Ilustrasi Preferensi Konsumsi Ikan Provinsi Sulawesi Selatan (by ChatGPT)

Oleh : Suhana

 

Provinsi Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan budaya maritim yang kuat di Indonesia. Kedekatan masyarakat dengan laut, perairan pesisir, serta aktivitas perikanan telah membentuk pola konsumsi ikan yang khas dan beragam. Ikan tidak hanya dipandang sebagai sumber pangan utama, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi kuliner, identitas sosial, dan penopang ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, memahami preferensi konsumsi ikan masyarakat Sulawesi Selatan menjadi penting dalam membaca dinamika pembangunan sektor perikanan dan ketahanan pangan daerah.

Data BPS (2026) terkait rata-rata pengeluaran perkapita seminggu menurut kelompok jenis ikan di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2025 memberikan gambaran yang kaya mengenai preferensi konsumsi masyarakat. Pengeluaran per kapita digunakan sebagai proksi preferensi, karena mencerminkan kombinasi antara frekuensi konsumsi, nilai ekonomi, dan persepsi kualitas terhadap jenis ikan tertentu. Penulis dalam artikel ini menganalisis struktur preferensi tersebut, faktor pendorongnya, serta implikasinya bagi sektor perikanan dan pembangunan daerah.

Secara umum, struktur konsumsi ikan masyarakat Sulawesi Selatan menunjukkan dominasi ikan laut segar bernilai ekonomi menengah hingga tinggi, diikuti oleh ikan pelagis kecil dan komoditas perikanan olahan. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat tidak hanya mengonsumsi ikan sebagai sumber protein murah, tetapi juga sebagai komoditas bernilai rasa, prestise, dan tradisi kuliner.

Pengeluaran Perkapita Untuk Ikan

Berdasarkan data BPS (2026) terlihat bahwa pada tahun 2025, jenis ikan dengan pengeluaran tertinggi per kapita per minggu adalah bandeng sebesar Rp80.236, jauh melampaui komoditas lainnya. Disusul oleh udang dan lobster (Rp43.225), serta cakalang/dencis (Rp35.467) (Gambar 1). Kelompok ini membentuk lapisan preferensi utama masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan.

Gambar 1. Rata-rata Pengeluaran Perkapita Seminggu Menurut Kelompok Jenis Ikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2025 (Sumber: BPS 2026)

Gambar 1. Rata-rata Pengeluaran Perkapita Seminggu Menurut Kelompok Jenis Ikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2025 (Sumber: BPS 2026)

Tingginya pengeluaran konsumsi Bandeng menunjukkan posisi istimewa ikan ini dalam sistem pangan masyarakat Sulawesi Selatan. Bandeng bukan hanya ikan konsumsi harian, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekonomi yang kuat. Keberadaan sentra tambak bandeng di wilayah pesisir Sulawesi Selatan menjadikan ikan ini relatif mudah diakses dalam kondisi segar, sekaligus stabil dari sisi pasokan.

Bandeng juga memiliki fleksibilitas kuliner yang tinggi—dapat diolah menjadi bandeng bakar, pallumara, sup, hingga olahan tradisional lainnya. Dari perspektif gizi, bandeng dikenal kaya protein dan asam lemak esensial, sehingga diterima luas oleh berbagai kelompok usia. Dominasi bandeng mencerminkan kombinasi antara ketersediaan lokal, keterjangkauan harga relatif, serta kedekatan budaya.

Sementara itu, kelompok udang dan lobster menempati posisi kedua dengan pengeluaran Rp43.225 per kapita per minggu. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun tidak dikonsumsi setiap hari oleh seluruh lapisan masyarakat, komoditas ini memiliki nilai preferensi tinggi. Konsumsi udang dan lobster umumnya terkait dengan momen tertentu, konsumsi rumah tangga kelas menengah ke atas, serta kebutuhan kuliner spesifik.

Hal serupa terlihat pada Cakalang/dencis dan kelompok kembung, lema/tatare, dan banyar/banyara. Ikan-ikan pelagis ini sangat lekat dengan tradisi konsumsi masyarakat Sulawesi Selatan, terutama dalam masakan khas seperti Cakalang fufu, ikan bakar, dan olahan berkuah. Tingginya pengeluaran pada kelompok ini menunjukkan bahwa ikan pelagis tetap menjadi tulang punggung konsumsi ikan daerah.

Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa kelompok ikan pelagis kecil seperti teri (Rp19.969), selar (Rp8.773), dan tongkol (Rp8.336) mencerminkan pola konsumsi ikan rakyat yang luas dan merata. Meskipun nilai pengeluaran per kapita lebih rendah dibandingkan ikan bernilai tinggi, jenis ikan ini memiliki frekuensi konsumsi yang tinggi dan menjadi bagian penting dari menu harian.

Teri, baik segar maupun diawetkan, menunjukkan preferensi yang stabil. Ini mencerminkan strategi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan protein dengan biaya relatif rendah, sekaligus mempertahankan cita rasa lokal. Keberadaan teri diawetkan (Rp15.515) juga menegaskan pentingnya pengolahan tradisional dalam sistem pangan masyarakat pesisir.

Preferensi Ikan Budidaya Air Tawar dan Olahan

Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa ikan air tawar seperti mujair (Rp19.177), nila (Rp16.805), mas (Rp5.558), dan lele (Rp3.344) menempati lapisan preferensi menengah hingga bawah. Pola ini menunjukkan bahwa meskipun ikan air tawar dikonsumsi, preferensinya masih kalah dibanding ikan laut segar.

Namun demikian, keberadaan konsumsi ikan air tawar tetap penting, terutama di wilayah non-pesisir dan perkotaan. Rendahnya pengeluaran pada lele dan patin dapat mengindikasikan persepsi sebagai ikan murah, atau keterbatasan inovasi produk olahan yang mampu meningkatkan nilai tambah dan daya tarik konsumen.

Sementara itu konsumsi ikan diawetkan dan olahan berada pada tingkat preferensi lebih rendah dibanding ikan segar. Misalnya, ikan dalam kaleng (Rp866), bandeng diawetkan (Rp2.039), serta tongkol/tuna/cakalang diawetkan (Rp2.966). Hal ini mencerminkan preferensi masyarakat Sulawesi Selatan yang masih kuat terhadap ikan segar. Namun, keberadaan konsumsi ikan olahan tetap signifikan, terutama sebagai solusi praktis dan penyangga ketersediaan pangan saat musim paceklik atau keterbatasan pasokan segar.

Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa preferensi konsumsi ikan di Sulawesi Selatan tidak dapat dilepaskan dari faktor budaya dan sosial. Ikan laut segar sering diasosiasikan dengan kualitas, kehormatan tamu, dan tradisi makan bersama. Sementara itu, ikan murah dan olahan lebih banyak dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga.

Dari sisi ekonomi, pola pengeluaran juga mencerminkan kemampuan daya beli dan struktur pendapatan masyarakat. Kelompok ikan bernilai tinggi cenderung dikonsumsi oleh rumah tangga dengan pendapatan menengah ke atas, sedangkan ikan pelagis kecil dan ikan tawar menjadi penopang konsumsi protein kelompok menengah bawah.

Implikasi Kebijakan Sektor Perikanan

Temuan ini memiliki sejumlah implikasi strategis. Pertama, dominasi Bandeng dan ikan pelagis menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan pesisir dan tambak. Kebijakan pengelolaan berbasis ekosistem menjadi krusial agar preferensi konsumsi tidak mendorong eksploitasi berlebih.

Kedua, rendahnya preferensi terhadap ikan air tawar dan ikan olahan membuka ruang inovasi. Diversifikasi produk, penguatan branding lokal, serta peningkatan kualitas pengolahan dapat meningkatkan daya saing komoditas tersebut. Ketiga, data ini dapat menjadi dasar perumusan kebijakan gizi berbasis pangan lokal. Dengan mendorong konsumsi ikan yang beragam, pemerintah daerah dapat meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi perikanan lokal.

Dus, pola preferensi konsumsi ikan masyarakat Sulawesi Selatan Tahun 2025 menunjukkan keseimbangan antara tradisi maritim, akses sumber daya lokal, dan dinamika ekonomi rumah tangga. Bandeng dan ikan laut segar tetap menjadi primadona, sementara ikan pelagis kecil dan ikan air tawar berperan sebagai penyangga konsumsi harian. Memahami preferensi ini bukan hanya soal statistik konsumsi, tetapi juga kunci untuk merancang kebijakan perikanan, gizi, dan pembangunan wilayah yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, konsumsi ikan di Sulawesi Selatan dapat terus menjadi fondasi ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi biru daerah.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!