Oleh: Suhana

 

Peta konsumsi ikan Indonesia menunjukkan bahwa Nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan air tawar di Indonesia. Selain mudah dibudidayakan, ikan ini juga memiliki harga yang relatif terjangkau dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Tidak heran jika Nila sering disebut sebagai “ikan rakyat” karena perannya yang penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani sehari-hari.

Namun, di balik popularitas tersebut, konsumsi ikan Nila di Indonesia ternyata belum merata. Di beberapa wilayah, Nila menjadi lauk utama yang dikonsumsi secara rutin. Sementara di daerah lain, konsumsi Nila masih rendah dan kalah bersaing dengan ikan laut atau sumber protein lain seperti ayam dan telur. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar ikan Nila di Indonesia sangat beragam dan dipengaruhi oleh faktor geografis, budaya, serta akses terhadap produksi dan distribusi.

Data Badan Pusat Statistik RI terkait rata-rata pengeluaran perkapita seminggu menurut kelompok ikan Nila per provinsi (Rupiah/Kapita/Minggu) tahun 2025 (Gambar 1) memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pola konsumsi ini. Dengan menggunakan pendekatan statistik sederhana, yaitu pengelompokan berbasis kuartil, kita dapat memetakan wilayah Indonesia ke dalam beberapa kategori konsumsi—mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi daerah yang sudah menjadi basis konsumsi kuat, sekaligus wilayah yang masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Pemahaman terhadap peta konsumsi ini menjadi sangat penting, baik bagi pelaku usaha maupun pembuat kebijakan. Bagi pelaku usaha, informasi ini dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi produksi, distribusi, dan pemasaran. Sementara bagi pemerintah, peta ini dapat digunakan untuk merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan konsumsi ikan, serta pengembangan ekonomi perikanan domestik.

Dalam artikel ini penulis akan membahas secara ringkas bagaimana peta konsumsi ikan Nila Indonesia tahun 2025 terbentuk, apa faktor yang memengaruhinya, serta bagaimana peluang pasar dapat dimanfaatkan di masing-masing wilayah. Dengan memahami dinamika ini, diharapkan ikan Nila dapat semakin berperan sebagai komoditas strategis dalam perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu penulis jelaskan terkait pendekatan kuartil dalam pengelompokkan data tahun 2025. Kuartil adalah metode statistik yang membagi data menjadi empat kelompok yang sama besar, yaitu Q1 (25% terbawah) artinya konsumsi sangat rendah (<Rp200 per minggu), Q2 (25% berikutnya) artinya konsumsi rendah–menengah (Rp200-Rp700 per minggu), Q3 (25% berikutnya) artinya konsumsi menengah–tinggi (Rp700-Rp2.000 per minggu), dan Q4 (25% teratas) artinya konsumsi tinggi (>Rp2.000 per minggu).

Dalam konteks ini, kita menggunakan indikator pengeluaran per kapita per minggu untuk ikan Nila sebagai gambaran konsumsi (Gambar 1). Semakin besar pengeluaran, umumnya menunjukkan semakin tinggi konsumsi atau harga yang dibayar. Dengan metode ini, kita bisa melihat dengan jelas pola konsumsi ikan Nila di seluruh Indonesia.

Gambar 1. Rata-rata pengeluaran perkapita seminggu menurut kelompok ikan Nila per provinsi (Rupiah/Kapita/Minggu) tahun 2025 (Sumber: BPS RI, 2026)

Kelompok 1 (Q1): Konsumsi Sangat Rendah – Nila Belum Jadi Pilihan

Kelompok pertama terdiri dari wilayah dengan pengeluaran kurang dari sekitar Rp200 per minggu. Di antaranya adalah Maluku, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Kepulauan Riau, Papua, dan Nusa Tenggara Timur (Gambar 1).

Di daerah ini, ikan Nila bukanlah sumber protein utama. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi ikan laut seperti tuna, tongkol, atau cakalang. Hal ini wajar karena wilayah-wilayah tersebut memiliki akses yang sangat mudah ke sumber daya laut.

Selain faktor budaya konsumsi, ada juga faktor lain budidaya ikan air tawar masih terbatas, distribusi ikan Nila kurang lancer, dan harga Nila bisa relatif lebih mahal dibanding ikan laut lokal

Banyak pelaku usaha yang menganggap daerah ini tidak potensial, tetapi sebenarnya justru sebaliknya. Ini adalah pasar yang belum tergarap. Peluang yang bisa dikembangkan antara lain edukasi gizi untuk memperkenalkan manfaat ikan air tawar, produk olahan seperti fillet atau ikan beku yang lebih praktis, dan budidaya lokal untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar

Namun, strategi di wilayah ini tidak bisa hanya mengandalkan produksi. Perubahan perilaku konsumsi menjadi kunci utama.

Kelompok 2 (Q2): Konsumsi Rendah–Menengah – Pasar yang Kompetitif

Kelompok kedua mencakup wilayah dengan pengeluaran sekitar Rp200 hingga Rp700 per minggu. Ini termasuk daerah seperti Jawa Timur, Bali, Banten, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan beberapa wilayah di Sulawesi (Gambar 1).

Di wilayah ini, konsumsi Nila sudah ada, tetapi belum dominan. Salah satu alasan utamanya adalah persaingan dengan sumber protein lain.

Baca juga: Preferensi konsumsi ikan Sulawesi Selatan 2025 

Khusus Pulau Jawa adalah contoh menarik. Meskipun akses terhadap ikan Nila cukup baik, konsumsi relatif tidak tinggi. Hal ini disebabkan oleh pertama, banyaknya alternatif protein seperti ayam, telur, dan daging; Kedua, gaya hidup urban yang mengutamakan kepraktisan; dan ketiga perubahan pola konsumsi ke makanan siap saji

Di wilayah ini, kunci keberhasilan meningkatkan konsumsi ikan Nila bukan pada produksi, tetapi pada produk dan pemasaran. Beberapa strategi yang relevan adalah produk siap masak (ready-to-cook), produk beku (frozen food), Branding Nila sebagai makanan sehat dan praktis, serta penjualan melalui e-commerce dan supermarket modern. Dengan pendekatan yang tepat, wilayah ini bisa menjadi pasar besar karena jumlah penduduknya yang tinggi.

Kelompok 3 (Q3): Konsumsi Menengah–Tinggi – Pasar yang Sedang Tumbuh

Kelompok ketiga memiliki pengeluaran antara Rp700 hingga Rp2.000 per minggu. Wilayahnya antara lain Aceh, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Lampung, Sumatera Utara, hingga beberapa provinsi di Papua (Gambar 1).

Di daerah ini, ikan Nila sudah cukup populer dan menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari. Namun, masih ada ruang untuk peningkatan. Beberapa wilayah di Papua menunjukkan pertumbuhan konsumsi yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ini menjadi sinyal bahwa pola konsumsi mulai berubah, budidaya Nila mulai berkembang, dan akses pasar semakin terbuka

Baca juga: Membaca tingkat preferensi konsumsi ikan Jawa Barat 2025 

Namun, kondisi di Papua juga menunjukkan fluktuasi yang tinggi. Artinya, pasar belum stabil dan masih membutuhkan dukungan, terutama dalam hal distribusi, ketersediaan benih dan pakan, dan Infrastruktur produksi. Peluang yang bisa dikembangkan diwilayah ini adalah investasi budidaya ikan Nila, pengembangan UMKM olahan ikan, dan Integrasi dengan program ketahanan pangan. Wilayah Q3 adalah pasar yang sedang naik daun dan sangat menarik untuk investasi jangka menengah.

Kelompok 4 (Q4): Konsumsi Tinggi – Basis Kuat Nila Nasional

Kelompok tertinggi (Q4) terdiri dari wilayah dengan pengeluaran di atas Rp2.000 per minggu. Ini mencakup provinsi seperti Kalimantan Tengah, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, dan Riau (Gambar 1). Di wilayah ini, ikan Nila bukan hanya populer, tetapi sudah menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat.

Beberapa faktor utama yang mendorong tingginya rata-rata pengeluaran masyarakat untuk membli ikan Nila, adalah (1) Ketersediaan air tawar yang melimpah;  (2) Budidaya Nila yang berkembang pesat; (3) Harga yang relatif stabil dan terjangkau; dan (4) Preferensi masyarakat terhadap ikan air tawar

Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa wilayah ini tidak hanya menjadi konsumen besar, tetapi juga basis produksi Nila nasional. Artinya, daerah ini memiliki peran penting dalam memasok daerah lain, menjaga stabilitas harga, dan mengembangkan industri perikanan air tawar

Beberapa strategi pengembangan konsumsi ikan Nila di wilayah ini adalah peningkatan efisiensi produksi, penguatan rantai pasok, pengembangan industri pengolahan (fillet, frozen), dan ekspansi ke pasar luar daerah. Wilayah ini adalah tulang punggung industri Nila Indonesia.

Berdasarkan hasil analisis keempat klister pengeluaran konsumsi perkapita ikan Nila tersebut terlihat adanya perbedaan yang cukup tajam antar wilayah. Indonesia Barat (Sumatera & Kalimantan) memiliki pola konsumsi tinggi, produksi kuat, dan Nila menjadi ikan utama. Indonesia Timur (Maluku, NTT, sebagian Sulawesi) memiliki pola konsumsi rendah, bergantung pada ikan laut, dan Nila belum popular. Pulau Jawa dengan karakteristik konsumsi menengah, pasar sangat kompetitif, dan banyak pilihan protein. Pola ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki dua karakter pasar yang berbeda untuk ikan Nila.

Bagi pelaku usaha, peta konsumsi ikan Nila tahun 2025 memberikan pesan yang sangat jelas: strategi bisnis tidak bisa lagi dibuat seragam untuk seluruh wilayah Indonesia. Setiap daerah memiliki karakteristik pasar yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan juga harus disesuaikan. Di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang tergolong memiliki konsumsi tinggi, pelaku usaha dapat lebih fokus pada peningkatan produksi dan efisiensi distribusi untuk menjaga ketersediaan pasokan. Sementara itu, di Pulau Jawa yang pasarnya sudah lebih matang dan kompetitif, strategi yang lebih tepat adalah inovasi produk, baik dari sisi bentuk, kemasan, maupun Nilai tambah. Di sisi lain, wilayah Indonesia Timur yang masih memiliki tingkat konsumsi relatif rendah membutuhkan pendekatan yang berbeda, yaitu melalui edukasi pasar, peningkatan akses, serta pengenalan produk ikan Nila sebagai sumber protein yang sehat dan terjangkau.

Selain strategi wilayah, jenis produk juga menjadi kunci penting dalam memenangkan pasar. Konsumen saat ini tidak lagi hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga semakin memperhatikan aspek kepraktisan, higienitas, dan kemudahan pengolahan. Pola konsumsi yang semakin modern mendorong permintaan terhadap produk olahan yang siap masak atau siap saji. Oleh karena itu, pengembangan produk seperti fillet ikan Nila, nugget ikan, hingga berbagai varian frozen food menjadi peluang besar yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk meningkatkan Nilai tambah dan memperluas segmen pasar.

Lebih jauh lagi, wilayah dengan konsumsi rendah tidak boleh dipandang sebagai pasar yang lemah, melainkan sebagai peluang pertumbuhan yang belum tergarap secara optimal. Justru di daerah-daerah iNilah potensi ekspansi pasar sangat besar, terutama jika didukung oleh strategi distribusi yang tepat, edukasi konsumen, serta inovasi produk yang sesuai dengan preferensi lokal. Dengan memahami peta konsumsi secara lebih mendalam, pelaku usaha dapat mengarahkan investasi dan strategi pemasaran secara lebih efektif, sehingga tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan konsumsi ikan nasional secara berkelanjutan.

Bagi pemerintah, peta konsumsi ikan Nila tahun 2025 memberikan arah yang jelas dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Pertama, kebijakan produksi sebaiknya berbasis pada keunggulan wilayah. Tidak semua daerah harus dipaksakan menjadi sentra produksi, karena setiap wilayah memiliki kondisi sumber daya yang berbeda. Pemerintah dapat memfokuskan pengembangan produksi di daerah yang sudah memiliki basis kuat, seperti Sumatera dan Kalimantan, baik dari sisi ketersediaan lahan, air, maupun pengalaman budidaya. Pendekatan ini akan meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing sektor perikanan air tawar secara nasional.

Kedua, perbaikan sistem distribusi menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan konsumsi antarwilayah. Daerah dengan tingkat konsumsi rendah seringkali bukan karena minimnya minat masyarakat, tetapi karena keterbatasan akses terhadap produk ikan yang segar, berkualitas, dan terjangkau. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur logistik, termasuk pengembangan rantai dingin (cold chain), peningkatan transportasi logistik, serta konektivitas antar daerah yang lebih efisien. Dengan distribusi yang lebih baik, produk ikan Nila dapat menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini sulit diakses, sehingga harga menjadi lebih stabil dan ketersediaan lebih terjamin.

Ketiga, edukasi konsumsi ikan air tawar juga harus menjadi prioritas kebijakan. Selama ini, sebagian masyarakat—terutama di wilayah pesisir—lebih terbiasa mengonsumsi ikan laut, sehingga konsumsi ikan air tawar seperti Nila masih relatif terbatas. Melalui kampanye gizi, sosialisasi manfaat kesehatan, serta promosi olahan ikan yang praktis dan menarik, pemerintah dapat mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Edukasi ini tidak hanya meningkatkan permintaan, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan gizi masyarakat secara luas. Dengan sinergi antara kebijakan produksi, distribusi, dan edukasi, pengembangan ekonomi ikan Nila domestik dapat berlangsung lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dus, ikan Nila memiliki potensi besar untuk menjadi sumber protein utama masyarakat Indonesia. Namun, data menunjukkan bahwa konsumsi masih belum merata. Ada daerah yang sudah menjadi basis kuat konsumsi, ada yang sedang berkembang, dan ada yang masih belum tergarap. Artinya, masa depan ikan Nila tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada distribusi, inovasi produk, dan perubahan preferensi konsumen. Jika strategi yang tepat diterapkan, ikan Nila tidak hanya menjadi ikan rakyat, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak ekonomi perikanan air tawar Indonesia.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!