
Oleh: Suhana
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua di planet ini, idealnya ikan menjadi “primadona” utama di piring makan setiap keluarga Indonesia. Namun, data terbaru rata-rata pengeluaran perkapita seminggu menurut kelompok ikan periode 2018-2025 mengungkapkan realitas yang jauh lebih kompleks dari sekadar angka-angka di atas kertas.
Gambar 1 mengungkapkan bahwa meskipun secara nasional pengeluaran masyarakat Indonesia untuk ikan menyentuh angka tertinggi di tahun 2025, yakni Rp16.918 per kapita per minggu, terdapat jurang lebar dan anomali yang menuntut kita untuk bersikap kritis, yaitu apakah kita benar-benar semakin gemar makan ikan, atau kita hanya dipaksa membayar lebih mahal untuk porsi yang sama?

Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa pada tahun 2025 menempatkan masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya di posisi puncak dengan pengeluaran sebesar Rp29.035 per minggu, hampir dua kali lipat rata-rata nasional. Jika kita melihat trennya, wilayah ini mengalami kenaikan fantastis dari Rp19.111 di tahun 2024.
Di satu sisi, ini adalah sinyal positif bahwa budaya makan ikan di wilayah timur tetap kokoh. Namun, secara kritis kita harus bertanya: Mengapa pengeluaran di Papua Pegunungan juga sangat tinggi, yakni Rp21.902? Bagi wilayah yang tidak memiliki akses langsung ke laut, angka tinggi ini kemungkinan besar bukan mencerminkan kelimpahan konsumsi, melainkan inefisiensi logistik. Penduduk di pegunungan harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan ikan yang diterbangkan atau dibawa melalui medan berat. Ini adalah “pajak geografis” yang membebani gizi masyarakat.
Paradox Jawa: Mengapa Wilayah Padat Justru Paling Rendah?
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan dari data ini adalah konsistensi rendahnya pengeluaran masyarakat untuk ikan di Pulau Jawa, khususnya di DI Yogyakarta (Rp6.401) dan Jawa Tengah (Rp6.889) pada tahun 2025. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung (Rp26.248) atau Kalimantan Timur (Rp26.244).
Ada dua kemungkinan di balik angka rendah di Jawa, yaitu:
- Substitusi protein murah: masyarakat di pulau Jawa cenderung beralih ke protein nabati (tahu/tempe) atau protein hewani lain seperti telur dan ayam yang distribusinya lebih masif dan harganya lebih stabil.
- Hilangnya budaya bahari: di tengah industrialisasi, konsumsi ikan seringkali dianggap “merepotkan” atau kalah saing dengan makanan olahan cepat saji yang lebih mudah diakses di wilayah perkotaan padat.
Rendahnya angka pengeluaran masyarakat untuk ikan di pusat populasi Indonesia ini adalah alarm bagi ketahanan pangan nasional. Jika wilayah dengan penduduk terbanyak justru paling sedikit mengalokasikan anggaran untuk ikan, maka visi “Indonesia Emas” yang didukung oleh otak cerdas berkat Omega-3 akan sulit tercapai.
Analisis Tren 2018-2025: Pertumbuhan atau Inflasi?
Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa rata-rata pengeluaran masyarakat perkapita seminggu menurut kelompok ikan nasional terus merangkak naik dari Rp12.153 (2018) menjadi Rp16.918 (2025). Secara akumulatif, ini adalah pertumbuhan sekitar 39% dalam delapan tahun.

Namun, pertumbuhan ini tidak merata. Perhatikan Papua Tengah yang mengalami fluktuasi ekstrem, yaitu dari Rp12.973 (2021) merosot ke Rp10.736 (2022), lalu melonjak drastis ke Rp24.109 (2024) sebelum turun kembali ke Rp18.460 (2025). Ketidakstabilan ini menunjukkan bahwa pasar ikan di wilayah tertentu masih sangat rapuh terhadap gangguan pasokan dan perubahan kebijakan wilayah.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Ikan bukan sekadar komoditas dagang. Dalam setiap gram daging ikan, terdapat investasi masa depan bangsa. Data 2025 menunjukkan bahwa masyarakat Kalimantan Tengah (Rp24.208) dan Kalimantan Utara (Rp25.330) sangat sadar akan pentingnya investasi ini.
Namun, tantangan ke depan bukan hanya soal “mengajak makan ikan”, melainkan:
- Stabilisasi Harga: Agar masyarakat di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah tidak lagi melihat ikan sebagai barang mewah.
- Perbaikan Rantai Dingin (Cold Chain): Agar ikan segar bisa sampai ke wilayah pedalaman seperti Papua Pegunungan dengan harga yang rasional.
- Diversifikasi Produk: Mengolah ikan menjadi produk yang praktis tanpa menghilangkan nilai gizinya agar bisa bersaing di pasar modern.
Menuju Budaya Baru Konsumsi Ikan
Melihat data 2025, kita harus memberikan apresiasi pada wilayah-wilayah yang konsisten menjaga tingkat konsumsinya. Masyarakat di Provinsi Aceh (Rp22.152) dan Sumatera Utara (Rp21.046) membuktikan bahwa dengan akses yang baik, ikan tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
Dus, angka Rp16.918 sebagai rata-rata nasional adalah modal awal yang baik. Namun, tugas kita belum selesai selama masih ada provinsi yang pengeluarannya di bawah Rp10.000 per minggu. Kita perlu mendorong kebijakan yang tidak hanya fokus pada produksi ikan, tetapi juga pada keadilan distribusi harga dari Sabang sampai Merauke.
Mari jadikan ikan sebagai menu wajib di meja makan kita, bukan karena terpaksa oleh harga yang mahal, melainkan karena kesadaran akan gizi dan kecintaan pada kekayaan laut Indonesia.
Sumber Data: Rata-rata Pengeluaran Perkapita Seminggu Menurut Kelompok Ikan Per Kabupaten/Kota (Rupiah/Kapita/Minggu) 2018-2025. BPS 2026
