Oleh: Suhana

 

Industri tuna global sedang mengalami perubahan yang tidak lagi bersifat siklis, melainkan struktural. Laporan terbaru menunjukkan bahwa pasar tuna dunia kini dipengaruhi tidak hanya oleh dinamika produksi dan konsumsi, tetapi juga oleh geopolitik perdagangan, perubahan preferensi konsumen, serta restrukturisasi rantai nilai global (Food and Agriculture Organization [FAO], 2026). Dalam konteks ini, Indonesia sebagai salah satu produsen tuna utama dunia berada di persimpangan penting: tetap menjadi pemasok bahan mentah atau naik kelas menjadi pemain utama dalam rantai nilai global.

Pergeseran Paradigma: Dari Volume ke Nilai

Selama beberapa dekade, industri tuna global didorong oleh logika volume—siapa menangkap lebih banyak, dia menguasai pasar. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa paradigma ini mulai bergeser. Impor tuna utuh beku global mengalami penurunan sekitar 10,73 persen, sementara produk bernilai tambah seperti fillet dan steak meningkat sebesar 10,95 persen, dan tuna olahan naik 12,35 persen (FAO, 2026). Pergeseran ini menunjukkan bahwa pasar semakin menghargai nilai tambah dibandingkan sekadar volume produksi.

Gambar 1. Volume Impor Tuna Dunia Menurut Jenis Produk

Fenomena ini sejalan dengan temuan Anderson, Asche, dan Garlock (2018) yang menyatakan bahwa globalisasi telah mendorong komoditas perikanan menuju diferensiasi produk dan peningkatan nilai, bukan lagi sekadar komoditas homogen. Dengan demikian, industri tuna global kini bergerak menuju model berbasis kualitas, inovasi, dan preferensi konsumen.

Lebih lanjut, terjadi polarisasi produk yang cukup tajam. Tuna jenis skipjack mengalami penurunan permintaan hingga 27,9 persen, sementara spesies premium seperti bigeye dan yellowfin meningkat signifikan masing-masing sebesar 28 persen dan 12,63 persen (FAO, 2026). Hal ini menunjukkan bahwa pasar global terbelah antara segmen mass market dan premium market, dengan pertumbuhan lebih kuat pada segmen premium.

Tarif AS dan Geopolitik Perdagangan

Perubahan struktural ini semakin diperkuat oleh faktor geopolitik, khususnya kebijakan tarif Amerika Serikat yang mulai diberlakukan pada Agustus 2025. Kebijakan ini berdampak langsung terhadap penurunan impor tuna olahan dari Asia, dengan penurunan kumulatif mencapai 8,85 persen pada periode Januari–November 2025 (FAO, 2026).

Dalam konteks perdagangan internasional, fenomena ini mencerminkan apa yang disebut sebagai trade diversion, di mana aliran perdagangan berpindah akibat kebijakan tarif atau hambatan non-tarif (Global Trade Tracker, 2026). Negara seperti Ecuador mampu meningkatkan ekspor tuna sebesar 12 persen dan bahkan meningkatkan ekspor ke Amerika Serikat hingga 30 persen, menggantikan posisi negara-negara Asia (FAO, 2026).

Kondisi ini menunjukkan bahwa daya saing dalam perdagangan global tidak hanya ditentukan oleh efisiensi produksi, tetapi juga oleh akses pasar dan posisi geopolitik. Oleh karena itu, ketergantungan pada satu pasar utama menjadi strategi yang berisiko tinggi.

Fragmentasi Rantai Nilai Global

Selain itu, industri tuna global juga mengalami fragmentasi rantai nilai. Permintaan terhadap produk setengah jadi seperti cooked loins meningkat, dengan impor di Uni Eropa naik sekitar 6,82 persen (FAO, 2026). Hal ini menunjukkan bahwa proses produksi tidak lagi terintegrasi dalam satu negara, melainkan tersebar di berbagai negara sesuai dengan keunggulan masing-masing.

FAO (2022) menegaskan bahwa transformasi menuju blue economy mendorong efisiensi dan spesialisasi dalam rantai nilai perikanan global. Dalam konteks ini, negara tidak perlu menguasai seluruh proses produksi, tetapi dapat mengambil peran strategis pada segmen tertentu yang memberikan nilai tambah lebih tinggi. 

Transformasi Rantai Nilai Tuna Global

Berdasarkan analisis tersebut, model konseptual transformasi industri tuna global dapat dirumuskan sebagai berikut, Pertama, terdapat faktor pendorong utama yang meliputi perubahan preferensi konsumen, kebijakan perdagangan, inovasi teknologi, dan globalisasi rantai pasok (FAO, 2026; FAO, 2022). Kedua, faktor-faktor ini mendorong transformasi struktur pasar yang ditandai dengan pergeseran dari bahan mentah ke produk bernilai tambah, polarisasi pasar, serta fragmentasi rantai nilai global.

Ketiga, transformasi ini berdampak berbeda pada negara produsen. Negara yang masih berbasis volume cenderung tertekan, sementara negara yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah mengalami peningkatan daya saing. Negara dengan akses pasar yang baik juga memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.

Keempat, outcome strategis dari proses ini adalah reposisi dalam rantai nilai global, peningkatan daya saing berbasis kualitas, serta diversifikasi pasar ekspor.

Posisi Indonesia: Peluang yang Belum Dimaksimalkan

Indonesia memiliki potensi besar dalam industri tuna global. Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya melimpah, Indonesia telah menjadi salah satu eksportir utama tuna dunia. Bahkan, ekspor tuna olahan Indonesia meningkat sekitar 7 persen dalam periode terbaru (FAO, 2026).

Gambar 2. Top Eksportir Tuna Canning Dunia

Namun, posisi Indonesia masih berada di tingkat menengah dalam rantai nilai global. Indonesia belum sepenuhnya menguasai segmen premium, dan di sisi lain juga belum seefisien negara seperti Thailand dalam produksi massal. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam posisi transisi yang belum optimal.

Jika tidak ada transformasi strategis, Indonesia berisiko terjebak dalam posisi sebagai pemasok bahan baku dengan nilai tambah rendah, sebagaimana diperingatkan dalam literatur global tentang komoditas perikanan (Anderson et al., 2018).

Untuk menghadapi perubahan tersebut, pelaku perikanan tuna di Indonesia perlu melakukan transformasi strategis yang komprehensif, diantaranya pertama, peningkatan kualitas produk menjadi prioritas utama. Pelaku usaha perlu mengadopsi standar penanganan ikan yang memenuhi persyaratan pasar premium, termasuk penggunaan teknologi pembekuan dan sertifikasi mutu internasional. Hal ini penting untuk menembus pasar Jepang, Uni Eropa, dan China yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk berkualitas.

Kedua, penguatan industri pengolahan setengah jadi perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah domestik. Produk seperti cooked loins memiliki permintaan yang terus meningkat dan dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia dalam rantai nilai global.

Ketiga, diversifikasi pasar ekspor harus menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu. Uni Eropa, China, dan kawasan Timur Tengah menawarkan peluang yang lebih stabil dan terus berkembang.

Baca juga: ekspor-impor-tuna-indonesia-2016

Keempat, pelaku usaha perlu mengadopsi strategi dual market dengan mengembangkan produk premium sekaligus mempertahankan efisiensi di pasar mass. Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika pasar global.

Kelima, aspek keberlanjutan dan transparansi menjadi semakin penting. Sertifikasi eco-label dan sistem traceability tidak lagi menjadi pilihan, tetapi kebutuhan dalam perdagangan global (FAO, 2022).

Terakhir, kolaborasi antar pelaku industri perlu diperkuat untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi. Sinergi antara nelayan, industri pengolahan, dan eksportir akan meningkatkan efisiensi dan daya saing secara keseluruhan.

Dus, perubahan dalam industri tuna global menunjukkan bahwa era baru telah dimulai. Keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh volume produksi, tetapi oleh kemampuan menciptakan nilai tambah dalam setiap tahap rantai produksi. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri tuna global. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan melalui transformasi strategis yang berorientasi pada nilai, kualitas, dan keberlanjutan. Tanpa langkah tersebut, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan global yang semakin kompleks dan kompetitif.

 

Referensi

Anderson, J. L., Asche, F., & Garlock, T. (2018). Globalization and commoditization: The transformation of the seafood market. Journal of Commodity Markets, 12, 2–8.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2022). The State of World Fisheries and Aquaculture 2022: Towards Blue Transformation. Rome: FAO.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2026). Quarterly tuna analysis – February 2026. FAO Globefish.

Global Trade Tracker. (2026). International trade data for fisheries products. Retrieved January 1, 2026, from https://www.globaltradetracker.com

Japan External Trade Organization. (2026). Japanese restaurant industry survey in Asia. JETRO.

INFOFISH. (2026). Tuna market insights and trade developments. INFOFISH International.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!