
Oleh: Suhana
Sektor perikanan merupakan tulang punggung ketahanan pangan dan ekonomi maritim Indonesia. Namun, mengukur kesejahteraan mereka yang bekerja di balik kemudi kapal bukanlah perkara mudah. Salah satu indikator paling akurat yang digunakan adalah Nilai Tukar Nelayan (NTN). Melalui data terbaru periode 2019 hingga 2025, kita dapat melihat potret nyata bagaimana nelayan kita bertahan di tengah fluktuasi harga global, inflasi, dan perubahan iklim.
Sebelum membedah data, penting untuk memahami bahwa NTN adalah rasio antara indeks harga yang diterima nelayan (It) dengan indeks harga yang dibayar nelayan (Ib). Jika angka NTN berada di atas 100, berarti nelayan mengalami surplus atau peningkatan kesejahteraan relatif. Sebaliknya, jika di bawah 100, pengeluaran mereka lebih besar daripada pendapatan yang dihasilkan dari melaut.

Dari Stabilitas 2019 ke Kejayaan 2022
Pada tahun 2019, kondisi ekonomi nelayan berada pada titik yang cukup stabil dengan NTN sebesar 100.23. Angka ini menunjukkan keseimbangan yang tipis namun positif. Memasuki masa pandemi dan pasca-pandemi, tahun 2022 muncul sebagai periode emas dalam catatan data ini.
Pada tahun 2022, NTN mencapai angka 106.45. Ini adalah performa tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Keberhasilan tahun 2022 didorong oleh efisiensi biaya produksi (BPPBM) yang berada di angka 108.78, sementara indeks harga yang diterima dari penangkapan laut sudah melonjak ke 117.93. Pada titik ini, nelayan menikmati margin keuntungan yang lebar karena biaya hidup dan biaya operasional belum terdisrupsi oleh inflasi tinggi yang terjadi di tahun-tahun berikutnya.
2024: Titik Nadir dan Tekanan Hebat
Jika 2022 adalah tahun kejayaan, maka 2024 adalah tahun ujian terberat. Data menunjukkan NTN merosot tajam ke angka 101.76. Ini adalah titik terendah dalam siklus yang kita amati.
Apa yang terjadi? Analisis data menunjukkan terjadinya “jepitan” ekonomi:
- Stagnasi Pendapatan: Indeks harga penangkapan laut berada di angka 121, yang jika dibandingkan dengan kenaikan biaya hidup, tidaklah mencukupi.
- Ledakan Biaya Konsumsi: Indeks harga yang dibayar nelayan (Ib) melonjak ke 118.77. Komponen “Makanan, Minuman, dan Tembakau” menjadi beban utama dengan indeks 126.17.
- Biaya Operasional: Biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) naik menjadi 115.27.
Kondisi 2024 menggambarkan fenomena di mana meskipun harga ikan di pasar mungkin terlihat mahal, namun keuntungan tersebut tidak sampai ke kantong nelayan karena habis dimakan oleh biaya solar, logistik, dan kebutuhan pokok rumah tangga yang melambung tinggi.
2025: Tahun Pemulihan Moderat (The Great Rebound)
Memasuki tahun 2025, terdapat angin segar bagi sektor kelautan. NTN meningkat menjadi 103.86. Secara kritis, tahun 2025 adalah fase pemulihan, namun belum mampu menyamai level kemakmuran tahun 2022.
Mengapa 2025 Membaik dibanding 2024?. Kenaikan NTN di tahun 2025 didorong secara dominan oleh lonjakan indeks harga yang diterima nelayan (It) yang menyentuh 126.06. Secara spesifik, penangkapan laut memberikan kontribusi besar dengan indeks 126.24. Hal ini mengindikasikan bahwa harga komoditas laut di tingkat produsen (nelayan) mengalami perbaikan harga yang signifikan.
Namun, pemulihan ini disebut “moderat” karena nelayan masih harus berhadapan dengan biaya hidup yang terus mendaki. Indeks Konsumsi Rumah Tangga mencapai 125.68, dipicu oleh harga makanan yang indeksnya kini berada di angka 131.12. Artinya, kenaikan pendapatan nelayan di tahun 2025 seolah-olah “disubsidi” kembali untuk memenuhi kebutuhan dapur yang semakin mahal.
Secara angka, 103.86 (tahun 2025) masih jauh di bawah 106.45 (tahun 2022). Berdasarkan hasil analisis mendalam pada komponen terungkap bahwa :
- Transportasi dan Komunikasi: Pada 2022, indeksnya hanya 110.85, namun di 2025 melonjak menjadi 121.54. Ini menunjukkan bahwa mobilitas dan akses distribusi menjadi jauh lebih mahal bagi nelayan saat ini.
- Kesehatan dan Perawatan Pribadi: Biaya jasa dan perawatan pribadi meningkat dari 112.10 (2022) menjadi 125.52 (2025).
- Upah Buruh: Biaya tenaga kerja (upah buruh) yang dibayar nelayan naik dari 106.30 (2022) ke 113.31 (2025), menambah beban operasional bagi pemilik kapal.
Satu hal menarik di tahun 2025 adalah adanya penurunan beban pada indeks Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang turun menjadi 107.49 dari angka 109.4 di tahun sebelumnya. Penurunan kecil ini menjadi salah satu faktor “penyelamat” yang menjaga agar NTN 2025 tidak kembali jatuh ke bawah level 102.
