
Oleh: Suhana
Pada April 2026 saya menulis artikel berjudul “Harga Cakalang 2026 Naik Tajam dan Dampaknya bagi Nelayan Indonesia”. Saat itu, perhatian saya tertuju pada lonjakan harga cakalang beku (raw material) di Bangkok yang dalam waktu hanya tiga bulan meningkat dari sekitar USD 1.500 per ton pada Januari menjadi USD 2.000 per ton pada Maret 2026 (ThaiUnion 2026). Saya menyimpulkan bahwa lonjakan tersebut “bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan indikasi kuat adanya tekanan struktural dalam sistem perikanan global.” Harga Cakalang 2026 Naik Tajam dan Dampaknya bagi Nelayan Indonesia
Kini, setelah semester I 2026 berakhir, pertanyaan pentingnya adalah: apakah lonjakan harga itu hanya bersifat sementara, atau justru menandai perubahan baru dalam pasar cakalang global?
Data hingga Juni 2026 memberikan jawaban yang cukup jelas. Setelah mencapai puncaknya pada Maret, harga memang mengalami koreksi menjadi USD 1.875 per ton pada April, USD 1.730 per ton pada Mei, dan USD 1.700 per ton pada Juni. Namun koreksi tersebut tidak mengembalikan harga ke posisi awal tahun. Harga Juni masih lebih tinggi dibandingkan Januari, sementara rata-rata harga semester I 2026 mencapai sekitar USD 1.731 per ton, lebih tinggi dibandingkan semester yang sama tahun sebelumnya.
Artinya, analisis yang saya sampaikan pada April lalu memperoleh konfirmasi. Yang terjadi bukan sekadar lonjakan sesaat, tetapi pembentukan keseimbangan harga baru pada level yang lebih tinggi.
Fenomena ini menarik karena berbeda dengan pola historis harga cakalang selama lima belas tahun terakhir. Sejak 2011, harga cakalang Bangkok memang dikenal bersifat siklikal. Pada periode 2011–2013 harga pernah melampaui USD 2.000 per ton sebelum kemudian turun tajam hingga mendekati USD 1.100 per ton pada 2015. Setelah itu harga kembali berfluktuasi mengikuti dinamika produksi dan perdagangan global. Namun pada 2026 terdapat karakteristik yang berbeda. Perubahan harga berlangsung sangat cepat dalam satu triwulan, tetapi penurunannya berjalan lebih lambat sehingga harga bertahan pada level yang relatif tinggi.
Inilah yang membedakan volatilitas dengan tren. Volatilitas menjelaskan besarnya perubahan harga dalam waktu singkat, sedangkan tren menunjukkan arah pergerakan harga dalam jangka yang lebih panjang. Semester I 2026 memperlihatkan keduanya sekaligus. Pasar mengalami volatilitas tinggi pada triwulan pertama, tetapi tren harga secara keseluruhan tetap bergerak naik dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam tulisan April lalu saya berpendapat bahwa penyebab utama kenaikan harga berasal dari shock pada sisi pasokan (supply shock), bukan dari lonjakan permintaan. Kesimpulan tersebut tampaknya masih relevan.
Pasokan dari kawasan Western and Central Pacific Ocean (WCPO) yang merupakan salah satu sentra produksi tuna dunia belum sepenuhnya pulih. Di saat yang sama, kebijakan pengelolaan perikanan seperti Fish Aggregating Devices (FAD) closure tetap membatasi intensitas penangkapan pada periode tertentu. Tekanan tersebut diperkuat oleh meningkatnya biaya operasional armada, terutama bahan bakar, yang menyebabkan sebagian armada mengurangi aktivitas penangkapan. Kombinasi ketiga faktor tersebut membuat pasokan bahan baku tetap ketat sehingga harga tidak kembali ke level awal tahun.
Di sisi lain, permintaan dunia terhadap produk tuna dan cakalang olahan relatif tetap kuat. Produk ikan kaleng masih menjadi sumber protein yang terjangkau di banyak negara. Ketika permintaan bertahan sementara pasokan terbatas, harga akan tetap berada pada level tinggi. Dalam teori ekonomi, kondisi seperti ini mencerminkan pasar yang mengalami penyesuaian melalui mekanisme harga, bukan melalui peningkatan produksi.
Yang menarik, perilaku pasar saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah ikan yang berhasil ditangkap. Ekspektasi pelaku usaha juga memainkan peran yang semakin besar. Ketika muncul kekhawatiran bahwa pasokan akan berkurang, perusahaan pengolahan cenderung mempercepat pembelian untuk mengamankan bahan baku. Perilaku tersebut memperbesar tekanan permintaan jangka pendek dan mempercepat kenaikan harga. Sebaliknya, ketika pasokan mulai membaik, pembelian melambat sehingga harga terkoreksi. Dengan demikian, pembentukan harga cakalang kini merupakan kombinasi antara kondisi riil di laut dan ekspektasi pelaku pasar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar cakalang global semakin kompleks. Harga tidak lagi hanya dipengaruhi oleh musim penangkapan sebagaimana satu dekade lalu. Perubahan iklim yang memengaruhi distribusi stok ikan, kebijakan konservasi yang semakin ketat, biaya energi, kondisi geopolitik, hingga gangguan rantai pasok internasional kini saling berinteraksi membentuk harga. Pasar menjadi lebih sensitif terhadap setiap perubahan kecil pada sisi pasokan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini mempunyai arti penting. Sebagai salah satu produsen utama tuna, cakalang, dan tongkol dunia, Indonesia tidak dapat mengabaikan sinyal harga dari Bangkok. Meskipun harga Bangkok bukan harga transaksi domestik, pasar tersebut telah lama menjadi salah satu referensi utama perdagangan tuna di kawasan Asia. Ketika harga Bangkok bergerak naik, ekspektasi harga di kawasan juga ikut berubah.
Namun demikian, kenaikan harga global tidak otomatis berarti seluruh nelayan memperoleh manfaat yang sama. Dalam tulisan saya sebelumnya telah dijelaskan bahwa nelayan kecil sering kali berada pada posisi tawar yang lemah karena panjangnya rantai pemasaran. Selain itu, kenaikan biaya operasional, khususnya bahan bakar, juga mengurangi manfaat dari kenaikan harga ikan. Bahkan sekitar 70 persen biaya operasional melaut berasal dari BBM, sehingga tekanan biaya dapat mengimbangi keuntungan dari harga jual yang lebih tinggi.
Karena itu, membaca fenomena harga cakalang hanya dari sisi kenaikan harga merupakan pendekatan yang terlalu sederhana. Harga yang tinggi memang membuka peluang peningkatan pendapatan, tetapi pada saat yang sama juga meningkatkan risiko. Harga tinggi dapat mendorong peningkatan upaya penangkapan yang berlebihan apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang baik. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut justru dapat memperburuk keberlanjutan stok ikan.
Pelajaran terbesar dari semester I 2026 adalah bahwa pasar cakalang sedang memasuki fase baru yang ditandai oleh volatilitas yang semakin tinggi. Pelaku usaha tidak lagi dapat mengandalkan pola musiman sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Informasi pasar yang cepat, pemantauan produksi global, perkembangan kebijakan pengelolaan perikanan, hingga kondisi oseanografi akan semakin menentukan kemampuan membaca arah harga.
Tulisan ini sekaligus memperbarui kesimpulan yang saya sampaikan pada April 2026. Saat itu saya mempertanyakan apakah lonjakan harga hanyalah gejala sesaat atau merupakan tanda perubahan yang lebih mendasar. Perkembangan hingga Juni memberikan jawaban yang cukup jelas: pasar cakalang global sedang membentuk normal baru dengan tingkat volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dekade sebelumnya.
Oleh karena itu, fokus perhatian tidak boleh lagi hanya tertuju pada pertanyaan apakah harga akan naik atau turun bulan depan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah mengapa harga menjadi semakin mudah bergejolak, faktor apa yang paling dominan membentuknya, dan bagaimana Indonesia mempersiapkan diri menghadapi pasar yang semakin tidak pasti. Selama ketiga pertanyaan tersebut belum terjawab melalui kebijakan yang berbasis data dan pengelolaan sumber daya yang adaptif, setiap lonjakan harga akan selalu dipandang sebagai kejutan, padahal sesungguhnya ia adalah bagian dari perubahan besar yang sedang terjadi di pasar cakalang dunia.
