
Oleh: Suhana
“Dunia tidak lagi mencari lobster sebanyak-banyaknya. Dunia mencari lobster yang berkualitas, berkelanjutan, mudah dilacak asal-usulnya, dan mampu dikirim dengan cepat.”
Kalimat tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan laporan FAO Globefish Februari 2026 dengan pembaruan Mei 2026. Jika laporan Februari memperlihatkan bagaimana perang dagang antara Kanada dan China mengubah arus perdagangan lobster dunia, maka laporan Mei menunjukkan bahwa perubahan tersebut ternyata bukan fenomena sementara. Yang sedang berlangsung adalah restrukturisasi industri lobster global, di mana pusat pertumbuhan perlahan bergeser dari Amerika Utara menuju Asia-Pasifik.
Pada artikel sebelumnya saya mengemukakan bahwa pasar lobster dunia sedang mengalami pergeseran kekuatan dari Kanada menuju negara-negara Asia seperti Vietnam dan Australia. Laporan terbaru FAO memperkuat kesimpulan tersebut, namun dengan satu koreksi penting. Kanada memang masih menjadi eksportir lobster terbesar dunia, tetapi dominasinya semakin melemah karena pertumbuhan para pesaing jauh lebih cepat. Dengan kata lain, yang berubah bukan siapa pemimpinnya hari ini, melainkan arah masa depan industri lobster dunia.
Data perdagangan menunjukkan fenomena yang menarik. Sepanjang 2025 volume ekspor lobster dunia mencapai 187.560 ton, sedikit turun sekitar 2,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun nilai ekspornya justru melonjak menjadi USD 7,35 miliar, meningkat 14,4 persen dibandingkan 2024.
Temuan ini memperkuat argumen pada artikel sebelumnya mengenai munculnya rezim perdagangan baru, yaitu “less volume, higher value”. Fenomena serupa juga mulai terlihat pada berbagai komoditas perikanan lain, termasuk tuna dan udang. Dunia tidak lagi mengejar volume produksi semata, melainkan kualitas produk, kepastian pasokan, dan nilai tambah.
Di sisi permintaan, tren ini juga semakin jelas. Impor lobster dunia meningkat dari 177.850 ton pada 2023, menjadi 189.290 ton pada 2024, lalu mencapai 195.400 ton pada 2025. China menjadi pasar terbesar dengan impor 67.600 ton, sedangkan Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan 56.340 ton.
Artinya, persoalan utama dunia bukan kekurangan permintaan, melainkan siapa yang mampu memenuhi permintaan tersebut.
Di sinilah Vietnam muncul sebagai fenomena baru. Jika pada artikel sebelumnya saya menyebut Vietnam sebagai “pemain baru”, maka laporan terbaru menunjukkan bahwa Vietnam telah berubah menjadi kekuatan baru. Volume ekspornya meningkat dari hanya 4.390 ton pada 2023 menjadi 13.030 ton pada 2024, kemudian melonjak menjadi 28.140 ton pada 2025. Dalam nilai perdagangan, ekspor lobster Vietnam mencapai sekitar USD 852 juta, meningkat lebih dari 109 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan ekspor lobster hijau ke China dan Hong Kong diperkirakan mencapai USD 1,3 miliar.
Pertumbuhan sebesar itu tentu tidak mungkin dijelaskan hanya oleh perang dagang antara Kanada dan China. Ada transformasi yang lebih mendasar. Vietnam berhasil membangun ekosistem industri, mulai dari budidaya lobster tropis, hatchery, logistik, perdagangan regional melalui RCEP, hingga jaringan distribusi di China. Bahkan FAO mengindikasikan bahwa Vietnam juga berkembang sebagai pusat re-export lobster dari berbagai negara.
Inilah bagian yang belum banyak dibahas dalam artikel sebelumnya. Yang sedang diperebutkan bukan lagi sekadar produksi lobster, tetapi penguasaan rantai nilai global (global value chain).
Kanada memberikan contoh menarik mengenai bagaimana negara maju merespons perubahan tersebut. Pada artikel sebelumnya saya menyoroti besarnya dampak tarif China terhadap ekspor Kanada. Kini laporan Mei menunjukkan bahwa Kanada tidak hanya berupaya merebut kembali pasar China setelah tarif tambahan dicabut pada Maret 2026, tetapi juga mengubah strategi bisnisnya secara menyeluruh. Kanada mulai mengurangi ketergantungan pada lobster hidup dan memperbesar produksi lobster olahan, lobster matang siap saji, lobster beku, dan berbagai produk bernilai tambah.
Ini adalah perubahan paradigma yang sangat penting. Negara yang selama ini dikenal sebagai eksportir bahan baku kini justru berlomba memperkuat hilirisasi.
Ironisnya, Indonesia dalam 11 tahun terakhir kebijakan lobster masih berputar-putar pada masalah benih lobster. Padahal, jika melihat perkembangan global, persoalan utama bukan lagi benih, melainkan bagaimana membangun industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Perubahan lain yang semakin memperkuat artikel sebelumnya adalah bergesernya pemasok utama China. Untuk pertama kalinya, Vietnam menjadi pemasok lobster terbesar bagi China dengan volume 24.070 ton, sementara Kanada turun menjadi 15.350 ton dan Amerika Serikat berada di posisi ketiga dengan 9.930 ton.
Perubahan ini menunjukkan bahwa perang dagang telah menghasilkan dampak jangka panjang. Meskipun tarif tambahan terhadap Kanada sudah dicabut, FAO menilai Kanada tidak akan mudah memperoleh kembali posisi dominannya karena jaringan perdagangan baru telah terbentuk.
Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia.
Selama ini pembangunan perikanan nasional masih terlalu berorientasi pada produksi. Ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari jumlah tonase, sementara negara-negara pesaing mulai berlomba membangun logistik, pengolahan, sertifikasi, ketertelusuran, hingga diplomasi perdagangan.
Padahal laporan FAO juga menunjukkan bahwa perdagangan lobster Asia-Pasifik kini telah melampaui USD 7 miliar. Bahkan mulai berkembang pasar premium baru berupa whole frozen cooked lobster dengan harga sekitar USD 50–55 per kilogram. Artinya, nilai tambah mulai bergeser dari kegiatan penangkapan menuju pengolahan dan distribusi.
Di sinilah posisi Indonesia menjadi menarik. Jika pada laporan Februari Indonesia hanya disebut sebagai negara yang mulai mengembangkan budidaya lobster, maka pada laporan Mei FAO memasukkan Indonesia bersama Vietnam dan Australia sebagai negara yang diperkirakan akan terus memasok pasar China melalui marikultur dan perikanan skala kecil. Ini merupakan pengakuan bahwa Indonesia memiliki peluang besar.
Peluang dan peringatan.
Keberhasilan Indonesia tidak lagi ditentukan oleh banyaknya benih lobster yang tersedia, melainkan oleh kemampuan membangun rantai nilai yang lengkap, mulai dari hatchery, pembesaran, pakan, cold chain, sertifikasi, traceability, hingga hilirisasi produk. Tanpa itu, Indonesia akan terus berada di posisi sebagai penyedia bahan baku, sementara nilai tambah dinikmati negara lain.
Laporan FAO Mei 2026 pada akhirnya mempertegas satu kesimpulan yang juga menjadi pesan utama artikel sebelumnya: pasar lobster dunia memang sedang bergeser, tetapi yang sesungguhnya berubah adalah cara dunia membangun industri perikanan. Negara yang unggul bukan lagi negara dengan laut terluas atau stok lobster terbanyak, melainkan negara yang mampu mengintegrasikan budidaya, teknologi, logistik, hilirisasi, standar keberlanjutan, dan akses pasar ke dalam satu ekosistem industri.
Bagi Indonesia, inilah momentum untuk berhenti melihat lobster hanya sebagai komoditas ekspor dan mulai memandangnya sebagai industri strategis bernilai tinggi. Jika transformasi ini berhasil dilakukan, Indonesia bukan hanya berpeluang menjadi pemasok utama lobster Asia, tetapi juga memperoleh nilai tambah yang jauh lebih besar dari sumber daya lautnya sendiri. Sebaliknya, jika pembangunan masih terjebak pada perdebatan hulu dan belum menyentuh penguatan rantai nilai, Indonesia akan kembali mengulang paradoks klasik sektor kelautan: kaya sumber daya, tetapi miskin nilai tambah.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
