Halaman depan laporan SeafoodSource (2025)

Oleh : Suhana

 

Pasar Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu tujuan ekspor utama bagi komoditas perikanan Indonesia. Namun, laporan industri terbaru (SeafoodSource, 2025) menunjukkan bahwa tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan sekaligus titik balik bagi rantai pasok global. Bagi para pelaku ekspor ikan di tanah air, memahami pergeseran ini bukan lagi sekadar pilihan untuk tumbuh, melainkan syarat mutlak untuk bertahan.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas kondisi pasar seafood di Amerika Serikat pasca-2025, mengapa digitalisasi menjadi “paspor” baru dalam perdagangan internasional, dan bagaimana eksportir Indonesia harus bersiap menghadapi tahun 2026 yang lebih ketat.

Kilas Balik Pasar Seafood AS 2025: Gejolak dan Perubahan Perilaku

Laporan SeafoodSource (2025) menjunjukkan bahwa pada tahun 2025 diwarnai dengan volatilitas yang tinggi. Pada awal tahun, tepatnya di bulan Februari, angka penjualan seafood di ritel AS sempat merosot tajam. Kategori produk beku turun 8,5%, produk segar turun 4,7%, dan produk tahan simpan (shelf-stable) turun 6,2%. Mengapa hal ini terjadi?

Jawabannya adalah inflasi dan kecemasan konsumen terhadap tarif perdagangan. Data menunjukkan bahwa 57% konsumen AS merasa sangat khawatir terhadap dampak tarif global yang memicu kenaikan harga pangan. Hal ini menyebabkan perubahan perilaku konsumsi yang drastic, yaitu (SeafoodSource, 2025):

  • Peralihan ke “Home Cooking”: Konsumen lebih memilih memasak di rumah untuk menghemat biaya daripada makan di restoran.
  • Ledakan E-Commerce: Penjualan bahan makanan secara daring melonjak 31% pada September 2025.
  • Ritel Prepared Meals: Ada lonjakan signifikan (dari 12% menjadi 28%) pada konsumen yang memilih makanan siap saji dari supermarket sebagai alternatif restoran.

Apa artinya bagi eksportir Indonesia? Pasar tidak lagi mencari produk komoditas mentah saja. Pasar kini menuntut produk yang mudah diolah di rumah, memiliki harga kompetitif, dan tersedia melalui platform digital.

Digitalisasi: Bukan Lagi Kemewahan, Tapi Keharusan

Laporan SeafoodSource (2025) juga menyoroti bahwa pemasok skala menengah dan kecil di USA mulai bermigrasi besar-besaran ke sistem otomatisasi. Tren ini diperkirakan akan mencapai puncaknya di tahun 2026. Digitalisasi di sini mencakup penggunaan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang mampu melacak inventaris, harga, hingga margin secara real-time.

Bagi eksportir Indonesia, sistem manual berbasis Excel sudah tidak lagi memadai. Mengapa? Karena inefisiensi operasional akan membuat harga jual kita kalah bersaing dengan negara lain yang sudah otomatis. Otomatisasi membantu perusahaan mengidentifikasi pemborosan, mengoptimalkan proses pengemasan, dan memberikan respon cepat terhadap pesanan pembeli di USA yang kini serba digital.

Menghadapi “Tsunami” Regulasi: FSMA 204 dan Ketertelusuran

Salah satu poin paling krusial dalam laporan SeafoodSource (2025) adalah penegakan hukum ketertelusuran atau traceability. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menetapkan aturan FSMA 204 (Food Safety Modernization Act).

Regulasi ini mewajibkan setiap pelaku dalam rantai pasok seafood untuk mencatat Key Data Elements (KDE) pada setiap Critical Tracking Event (CTE). Artinya, ketika produk ikan dari Indonesia sampai di pelabuhan Los Angeles, pembeli harus bisa melacak kapan ikan itu dipanen, di pabrik mana ia diproses, hingga suhu kontainer selama perjalanan.

Jika eksportir Indonesia tidak memiliki sistem digital yang mampu menyediakan data ini secara instan, risiko penolakan produk di perbatasan AS akan meningkat drastis. Ketertelusuran adalah tentang kepercayaan, dan di tahun 2026, kepercayaan dibangun di atas data, bukan sekadar dokumen kertas.

Strategis bagi Eksportir Ikan Indonesia

Melihat peta persaingan tersebut, berikut adalah langkah-langkah adaptasi yang harus diambil oleh para pelaku industri perikanan Indonesia, yaitu Pertama, Investasi pada Teknologi Traceability. Mulailah mengadopsi perangkat lunak traceability yang sesuai dengan standar global. Sistem ini harus mampu menghasilkan data yang dapat diintegrasikan dengan sistem milik pembeli di AS. Ketertelusuran yang baik juga akan memperkuat branding bahwa ikan Indonesia ditangkap secara legal dan berkelanjutan (sustainable).

Kedua, Diversifikasi Produk ke Arah “Ready-to-Cook”. Mengingat tren memasak di rumah, eksportir harus mulai memikirkan produk nilai tambah (value-added products). Misalnya, filet ikan yang sudah dibumbui atau udang yang sudah dikupas dan siap masak dalam porsi kecil. Produk ini sangat diminati oleh segmen ritel dan e-commerce di AS.

Ketiga, Efisiensi Biaya melalui Otomatisasi Pabrik. Masalah tenaga kerja dan kenaikan biaya bahan baku adalah tantangan global. Eksportir perlu mengevaluasi proses produksi di pabrik. Penggunaan mesin pemotong atau sistem sortir otomatis dapat mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual yang semakin mahal dan meminimalisir kesalahan manusia (human error).

Keempat, Memperkuat Kehadiran di Saluran Digital. Bekerjasamalah dengan mitra di AS yang memiliki jaringan kuat di platform e-grocery. Pastikan informasi produk, sertifikasi keamanan pangan, dan profil keberlanjutan produk tersedia secara digital dan mudah diakses oleh calon pembeli.

Indonesia memiliki kekayaan laut yang luar biasa, namun kualitas sumber daya alam saja tidak cukup untuk memenangkan pasar global. Kita sedang memasuki era di mana “Data adalah Mata Uang Baru”. Eksportir yang sukses di tahun 2026 adalah mereka yang mampu menggabungkan kualitas ikan terbaik dengan sistem manajemen data yang paling efisien. Perubahan ini mungkin terasa berat di awal, terutama bagi UKM perikanan, namun ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga kredibilitas Indonesia di mata dunia.

Dus, pasar Amerika Serikat sedang bertransformasi menjadi pasar yang sangat berbasis data, sadar harga, dan menuntut transparansi total. Bagi eksportir ikan Indonesia, tahun 2025 adalah peringatan, dan tahun 2026 adalah kesempatan.

Dengan melakukan digitalisasi sekarang, mematuhi regulasi FSMA 204, dan berinovasi pada produk yang sesuai dengan gaya hidup konsumen AS, industri seafood Indonesia tidak hanya akan bertahan, tetapi juga memimpin di kancah internasional. Mari jadikan teknologi sebagai alat untuk membawa hasil laut kita menjangkau lebih banyak piring di seluruh dunia.

 

Referensi Utama:

Year in review: After tumultuous 2025 for economies and trade, US seafood suppliers flocking to digitization, automation. Diakses pada https://www.seafoodsource.com/reports/year-in-review-after-tumultuous-2025-for-economies-and-trade-us-seafood-suppliers-flocking-to-digitization-automation

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!