Cover GLOBEFISH Highlights Fourth Issue 2025

Oleh: Suhana

 

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta krisis ekologi perikanan tangkap, sektor perikanan dan akuakultur dunia justru menunjukkan daya tahan yang relatif kuat dalam perdagangan internasional. Laporan FAO – International Markets for Fisheries and Aquaculture Products, Fourth Issue 2025 mencatat bahwa perdagangan global produk perikanan dan akuakultur tetap tumbuh sekitar 2 persen pada 2025, meskipun banyak negara menerapkan tarif baru, memperketat kuota, dan menghadapi volatilitas harga energi serta logistic.

Namun, pertumbuhan ini tidak mencerminkan kesehatan seluruh sektor secara merata. Sebaliknya, laporan FAO mengungkap adanya pergeseran struktural penting dalam perdagangan global perikanan, yaitu dari perdagangan berbasis volume menuju perdagangan berbasis nilai, dengan dominasi pada spesies bernilai ekonomi tinggi seperti udang, salmon, tuna olahan, dan komoditas premium akuakultur lainnya. Dalam artikel singkat ini penulis mengulas secara kritis temuan tersebut dan menarik implikasi strategis bagi arah kebijakan dan strategi ekspor perikanan Indonesia tahun 2026.

Pergeseran Struktur Perdagangan Global: Dari Kuantitas ke Nilai

Pertumbuhan perdagangan global perikanan pada 2025 terutama didorong oleh spesies bernilai tinggi, bukan oleh peningkatan volume produksi perikanan tangkap. FAO menegaskan bahwa ekspansi akuakultur—yang lebih stabil, terkontrol, dan responsif terhadap permintaan pasar—menjadi fondasi utama perdagangan global saat ini

Sebaliknya, perdagangan ikan tangkap bernilai menengah dan rendah, khususnya groundfish dan pelagis Atlantik, justru mengalami kontraksi. Penurunan kuota cod dan mackerel di Atlantik Utara, serta konflik pengelolaan lintas negara, membatasi pasokan global dan meningkatkan harga, namun tidak diikuti oleh peningkatan volume perdagangan. Kondisi ini menegaskan bahwa pertumbuhan perdagangan tidak lagi dapat mengandalkan eksploitasi stok alam.

Sumber : GLOBEFISH Highlights Fourth Issue 2025

Dengan demikian, perdagangan global perikanan memasuki fase baru yang ditandai oleh ketergantungan pada spesies premium, dominasi produk akuakultur, peningkatan perdagangan produk olahan dan bernilai tambah, serta sensitivitas tinggi terhadap kebijakan tarif dan standar non-tarif.

Berdasarkan laporan FAO (2026) tersebut terlihat bahwa Udang merupakan kontributor terbesar terhadap pertumbuhan perdagangan perikanan global pada 2025. Permintaan yang kuat dari Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, dan Jepang menjadikan udang sebagai komoditas strategis lintas rezim perdagangan. Bahkan ketika Amerika Serikat menerapkan tarif efektif hingga 15–25 persen (dan hingga 58 persen untuk udang India), volume impor tetap tinggi pada semester pertama 2025 akibat strategi front-loading oleh importir

Fenomena ini menunjukkan dua hal penting, yaitu pertama, permintaan udang relatif inelastis terhadap harga, dan kedua, pasar global bersedia menyerap kenaikan biaya selama pasokan terjamin dan kualitas terstandar.

Sementara itu komoditas Salmon mencerminkan paradoks perdagangan bernilai tinggi. Produksi akuakultur yang meningkat pesat—terutama di Norwegia dan Chile—menyebabkan tekanan harga pada 2025. Namun, secara perdagangan, salmon tetap menjadi komoditas premium global dengan rantai pasok yang kuat dan tingkat substitusi rendah.

Hal ini menegaskan bahwa harga bukan satu-satunya indikator daya saing, melainkan konsistensi pasokan, standar keberlanjutan, dan akses pasar.

Lain halnya dengan komoditas tuna, berbeda dengan tuna segar atau beku utuh, produk tuna bernilai tambah (loin, fillet, canned premium, ready-to-eat) menunjukkan pertumbuhan perdagangan yang lebih stabil. Negara-negara importir besar semakin menuntut produk yang siap konsumsi, tersertifikasi, dan memiliki jejak karbon yang terukur.

Negara Pendorong, Bukti Pergeseran Strategi Ekspor

Laporan FAO menyoroti keberhasilan beberapa negara berkembang dalam memanfaatkan tren spesies bernilai tinggi, misalnya pertama, Viet Nam berhasil meningkatkan nilai ekspor melalui diversifikasi produk, seperti pangasius fillet ke Uni Eropa dan Brasil, serta lobster hidup ke Tiongkok. Kedua, Ekuador berhasil memperkuat posisinya sebagai raksasa udang global dengan tambahan nilai ekspor hampir USD 900 juta.

Ketiga, India, meskipun dibebani tarif tinggi, tetap mencatat pertumbuhan nilai ekspor berkat skala produksi dan efisiensi industri. Keberhasilan negara-negara ini menegaskan bahwa daya saing ekspor perikanan tidak lagi ditentukan oleh kelimpahan sumber daya, melainkan oleh strategi pasar, industrialisasi, dan ketahanan kebijakan.

Sementara itu Indonesia berada pada posisi paradoksal. Di satu sisi, Indonesia adalah salah satu produsen perikanan terbesar dunia. Di sisi lain, nilai ekspor perikanan Indonesia masih relatif tertinggal dibandingkan potensi sumber daya dan posisi geopolitiknya.

Ketergantungan pada ekspor bahan mentah (udang beku mentah, tuna beku, cumi utuh) membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga, tarif, dan standar non-tarif. Dalam konteks perdagangan global yang semakin bernilai tinggi, strategi lama berbasis volume menjadi tidak relevan.

Berdasarkan dinamika perikanan global 2025 tersebut, strategi ekspor perikanan Indonesia perlu diarahkan pada lima pilar utama, yaitu pertama, reorientasi komoditas ke spesies bernilai tinggi. Indonesia harus memprioritaskan Udang berkelanjutan (ASC, BAP), Tuna olahan dan loin premium, lobster budidaya, dan produk akuakultur bernilai tinggi (kerapu, barramundi, nila premium). Pendekatan ini menuntut konsistensi kualitas dan pasokan, bukan sekadar peningkatan produksi.

Kedua, hlirisasi nyata, bukan simbolik. Hilirisasi harus diartikan sebagai peningkatan ekspor produk siap konsumsi, penguatan industri pengolahan berbasis Kawasan, integrasi UMKM dalam rantai nilai ekspor. Tanpa hilirisasi, Indonesia akan terus menjadi price taker. Ketiga, diversifikasi pasar ekspor. Ketergantungan berlebihan pada AS, Jepang, dan Uni Eropa meningkatkan risiko tarif. Pasar alternatif seperti Timur Tengah, Afrika Utara, Amerika Latin, BRICI, dan ASEAN intra-regional perlu dikembangkan secara agresif.

Keempat, diplomasi perdagangan perikanan. Indonesia perlu memanfaatkan perjanjian dagang, kerja sama standar mutu, dan negosiasi tarif dan non-tarif. Diplomasi perikanan harus menjadi bagian dari kebijakan luar negeri ekonomi. Kelima, integrasi keberlanjutan dan ketertelusuran. Pasar global bernilai tinggi mensyaratkan ketertelusuran digital, kepatuhan ESG, dan produksi rendah karbon. Tanpa ini, produk Indonesia akan tersingkir dari segmen premium.

Dus, temuan FAO (2026) menunjukkan bahwa pertumbuhan perdagangan global perikanan pada 2025 bukanlah sinyal pemulihan sektor secara menyeluruh, melainkan indikasi transformasi struktural menuju perdagangan bernilai tinggi. Negara yang mampu beradaptasi dengan perubahan ini akan menguasai pasar global; yang bertahan pada paradigma lama akan tertinggal. Bagi Indonesia, tahun 2026 harus menjadi titik balik strategi ekspor perikanan, yaitu dari volume ke nilai, dari eksploitasi ke industri, dan dari reaktif ke strategis. Tanpa perubahan mendasar, Indonesia berisiko menjadi penonton dalam perdagangan global perikanan yang justru tumbuh di depan mata.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!