
Oleh: Suhana
Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) laut di Eropa pada awal 2026 bukan sekadar gejala ekonomi biasa, melainkan sinyal kuat bahwa sektor perikanan global sedang berada dalam tekanan struktural yang serius. Data dari laporan EUMOFA Monthly Highlights No.3/2026 menunjukkan bahwa harga BBM laut di pelabuhan utama Eropa melonjak hingga kisaran 0,88–0,99 EUR per liter, atau meningkat sekitar 60% hanya dalam satu bulan dan 48% dibandingkan tahun sebelumnya (European Commission, 2026). Kenaikan setajam ini tidak bisa dijelaskan sebagai fluktuasi normal, melainkan sebagai dampak dari guncangan besar dalam sistem energi global yang efeknya langsung menghantam sektor perikanan.

Jika ditelusuri lebih dalam, lonjakan harga BBM tersebut berakar pada krisis energi global yang dipicu oleh konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa perang di kawasan tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern, dengan penurunan produksi global hingga sekitar 8 juta barel per hari dan terganggunya jalur distribusi utama dunia ([IEA] International Energy Agency, 2026). Bahkan, sekitar 20% pasokan minyak dunia yang biasanya melewati Selat Hormuz mengalami gangguan serius, menyebabkan aliran minyak global hampir terhenti dalam periode tertentu (Wikipedia, 2026). Dampak langsungnya adalah lonjakan harga minyak dunia yang sempat mendekati USD 120 per barel dan naik sekitar USD 20 hanya dalam waktu singkat ([IEA] International Energy Agency, 2026).
Krisis ini bukan hanya soal angka produksi minyak, tetapi juga soal gangguan sistem distribusi energi global. Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia mengalami penurunan drastis aktivitas tanker, sementara fasilitas produksi dan kilang di kawasan tersebut ikut terdampak konflik. Dalam kondisi seperti ini, pasar energi global bereaksi sangat cepat, mendorong harga minyak dan produk turunannya, termasuk BBM laut, naik secara signifikan. Bahkan, dalam skenario ekstrem, analis memperkirakan harga minyak bisa mencapai USD 150 hingga USD 200 per barel jika gangguan berlanjut (Balaraman and Shivaprasad, 2026).
Kenaikan harga minyak global ini secara langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga BBM di berbagai negara. Data menunjukkan bahwa harga minyak mentah global telah naik dari rata-rata sekitar USD 70 per barel menjadi sekitar USD 90 per barel, atau meningkat sekitar 28% dalam waktu singkat (Rendy Andriyanto, 2026). Karena harga BBM domestik sangat dipengaruhi oleh harga minyak dunia dan nilai tukar, kenaikan ini hampir pasti akan berdampak pada biaya energi di semua sektor, termasuk perikanan. Dengan kata lain, sektor perikanan tidak memiliki kendali terhadap faktor utama yang menentukan biaya operasionalnya.
Di sinilah letak masalah utamanya. Perikanan tangkap merupakan salah satu sektor yang paling bergantung pada bahan bakar. Dalam struktur biaya operasi kapal penangkap ikan, bahan bakar bisa mencapai 40–60% dari total biaya. Ketika harga BBM melonjak hingga 60% dalam satu bulan, maka struktur biaya langsung terguncang secara drastis. Tidak seperti industri lain yang dapat menyesuaikan produksi atau mengganti input, nelayan tidak memiliki banyak pilihan. Mereka tetap harus melaut dengan konsumsi energi yang tinggi, atau berhenti beroperasi sama sekali.
Dampak dari kondisi ini sudah terlihat dalam data produksi. Laporan EUMOFA mencatat bahwa total volume produksi (first sales) perikanan di Eropa pada 2025 turun sekitar 4%, sementara nilai totalnya justru meningkat 3% hingga mencapai 4,1 miliar euro (European Commission, 2026). Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan kuat dari sisi pasokan, yaitu produksi menurun karena biaya tinggi, tetapi harga naik karena kelangkaan. Dalam istilah ekonomi, ini adalah bentuk “cost-push inflation” yang mencerminkan ketidakseimbangan antara biaya produksi dan kapasitas produksi.
Efek domino dari kenaikan BBM ini sangat luas. Ketika nelayan mengurangi aktivitas melaut, pasokan ikan di pasar berkurang. Pada saat yang sama, biaya distribusi juga meningkat karena transportasi ikan bergantung pada bahan bakar. Akibatnya, harga ikan di tingkat konsumen naik. Dalam konteks global, kenaikan harga energi juga terbukti mendorong inflasi pangan secara lebih luas, karena energi merupakan komponen utama dalam transportasi, pengolahan, dan distribusi makanan (Choncé Maddox, 2026). Bahkan, di Inggris, inflasi pangan diperkirakan bisa mencapai 9% akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik geopolitik (Almeida, Butler and Partridge, 2026).
Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya dampak jangka pendek dari kenaikan harga BBM, melainkan bagaimana krisis ini memperlihatkan kelemahan struktural sektor perikanan. Laporan EUMOFA secara jelas menyebutkan bahwa di wilayah Eropa sektor ini menghadapi berbagai tantangan jangka panjang, seperti tenaga kerja yang menua, minimnya regenerasi nelayan, ketergantungan tinggi pada energi fosil, serta tekanan keberlanjutan sumber daya laut (European Commission, 2026). Dengan kata lain, sektor ini sudah berada dalam kondisi rapuh bahkan sebelum krisis energi terjadi.
Krisis regenerasi nelayan menjadi salah satu masalah paling mendasar. Profesi nelayan semakin tidak diminati oleh generasi muda karena dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Pendapatan yang tidak stabil, risiko tinggi, serta biaya operasional yang terus meningkat membuat sektor ini kehilangan daya tarik. Ketika harga BBM melonjak, kondisi ini semakin memburuk. Nelayan yang sudah beroperasi pun menghadapi tekanan besar, sementara calon nelayan baru semakin enggan masuk ke sektor ini. Dalam jangka panjang, hal ini akan mengurangi kapasitas produksi secara struktural.
Selain itu, ketergantungan pada energi fosil menjadi titik lemah utama sektor perikanan. Selama kapal-kapal penangkap ikan masih bergantung pada BBM, maka setiap gejolak harga minyak global akan langsung berdampak pada sektor ini. Tidak adanya alternatif energi yang murah dan efisien membuat sektor perikanan terjebak dalam “lock-in system”, di mana perubahan menuju sistem yang lebih berkelanjutan menjadi sangat sulit dilakukan dalam waktu singkat. Sementara itu, tekanan untuk mengurangi emisi dan menjaga keberlanjutan lingkungan terus meningkat, menciptakan dilema antara kebutuhan ekonomi dan tuntutan ekologis.
Kombinasi antara shock jangka pendek (kenaikan BBM) dan masalah struktural jangka panjang menciptakan situasi yang dapat disebut sebagai “perfect storm” bagi sektor perikanan. Kenaikan biaya energi mempercepat keluarnya nelayan dari sektor, yang kemudian menurunkan produksi dan meningkatkan harga. Harga yang tinggi memang memberikan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi jika disertai dengan penurunan jumlah pelaku usaha dan kapasitas produksi, maka dalam jangka panjang justru akan melemahkan sektor secara keseluruhan.
Situasi di wilayah Eropa ini juga memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Sebagai negara maritim dengan potensi perikanan yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan kenaikan harga ikan di pasar global. Namun, peluang ini hanya dapat dimanfaatkan jika sektor perikanan domestik mampu mengatasi masalah yang sama, yaitu ketergantungan pada BBM dan rendahnya efisiensi energi. Jika tidak, Indonesia justru akan menghadapi risiko yang sama ketika terjadi gejolak harga energi global. Terlebih nelayan Indonesia pernah mengalami penurunan daya beli ketika kenaikan harga BBM akhir tahun 2022 lalu (Suhana, 2025).
Baca juga: ntn-2024-kondisi-nelayan-makin-mengkhawatirkan
Dus, lonjakan harga BBM laut sebesar 60% bukan hanya masalah biaya, tetapi cerminan dari krisis yang lebih dalam dalam sistem perikanan global. Sektor ini tidak hanya menghadapi tekanan dari sisi energi, tetapi juga dari sisi struktur ekonomi dan sosial yang belum siap menghadapi perubahan. Selama ketergantungan terhadap energi fosil masih tinggi dan reformasi struktural belum dilakukan secara serius, maka setiap krisis energi akan terus berulang dan membawa dampak yang semakin besar. Dalam konteks ini, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi mengapa harga BBM naik, tetapi mengapa sektor perikanan masih sangat rentan terhadap perubahan tersebut. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan masa depan perikanan global di tengah ketidakpastian energi yang semakin tinggi.
Referensi
Almeida, L., Butler, S. and Partridge, J. (2026) UK food inflation “could hit 9%”, trade body warns as Reeves meets retail chiefs, https://www.theguardian.com. Available at: https://www.theguardian.com/business/2026/apr/01/uk-food-inflation-iran-war-drives-up-energy-prices?utm_source=chatgpt.com.
Balaraman, K. and Shivaprasad, A. (2026) Learn more about Oil prices to stay elevated across Iran war scenarios, https://www.reuters.com. Available at: https://www.reuters.com/business/energy/.
Choncé Maddox (2026) The Goods That Get More Expensive as Oil Prices Rise, https://www.kiplinger.com. Available at: https://www.kiplinger.com/personal-finance/family-savings/oil-prices-what-gets-more-expensive?utm_source=chatgpt.com.
European Commission (2026) [EUMOFA] European Market Observatory for Fisheries and Aquaculture Products. Monthly Highlights N. 3-2026. Available at: https://eumofa.eu/documents/20124/232596/MH+3+2026_Final.pdf/071b62d3-927a-7f2c-4d4b-e96358273645?t=1774945616547 (Accessed: April 1, 2026).
[IEA] International Energy Agency (2026) Oil Market Report Market-12 March 2026. Available at: https://www.iea.org/reports/oil-market-report-march-2026?utm_source=chatgpt.com (Accessed: April 1, 2026).
Rendy Andriyanto (2026) Fuel Price Hike_ What It Means for Consumers, Gotrade. Available at: https://www.heygotrade.com/en/news/fuel-price-hike-consumer-impact/?utm_source=chatgpt.com (Accessed: April 1, 2026).
Suhana, 2025. NTN 2024 kondisi nelayan makin mengkhawatirkan Available at: https://suhana.web.id/2025/01/11/ntn-2024-kondisi-nelayan-makin-mengkhawatirkan/
Wikipedia (2026) 2026 Strait of Hormuz crisis, https://en.wikipedia.org. Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/2026_Strait_of_Hormuz_crisis?utm_source=chatgpt.com.
