
Oleh: Suhana
Pasar lobster dunia sedang mengalami perubahan besar—bukan sekadar fluktuasi perdagangan biasa, tetapi pergeseran kekuatan yang nyata dan terukur. Data dalam laporan Quarterly Lobster Analysis – February 2026 menunjukkan bahwa struktur pasar global mulai berubah, baik dari sisi produksi, perdagangan, maupun aktor utamanya. Dalam periode Januari–September 2025 saja, total ekspor lobster dunia mencapai 144.400 ton dengan nilai USD 5,4 miliar, sementara impor global menyentuh 140.690 ton senilai USD 6,1 miliar ([FAO] Globefish, 2026). Angka ini menegaskan satu hal penting, yaitu permintaan global tetap kuat, bahkan cenderung meningkat, terutama di pasar Asia.


Di sinilah pemain baru mengambil peran. Vietnam, yang sebelumnya bukan aktor utama, justru mencatat lonjakan luar biasa. Volume ekspor Vietnam meningkat dari hanya 3.230 ton pada 2023 menjadi 7.800 ton pada 2024, dan melonjak tajam menjadi 20.380 ton pada 2025 ([FAO] Globefish, 2026). Dalam nilai, ekspor Vietnam mencapai USD 712 juta, dengan sekitar USD 556 juta berasal dari pasar China ([FAO] Globefish, 2026). Ini bukan sekadar pertumbuhan, tetapi transformasi posisi dalam rantai perdagangan global.
Sementara itu, Australia juga menunjukkan kebangkitan signifikan setelah pencabutan larangan ekspor ke China. Dalam periode Januari–September 2025, ekspor lobster Australia ke China mencapai 5.530 ton, meningkat drastis dibandingkan hanya 49 ton pada 2024 dan 52 ton pada 2023 ([FAO] Globefish, 2026). Dari sisi nilai, China menyerap lebih dari USD 44 juta lobster Australia hanya dalam delapan bulan pertama 2025 ([FAO] Globefish, 2026).
Jika kita melihat dari sisi permintaan, China semakin mengukuhkan diri sebagai pusat pasar global. Total impor lobster China meningkat dari 37.130 ton pada 2023 menjadi 43.340 ton pada 2024, dan mencapai 48.400 ton pada 2025 ([FAO] Globefish, 2026). Amerika Serikat juga menunjukkan tren serupa, dengan impor naik dari 37.800 ton (2023) menjadi 41.570 ton (2024), dan 43.170 ton (2025) ([FAO] Globefish, 2026). Dua negara ini secara konsisten menyerap sebagian besar perdagangan lobster dunia.
Yang menarik, perubahan sumber pasokan China sangat mencolok. Impor dari Vietnam melonjak dari hanya 33 ton pada 2023 menjadi 606 ton pada 2024, dan melejit menjadi 17.365 ton pada 2025 (Globefish, 2026). Ini adalah pertumbuhan ribuan persen dalam waktu singkat. Sementara itu, Kanada justru kehilangan posisi yang sebelumnya dominan. Artinya, pasar tidak hanya berubah—tetapi berpindah tangan secara cepat.

Namun, di balik angka-angka perdagangan ini, terdapat perubahan yang lebih mendasar, yaitu pergeseran model produksi. Negara-negara seperti Kanada dan Amerika Serikat masih bergantung pada perikanan tangkap. Akibatnya, produksi mereka rentan terhadap faktor lingkungan dan regulasi. Produksi di kedua negara tersebut turun sekitar 10–15 persen dalam periode Januari–September 2025 ([FAO] Globefish, 2026). Bahkan di beberapa wilayah, kebijakan peningkatan ukuran minimum tangkapan menyebabkan penurunan produksi hingga 30 persen.
Sebaliknya, Vietnam mengandalkan budidaya lobster tropis, yang memberikan kontrol lebih besar terhadap produksi. Selain itu, kedekatan geografis dengan China memberikan keuntungan logistik yang signifikan. Biaya pengiriman lebih rendah dan waktu distribusi lebih cepat, faktor yang sangat penting untuk produk hidup bernilai tinggi.
Baca juga: Masa pandemi covid-19 lobster Viet-nam kuasai pasar China
Laporan [FAO] Globefish (2026) juga mengungkap indikasi bahwa Vietnam berfungsi sebagai pusat transshipment, di mana lobster dari negara lain masuk ke Vietnam sebelum diekspor kembali ke China . Jika ini benar, maka sebagian lonjakan ekspor Vietnam mungkin tidak sepenuhnya berasal dari produksi domestik. Namun, hal ini justru menunjukkan kecerdikan dalam memanfaatkan posisi geografis dan jaringan perdagangan.
Di tengah dinamika global ini, posisi Indonesia masih relatif marginal. Pemerintah memang telah mengubah arah kebijakan dengan mengurangi ekspor benih lobster dan mulai mendorong budidaya domestik. Namun, hasilnya masih sangat terbatas. Produksi uji coba yang dilaporkan hanya sekitar 1,7 ton, angka yang sangat kecil dibandingkan skala perdagangan global yang mencapai ratusan ribu ton .
Padahal, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Namun, tanpa strategi yang jelas dan eksekusi yang cepat, potensi tersebut tidak akan cukup untuk bersaing. Sementara Vietnam sudah berada pada level puluhan ribu ton ekspor, Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan.
Tantangan ke depan juga semakin kompleks. Regulasi internasional semakin ketat, terutama terkait keberlanjutan dan standar lingkungan. Amerika Serikat mulai memberlakukan pembatasan impor melalui Marine Mammal Protection Act (MMPA), sementara Uni Eropa memperketat persyaratan traceability dan keamanan pangan . Ini berarti bahwa hanya negara dengan sistem produksi yang transparan dan berkelanjutan yang dapat bertahan di pasar global.
Dari seluruh dinamika ini, satu kesimpulan menjadi jelas, yaitu pasar lobster global sedang mengalami restrukturisasi besar. Pergeseran ini tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh geopolitik, logistik, dan strategi perdagangan. Negara yang mampu mengintegrasikan semua aspek ini akan menjadi pemenang.
Indonesia kini berada di persimpangan. Dengan potensi sumber daya yang besar, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi pemain utama. Namun, tanpa percepatan dalam pengembangan budidaya, penguatan rantai pasok, dan akses pasar, Indonesia berisiko tertinggal dan hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Dalam konteks ini, pelajaran dari Kanada sangat jelas, yaitu dominasi tidak pernah abadi. Bahkan pemain terbesar pun bisa kehilangan pasar dalam waktu singkat. Sementara itu, Vietnam menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat, dengan dukungan benih (BBL) dari Indonesia, negara yang sebelumnya kecil bisa menjadi kekuatan besar dalam waktu singkat. Sementara Indonesia, masih bangga sebagai pemasok benih lobster ke Viet Nam.
Dus, pertarungan di pasar lobster global bukan lagi soal siapa yang memiliki sumber daya terbesar, tetapi siapa yang paling cepat beradaptasi. Dan dalam dunia yang berubah cepat seperti sekarang, yang lambat bukan hanya tertinggal—tetapi bisa hilang dari peta persaingan.
Referensi
[FAO] Globefish (2026) Lobster. Available at: https://openknowledge.fao.org/items/1617c49e-6e76-47c7-8167-75324c7490b4 (Accessed: April 1, 2026).
