Ilustrasi Aktivitas Ekonomi Kelautan (Sumber :https://www.marinelink.com/news/economy-double-ocean408980)

Oleh: Suhana

 

Indonesia adalah negara laut—itu fakta geografis yang tidak terbantahkan. Namun ketika kita melihat data ekspor berbasis Harmonized System (HS) selama periode 2006–2025, muncul gambaran yang jauh lebih kompleks. Indonesia memang kuat dalam barang kelautan (ocean goods), tetapi kekuatan tersebut bertumpu pada struktur yang rapuh, yaitu dominasi komoditas mentah, konsentrasi ekspor yang tinggi, serta nilai tambah yang rendah.

Dalam kerangka ekonomi kelautan modern, barang kelautan mencakup seluruh produk fisik yang berasal dari laut atau terkait aktivitas laut, mulai dari energi, mineral, hingga perikanan dan industri maritim (Shi & Xue, 2025) (Suhana, 2017). Namun kekuatan ekonomi tidak diukur dari besarnya volume ekspor, melainkan dari kualitas, diversifikasi, dan nilai tambah yang dihasilkan. Di sinilah persoalan utama Indonesia muncul.

Baca juga: ekonomi-kelautan-indonesia-model-hs-ebops

Kinerja Ekspor Barang Kelautan

Data menunjukkan bahwa ekspor barang kelautan Indonesia didominasi secara ekstrem oleh komoditas energi (Gambar 1). Batu bara (HS 2701), gas alam (HS 2711), dan minyak bumi (HS 2709) menjadi tulang punggung ekspor selama dua dekade terakhir. Batu bara, misalnya, meningkat dari sekitar USD 6 miliar pada tahun 2006 menjadi puncaknya USD 46,7 miliar pada 2022 sebelum turun kembali menjadi sekitar USD 24,4 miliar pada 2025.

Gambar 1. Perkembangan Ekspor Barang Kelautan Menurut Kelompok Barang ([ITC] International Trade Centre, 2026, diolah)
Gas alam relatif stabil di kisaran USD 7–22 miliar, sementara minyak mentah justru mengalami penurunan tajam dari sekitar USD 13,8 miliar pada 2011 menjadi hanya sekitar USD 1,5 miliar pada 2025. Jika digabungkan, tiga komoditas ini secara konsisten menyumbang sekitar 60–80% dari total ekspor kelautan Indonesia. Artinya, ekonomi kelautan Indonesia sangat terkonsentrasi dan bergantung pada energi fosil.

Lebih jauh, terjadi pergeseran struktur yang penting tetapi tidak menunjukkan kemajuan yang sesungguhnya (Gambar 2). Pada periode 2006–2012, ekspor kelautan didominasi oleh minyak dan gas. Namun setelah 2020, dominasi bergeser ke batu bara dan mineral. Batu bara bahkan meningkat hampir delapan kali lipat dari 2006 hingga 2022, sementara minyak mentah turun lebih dari 80% dalam periode yang sama. Pergeseran ini sering dianggap sebagai transformasi, padahal sebenarnya hanya perpindahan dari satu bentuk ekonomi ekstraktif ke bentuk lainnya. Indonesia tidak naik kelas, melainkan hanya berganti jenis komoditas yang diekspor.

Gambar 2. Persentase Ekspor Barang Kelautan Menurut Kelompok Barang ([ITC] International Trade Centre, 2026, diolah)
Di sisi lain, sektor perikanan yang sering dianggap sebagai ikon ekonomi kelautan Indonesia justru menunjukkan kontribusi yang relatif kecil. Produk seperti udang (HS 0306) hanya berada di kisaran USD 1–1,7 miliar per tahun, fillet ikan (HS 0304) meningkat dari USD 121 juta pada 2006 menjadi sekitar USD 743 juta pada 2025, dan ikan beku (HS 0303) dari USD 150 juta menjadi sekitar USD 721 juta . Jika dibandingkan dengan batu bara yang mencapai puluhan miliar dolar, kontribusi perikanan hanya sekitar 5–10% dari total ekspor kelautan. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menempatkan sektor perikanan sebagai komoditas dasar, bukan sebagai industri bernilai tambah tinggi.

Hal yang sama terlihat pada produk olahan. Produk olahan laut seperti HS 1605 memang meningkat dari sekitar USD 183 juta pada 2006 menjadi sekitar USD 1 miliar pada 2025 . Namun angka ini tetap kecil dibandingkan dengan ekspor energi. Padahal, dalam ekonomi global modern, nilai terbesar justru berada pada tahap pengolahan. Negara lain membeli bahan mentah dari Indonesia, mengolahnya menjadi produk premium, dan menjualnya kembali dengan harga jauh lebih tinggi. Indonesia masih berada di tahap paling bawah dalam rantai nilai tersebut.

Kelemahan struktural juga terlihat pada industri maritim. Produk seperti kapal (HS 8901) hanya berada di kisaran USD 200–450 juta, sementara mesin kelautan (HS 8407 dan 8408) masih di bawah USD 1 miliar . Secara keseluruhan, kontribusi sektor ini hanya sekitar 3–5% dari total ekspor kelautan. Ini merupakan ironi besar bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Kita memiliki laut luas, tetapi tidak memiliki industri maritim yang kuat. Akibatnya, kita tidak menguasai teknologi, logistik, maupun rantai distribusi dalam ekonomi kelautan.

Arah Transformasi Ekonomi Kelautan

Dari seluruh data tersebut, terlihat pola yang sangat jelas, yaitu ekonomi kelautan Indonesia memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi, ketergantungan yang besar pada komoditas primer, serta diversifikasi yang rendah. Hanya segelintir produk yang mendominasi ekspor, sementara produk bernilai tambah tinggi masih sangat terbatas. Struktur seperti ini membuat ekonomi sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketika harga batu bara turun, ekspor langsung tertekan. Ketika permintaan global berubah, Indonesia tidak memiliki alternatif yang cukup kuat untuk menggantikan sumber pendapatan tersebut.

Dalam perspektif yang lebih luas, kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada level rendah dalam kompleksitas ekonomi. Produk-produk yang diekspor umumnya sederhana, tidak berbasis teknologi tinggi, dan mudah digantikan oleh negara lain. Sementara itu, produk dengan kompleksitas tinggi—seperti teknologi kelautan, industri kapal modern, atau produk berbasis riset—masih belum berkembang. Ini berarti Indonesia belum berhasil naik kelas dalam ekonomi kelautan global.

Dampaknya tidak hanya pada struktur ekonomi, tetapi juga pada masa depan pembangunan. Ketergantungan pada komoditas mentah membuat ekonomi tidak stabil, rentan terhadap krisis, dan sulit berkembang secara berkelanjutan. Selain itu, Indonesia juga kehilangan peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan mengembangkan industri nasional. Dalam konteks global yang semakin mengarah pada ekonomi berbasis pengetahuan dan keberlanjutan, model ekonomi seperti ini menjadi semakin tidak relevan.

Namun, di balik semua tantangan tersebut, arah transformasi sebenarnya sudah sangat jelas. Indonesia harus beralih dari ekonomi berbasis volume ke ekonomi berbasis nilai. Hilirisasi harus menjadi prioritas utama, di mana produk kelautan tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Diversifikasi produk juga harus ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan pada beberapa komoditas utama. Selain itu, penguatan industri maritim menjadi kunci untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing. Tanpa industri kapal, mesin, dan teknologi yang kuat, Indonesia akan terus bergantung pada negara lain dalam mengelola ekonominya sendiri.

Dus, ekspor barang kelautan (Ocean goods) memberikan satu pesan yang sangat jelas, yaitu Indonesia memang besar dalam ekonomi kelautan, tetapi belum kuat secara struktural. Kita memiliki sumber daya, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi nilai ekonomi yang maksimal. Selama kita masih bergantung pada komoditas mentah, kita akan terus berada di posisi yang sama—sebagai pemasok bahan mentah dalam rantai nilai global. Transformasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Karena kekuatan maritim sejati bukan diukur dari luas laut atau banyaknya sumber daya, tetapi dari kemampuan mengubah laut menjadi sumber nilai tambah yang berkelanjutan.

 

Referensi

[ITC] International Trade Centre (2026) List of products exported by Indonesia, [ITC] International Trade Centre. Available at: https://www.trademap.org/Product_SelCountry_TS.aspx?nvpm=1%7c360%7c%7c%7c%7c%7c264524%7c%7c4%7c1%7c1%7c2%7c2%7c1%7c1%7c1%7c1%7c1 (Accessed: March 24, 2026).

Shi, Z., & Xue, D. (2025). Measuring the international ocean economy trade: Method and application. Marine Policy, 175, 106636. DOI: https://doi.org/10.1016/j.marpol.2025.106636

Suhana. (2017). Mendefinisikan ekonomi kelautan Indonesia. https://suhana.web.id/2017/01/05/mendefinisikan-ekonomi-kelautan-indonesia/

 

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!