
Sinopsis Jurnal
Oleh : Suhana
Artikel berjudul From ocean to markets: fish exports threaten nutrition security in coastal communities yang dimuat dalam jurnal communications earth & environment (12/11/2025) mengulas hasil studi kasus yang dilakukan di lima distrik pesisir Shark Fin Bay, Palawan, Filipina, mengungkap adanya diskoneksi kritis dalam sistem pangan lokal. Penelitian yang dilakukan oleh Brun, V., Celis, A.I.J., Dubrana, C. et al (2025) ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat hasil tangkapan ikan yang signifikan, utamanya dari perikanan terumbu karang, terdapat ancaman langsung terhadap ketahanan gizi masyarakat yang sangat bergantung pada sumber daya laut tersebut. Inti dari masalah ini adalah fakta bahwa konsumsi ikan oleh masyarakat—yang merupakan pendorong penting asupan energi, protein, dan mikronutrien —tidak berkorelasi dengan total produksi perikanan di wilayah tersebut.
Diskoneksi ini terutama disebabkan oleh orientasi pasar yang kuat dan praktik ekspor ikan yang dominan. Sebagian besar hasil tangkapan, khususnya spesies ikan karang, segera diekspor keluar dari distrik ke pasar yang lebih besar. Nelayan cenderung menjual tangkapan mereka kepada para perantara karena praktik ini menjamin penjualan seluruh hasil tangkapan mereka. Dampaknya, ketersediaan ikan yang rendah dan harga yang meningkat di pasar lokal menyebabkan kekurangan ikan yang meluas, di mana 62% responden menyatakan mereka secara teratur kekurangan ikan untuk dimakan. Harga yang tinggi, yang sebagian dipicu oleh permintaan eksternal seperti pariwisata di El Nido, menjadi alasan utama (31% responden) mengapa rumah tangga miskin tidak mampu membeli ikan, yang pada akhirnya memicu masalah kekurangan gizi.

Menariknya, spesies alternatif seperti ikan pelagis kecil dan ikan dasar lunak (non-reef fish) muncul sebagai jaring pengaman pangan yang vital. Jenis ikan ini cenderung kurang diekspor, lebih disukai secara lokal, dan ditawarkan dengan harga yang lebih terjangkau, bahkan memiliki manfaat mikronutrien yang superior dibandingkan ikan karang. Temuan ini menekankan pentingnya mempertimbangkan perbedaan spesies dan proses pascapanen dalam pengelolaan makanan biru. Lebih lanjut, studi ini secara fundamental membantah asumsi bahwa hasil ekologis yang positif dari upaya konservasi, seperti peningkatan biomassa ikan melalui Kawasan Perlindungan Laut (KPL), secara otomatis akan menghasilkan peningkatan ketahanan pangan lokal. Sebaliknya, penggerak sosio-ekonomi dan orientasi pasar terbukti jauh lebih berpengaruh dalam membentuk hasil gizi lokal daripada hanya sekadar produktivitas perikanan
Pembelajaran Kritis dari Palawan untuk Indonesia
Studi kasus di Palawan memberikan pelajaran penting dan sangat relevan bagi Indonesia, mengingat kesamaan sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi masyarakat pesisir pada sumber daya laut untuk pangan dan mata pencaharian. Pembelajaran utama adalah perlunya reorientasi Kebijakan Pangan Biru (Blue Food). Indonesia harus mengakui bahwa peningkatan produksi perikanan saja tidak menjamin ketahanan gizi jika hasil tangkapan diorientasikan untuk ekspor dan tidak terjangkau secara lokal. Oleh karena itu, kebijakan perikanan nasional wajib mengintegrasikan tujuan nutrisi dan aksesibilitas pangan bagi masyarakat pesisir, melampaui sekadar fokus pada hasil tangkapan dan keuntungan ekonomi. Secara khusus, pemerintah daerah perlu memprioritaskan spesies yang secara kritis penting bagi gizi, seperti ikan pelagis kecil (contohnya, kembung atau teri) yang terbukti murah dan kaya mikronutrien, serta memperkuat pengelolaan mereka sebagai jaring pengaman pangan lokal, bukan sebagai komoditas pakan ternak.
Isu mendasar yang perlu ditangani Indonesia adalah pengelolaan ekspor dan harga untuk menstabilkan akses pangan lokal. Untuk mencegah harga ikan terdorong naik oleh pasar eksternal, termasuk permintaan pariwisata, mekanisme kontrol harga lokal harus dipertimbangkan. Ini dapat diwujudkan melalui insentif bagi nelayan untuk menjual sebagian tangkapan di pasar lokal dengan harga yang ditetapkan, subsidi, atau melalui pembentukan pasar komunitas yang teratur. Di samping itu, penguatan pasar lokal dan pemotongan rantai pasok dari nelayan ke konsumen secara langsung akan sangat penting untuk meningkatkan ketersediaan dan mengurangi biaya. Langkah-langkah ini, yang mencakup dukungan terhadap fasilitas penyimpanan dan pengolahan lokal, akan membantu masyarakat pesisir mengakses hasil tangkapan mereka sendiri.
Pembelajaran ini juga menuntut pendekatan yang lebih cermat dalam merancang kawasan perlindungan laut (KPL). Meskipun KPL adalah alat krusial untuk keberlanjutan sumber daya, Indonesia harus menyadari bahwa KPL tidak boleh dianggap sebagai solusi otomatis untuk mengatasi ketahanan pangan lokal. Sebaliknya, desain KPL harus diintegrasikan dengan komponen sosio-ekonomi yang kuat, di mana tujuan KPL diperluas dari hanya memulihkan stok ikan menjadi secara eksplisit menjamin akses yang adil terhadap ikan bagi komunitas di sekitarnya. Hal ini memerlukan intervensi yang secara langsung menangani masalah kerentanan harga, akses pasar, dan pendapatan nelayan.
Terakhir, penting bagi Indonesia untuk memfasilitasi diversifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. Sebagaimana dicatat di Palawan, nelayan menghadapi kesulitan besar beralih profesi karena kurangnya alternatif yang layak. Oleh karena itu, program diversifikasi harus menawarkan pilihan yang benar-benar berkelanjutan secara ekonomi. Selain itu, promosi terhadap sumber pangan biru lain yang kaya nutrisi dan terjangkau, seperti rumput laut, kerang-kerangan, dan moluska, harus ditingkatkan. Budidaya dan konsumsi alternatif ini dapat berfungsi sebagai komplementer atau pengganti protein yang penting, terutama di wilayah dengan tekanan perikanan atau hasil tangkapan ikan karang yang menurun, sehingga dapat memperkuat ketahanan gizi secara keseluruhan di komunitas pesisir.
Link Referensi
Brun, V., Celis, A.I.J., Dubrana, C. et al. From ocean to markets: fish exports threaten nutrition security in coastal communities. Commun Earth Environ 6, 892 (2025). https://doi.org/10.1038/s43247-025-02820-1
