
Oleh: Suhana
Indonesia hari ini berada pada posisi yang sangat strategis dalam perdagangan ikan, baik di kawasan ASEAN maupun di pasar global. Namun, posisi ini tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai “kuat di semua lini”. Data neraca perdagangan ikan periode 2014–2024 justru menunjukkan adanya dualisme kekuatan, yaitu Indonesia unggul di pasar regional, sementara Vietnam mendominasi pasar global. Fenomena ini sejalan dengan temuan bahwa perdagangan perikanan global semakin terkonsentrasi pada negara-negara yang mampu mengakses pasar bernilai tinggi dan memiliki rantai pasok yang efisien (Food and Agriculture Organization [FAO], 2024).
Jika melihat perdagangan intra-ASEAN, Indonesia tampil sebagai pemain paling dominan. Surplus perdagangan Indonesia meningkat signifikan dari USD 440 juta pada 2014 menjadi USD 775 juta pada 2024, atau tumbuh sekitar 76% dalam satu dekade. Bahkan setelah pandemi, Indonesia menunjukkan akselerasi kuat, dengan lonjakan dari USD 561 juta (2020) menjadi USD 649 juta (2022) dan mencapai puncaknya di 2024. Ini menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya eksportir biasa, tetapi pemasok utama ikan di kawasan ASEAN. Sementara itu, negara-negara lain seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura justru mengalami defisit besar setiap tahunnya. Ketimpangan ini mencerminkan struktur produksi dan konsumsi yang tidak merata di kawasan, sebagaimana dicatat dalam laporan statistik ASEAN bahwa beberapa negara bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestik (ASEAN Secretariat, 2023).

Pasar Global
Namun, ketika kita beralih ke pasar global, peta kekuatan berubah drastis. Vietnam muncul sebagai eksportir terbesar dengan nilai perdagangan mencapai USD 7,03 miliar pada 2024, bahkan sempat menyentuh USD 7,76 miliar pada 2022. Sebaliknya, Indonesia berada di posisi kedua dengan nilai sekitar USD 5,09 miliar pada 2024, meningkat dari USD 4,10 miliar pada 2014 atau tumbuh sekitar 24% dalam satu dekade. Yang menarik, Vietnam justru mengalami penurunan tajam dalam perdagangan intra-ASEAN, dari sekitar USD 530 juta pada 2017 menjadi hanya USD 154 juta pada 2024. Hal ini menunjukkan bahwa Vietnam secara strategis mengalihkan fokusnya ke pasar global. Pergeseran ini sejalan dengan tren global value chains di sektor perikanan yang menunjukkan bahwa negara dengan orientasi ekspor cenderung memilih pasar dengan nilai tambah lebih tinggi dibanding pasar regional (World Bank, 2023).

Perbedaan ini mencerminkan dua strategi besar dalam industri perikanan. Indonesia cenderung menggunakan pendekatan dual market, yaitu tetap kuat di ASEAN sambil tumbuh di pasar global. Strategi ini relatif aman karena memiliki basis pasar yang stabil. Sebaliknya, Vietnam mengadopsi strategi global oriented, dengan fokus pada pasar premium seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China. Strategi ini lebih agresif dan berisiko, tetapi memberikan nilai ekspor yang jauh lebih tinggi. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki keunggulan stabilitas, sementara Vietnam unggul dalam nilai dan daya saing global. Data perdagangan internasional juga menunjukkan bahwa negara yang mampu memenuhi standar mutu dan keberlanjutan memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar premium (United Nations Comtrade, 2025).
Sementara itu, Thailand memberikan contoh transformasi yang menarik. Pada 2014, Thailand mencatat surplus global sebesar USD 3,58 miliar, tetapi angka ini terus menurun hingga hanya USD 1,30 miliar pada 2024. Di sisi lain, dalam perdagangan intra-ASEAN, Thailand justru konsisten mengalami defisit. Kondisi ini menunjukkan bahwa Thailand telah bertransformasi dari eksportir utama menjadi pusat pengolahan (processing hub). Mereka mengimpor bahan baku ikan, mengolahnya, dan mengekspor kembali dalam bentuk produk bernilai tambah. Transformasi ini sejalan dengan tren global industri perikanan yang bergerak ke arah peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan inovasi produk (FAO, 2024).
Jika dilihat secara struktural, perdagangan ikan ASEAN menunjukkan ketimpangan yang cukup jelas. Hanya tiga negara yang konsisten menjadi net eksportir, yaitu Indonesia, Vietnam, dan Myanmar. Myanmar sendiri menunjukkan tren yang relatif stabil, dengan surplus meningkat dari USD 184 juta (2014) menjadi USD 323 juta (2024) di intra-ASEAN, serta sekitar USD 719 juta di pasar global pada 2024. Sementara itu, sebagian besar negara ASEAN lainnya menjadi net importir. Kondisi ini menunjukkan bahwa ASEAN sebenarnya memiliki pasar internal yang besar, tetapi belum terintegrasi secara optimal. Laporan regional juga menegaskan bahwa integrasi perdagangan intra-ASEAN masih menghadapi berbagai kendala, termasuk logistik dan standar produk (ASEAN Secretariat, 2023).
Paradoksnya, meskipun negara-negara ASEAN berada dalam satu kawasan dengan jarak geografis yang dekat, mereka justru lebih fokus pada perdagangan dengan negara di luar kawasan. Hal ini terlihat dari besarnya nilai ekspor ke pasar global dibandingkan intra-ASEAN. Padahal, dari sisi efisiensi logistik dan stabilitas permintaan, pasar regional memiliki keunggulan yang tidak kalah penting. Fenomena ini menunjukkan bahwa potensi perdagangan intra-ASEAN masih belum dimanfaatkan secara maksimal, sebagaimana juga disoroti dalam analisis rantai nilai global sektor perikanan (World Bank, 2023).
Bagi pelaku usaha perikanan di Indonesia, data ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, ASEAN merupakan pasar yang sangat potensial dan relatif aman untuk menjaga volume penjualan. Kedua, untuk meningkatkan nilai tambah dan keuntungan, pelaku usaha harus mulai menargetkan pasar global. Ketiga, transformasi produk menjadi kunci utama. Saat ini, Indonesia masih didominasi oleh ekspor bahan mentah, sementara negara seperti Vietnam dan Thailand telah berfokus pada produk olahan seperti fillet, seafood beku, dan produk siap saji yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menekankan pentingnya hilirisasi dalam meningkatkan daya saing ekspor (KKP, 2024).
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat, mulai dari sumber daya ikan yang melimpah, posisi geografis yang strategis, hingga pasar domestik yang besar. Keunggulan ini diperkuat dengan posisi Indonesia yang mampu bersaing baik di pasar ASEAN maupun global. Namun, tanpa peningkatan kualitas, efisiensi, dan nilai tambah, keunggulan ini bisa tergerus oleh negara lain yang lebih agresif dan inovatif. Dalam konteks global, keberlanjutan dan efisiensi rantai pasok menjadi faktor penentu daya saing (FAO, 2024).
Baca juga: melihat-perdagangan-ikan-indonesia-di-era-mea
Di sisi lain, ada beberapa risiko yang perlu diantisipasi. Ketergantungan pada pasar regional dapat membuat harga stagnan dan membatasi pertumbuhan. Persaingan dengan Vietnam di pasar global juga semakin ketat, terutama dalam hal efisiensi produksi dan standar kualitas. Selain itu, isu keberlanjutan seperti overfishing menjadi ancaman serius jika tidak dikelola dengan baik. FAO (2024) menegaskan bahwa keberlanjutan sumber daya ikan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan perdagangan global.
Melihat seluruh dinamika ini, strategi terbaik bagi Indonesia adalah mengoptimalkan kedua pasar secara bersamaan. ASEAN dapat menjadi basis untuk menjaga stabilitas bisnis, sementara pasar global menjadi sumber pertumbuhan dan peningkatan nilai tambah. Dalam jangka panjang, transformasi menuju produk olahan dan peningkatan standar kualitas menjadi langkah yang tidak bisa ditawar. Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi berbagai lembaga internasional yang mendorong integrasi antara produksi, pengolahan, dan akses pasar global (World Bank, 2023).
Dus, Indonesia saat ini berada di titik penentuan. Dengan posisi sebagai pemimpin di ASEAN dan pemain besar di pasar global, peluang untuk menjadi kekuatan utama dunia terbuka lebar. Namun, peluang ini hanya dapat diwujudkan jika pelaku usaha dan pemangku kebijakan mampu membaca arah perubahan dan berani melakukan transformasi. Jika tidak, Indonesia berisiko tertinggal oleh negara lain yang lebih siap dan lebih agresif. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia mampu, tetapi apakah kita siap untuk naik kelas dan menjadi pemain utama dalam perdagangan ikan dunia.
Referensi
ASEAN Secretariat. (2023). ASEAN Statistical Yearbook 2023. Jakarta: ASEAN Secretariat.
Food and Agriculture Organization. (2024). The State of World Fisheries and Aquaculture 2024. FAO.
[ITC] International Trade Centre. 2026. International Trade Statistics. Diakses dari: https://www.trademap.org/
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2024). Statistik Kelautan dan Perikanan 2024. Jakarta: KKP.
United Nations Comtrade Database. (2025). International Trade Statistics for Fish and Fishery Products.
World Bank. (2023). Fish Trade and Global Value Chains in ASEAN. Washington, DC: World Bank.
