatan yang komunikatif—menggabungkan edukasi, visualisasi, hingga budaya dalam satu ruang pembelajaran.
Di tengah berbagai pendekatan ilmiah yang kerap terasa “jauh” dari masyarakat, Coral Triangle Center (CTC) justru memilih jalur yang tak biasa, yaitu budaya. Melalui program Wayang Samudera (Ocean Puppets), konservasi laut diterjemahkan menjadi cerita yang hidup, visual yang memikat, dan pesan yang mudah dicerna lintas generasi.
Program ini menjadi bukti bahwa menyelamatkan laut tidak selalu harus dimulai dari ruang laboratorium—tetapi bisa dari panggung wayang.

Dari Mahabharata ke Terumbu Karang
Wayang, sebagai warisan budaya Indonesia yang telah bertahan lebih dari seribu tahun, biasanya mengangkat kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata. Namun di tangan inovatif CTC, narasi itu bergeser—dari kisah ksatria menjadi kisah ekosistem laut.
Wayang Samudera menghadirkan 32 karakter biota laut dari kawasan Coral Triangle, mulai dari ikan karang berwarna-warni hingga simbol ekosistem seperti “kayon karang” yang merepresentasikan kehidupan terumbu karang.
Yang menarik, setiap karakter tidak hanya estetis, tetapi juga edukatif, yaitu menampilkan ciri khas spesies, menggambarkan peran ekologis, dan menyisipkan ancaman yang mereka hadapi
Dengan pendekatan ini, publik tidak hanya “melihat” laut, tetapi mulai memahami laut.
Wayang Samudera bukan sekadar pertunjukan seni. Program ini lahir dari kolaborasi antara seniman tradisional dan tim ilmuwan CTC. Hasilnya adalah medium edukasi yang unik, yaitu ilmiah secara substansi, tetapi kultural dalam penyampaian.
Pendekatan ini menjawab salah satu tantangan terbesar konservasi, yaitu gap antara pengetahuan dan kesadaran publik. Alih-alih menggunakan istilah teknis seperti biodiversity loss atau ecosystem degradation, Wayang Samudera menerjemahkannya menjadi cerita tentang ikan yang kehilangan rumah, konflik antara manusia dan laut, dan harapan pemulihan ekosistem
Pesan kompleks menjadi sederhana—tanpa kehilangan makna.
Program ini memiliki kekuatan yang tidak dimiliki pendekatan konvensional, yaitu emosi dan kedekatan budaya. Bagi masyarakat pesisir, terutama anak-anak wayang menjadi media belajar yang akrab, pesan konservasi lebih mudah diterima, dan nilai menjaga laut tertanam sejak dini
Sementara bagi pembuat kebijakan dan praktisi, Wayang Samudera menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada narasi yang mampu menjangkau masyarakat luas.
Wayang Samudera mengajarkan satu hal penting, yaitu bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan data, tetapi juga persoalan cerita. Ketika laut hanya dibahas dalam angka, ia terasa jauh. Namun ketika laut hadir dalam tokoh, konflik, dan emosi—ia menjadi dekat, bahkan personal.
Melalui inisiatif ini, Coral Triangle Center tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga membangun kesadaran kolektif. Dari Bali, pesan itu bergema: menjaga laut adalah bagian dari menjaga budaya, kehidupan, dan masa depan.
