
Oleh : Suhana
Konsumsi ikan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kualitas gizi masyarakat sekaligus mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi suatu wilayah. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya protein hewani yang sehat dan berkelanjutan, pertanyaan mendasar pun muncul, yaitu ikan apa yang paling dikonsumsi masyarakat Kota Bogor pada tahun 2025?
Sebagai kota non-pesisir dengan karakter perkotaan yang kuat, Kota Bogor memiliki pola konsumsi ikan yang unik dibandingkan wilayah pesisir. Akses terhadap ikan laut segar, dominasi ikan budidaya air tawar, serta tingginya konsumsi ikan olahan menjadi ciri khas yang membedakan preferensi konsumsi masyarakatnya. Selain itu, perubahan gaya hidup urban, keterbatasan waktu memasak, dan pertimbangan harga turut memengaruhi pilihan rumah tangga dalam mengonsumsi ikan.
Artikel ini disusun berdasarkan data Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Seminggu Menurut Kelompok Ikan di Kota Bogor Provinsi Jawa Barat Tahun 2025 (Rupiah/Kapita/Minggu) (Gambar 1). Pengeluaran konsumsi digunakan sebagai pendekatan untuk membaca tingkat preferensi masyarakat terhadap berbagai jenis ikan, dengan asumsi bahwa semakin besar pengeluaran pada suatu komoditas, semakin tinggi tingkat konsumsi dan minat masyarakat terhadap komoditas tersebut.

Melalui analisis ini, artikel bertujuan untuk mengungkap jenis ikan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Kota Bogor, mengidentifikasi pola dominasi ikan segar, ikan budidaya, dan ikan olahan, serta membahas faktor-faktor yang memengaruhi preferensi konsumsi tersebut. Lebih jauh, hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi perumusan kebijakan pangan dan gizi, pengembangan perikanan daerah, serta strategi peningkatan konsumsi ikan yang lebih beragam, sehat, dan berkelanjutan di wilayah perkotaan.
Pengeluaran Konsumsi Ikan Kota Bogor 2025
Gambar 1 menunjukkan variasi pengeluaran konsumsi ikan yang cukup lebar, mulai dari Rp1.993/kapita/minggu untuk komoditas tertinggi hingga hanya Rp5/kapita/minggu untuk komoditas terendah. Secara umum, kelompok ikan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori besar, yaitu (1) kelompok ikan dan hasil perikanan bernilai ekonomi tinggi, (2) Kelompok ikan budidaya air tawar, dan (3) Kelompok ikan laut segar dan ikan olahan/diawetkan. Distribusi pengeluaran ini mencerminkan preferensi masyarakat Kota Bogor yang sangat dipengaruhi oleh akses pasar, harga relatif, kemudahan pengolahan, serta persepsi nilai gizi dan status sosial dari suatu jenis ikan.
Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa pada tahun 2025 kelompok udang dan lobster menempati peringkat tertinggi dengan pengeluaran rata-rata Rp1.993/kapita/minggu, jauh di atas kelompok ikan lainnya. Tingginya pengeluaran ini menunjukkan bahwa udang dan lobster bukan sekadar sumber protein, tetapi juga memiliki nilai simbolik dan preferensi rasa yang tinggi di kalangan masyarakat Kota Bogor.
Beberapa faktor yang menjelaskan tingginya preferensi ini antara lain, (1) udang dianggap sebagai bahan pangan premium dan fleksibel untuk berbagai menu rumah tangga maupun konsumsi luar rumah; (2) ketersediaan udang dalam berbagai bentuk (segar, beku, dan olahan) di pasar modern dan tradisional; dan (3) perubahan pola konsumsi masyarakat urban yang semakin sering mengonsumsi produk perikanan non-ikan (non-finfish).
Sementara itu produk ikan diawetkan seperti teri diawetkan (Rp1.537) dan tongkol/tuna/cakalang diawetkan (Rp1.144) menempati posisi sangat tinggi dalam struktur konsumsi. Bahkan, beberapa ikan laut segar memiliki pengeluaran lebih rendah dibanding versi diawetkannya.
Fenomena ini mengindikasikan, (1) tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang praktis dan tahan lama; (2) Peran penting ikan olahan dalam memenuhi kebutuhan protein rumah tangga perkotaan; dan (3) keterbatasan waktu dan preferensi terhadap produk siap masak atau siap konsumsi.

Preferensi Kuat terhadap Ikan Budidaya Air Tawar
Salah satu ciri khas konsumsi ikan di Kota Bogor adalah dominasi ikan budidaya air tawar, khususnya Mujair (Rp1.155), Nila (Rp1.081), Mas (Rp840), Lele (Rp812), Gurame (Rp284), dan Patin (Rp129). Ikan-ikan tersebut relatif mudah diperoleh, harganya stabil, dan telah lama menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat Jawa Barat.
Tingginya preferensi terhadap ikan air tawar juga menunjukkan keberhasilan sistem distribusi perikanan budidaya yang relatif pendek dan efisien, terutama dari sentra produksi di Jawa Barat.
Selain itu, ikan budidaya memiliki citra sebagai ikan segar dengan risiko mutu yang lebih rendah, mudah diolah dengan cita rasa yang familiar, dan cocok untuk konsumsi keluarga sehari-hari.
Sementara itu kelompok ikan laut segar seperti tongkol (Rp 558), tuna (Rp 164), tenggiri (Rp 76), dan selar (Rp 72) menunjukkan tingkat preferensi menengah hingga rendah dibanding ikan budidaya dan ikan diawetkan.
Rendahnya pengeluaran ikan laut segar di Kota Bogor dapat dikaitkan dengan beberapa factor, diantaranya (1) Kota Bogor bukan wilayah pesisir sehingga bergantung pada distribusi dari daerah lain; (2) Tantangan rantai dingin (cold chain) yang memengaruhi kualitas dan harga.; (3) Persepsi konsumen terhadap kesegaran ikan laut dibanding ikan air tawar. Sebaliknya, kelompok ikan segar/basah lainnya (Rp296) menunjukkan bahwa masyarakat masih mengonsumsi ikan segar, tetapi tidak selalu spesifik pada jenis ikan laut tertentu.
Rendahnya Preferensi terhadap Ikan Pelagis Kecil dan Moluska
Komoditas seperti Teri segar (Rp 11), Kerang, siput, bekicot, remis (Rp 6), dan Ekor kuning (Rp 5) memiliki pengeluaran yang sangat rendah. Padahal, secara gizi, kelompok ikan pelagis kecil dan moluska kaya akan protein, mineral, dan mikronutrien penting. Rendahnya preferensi ini mencerminkan tiga hal, yaitu (1) persepsi sosial bahwa ikan kecil adalah pangan inferior; (2) kurangnya variasi olahan yang menarik bagi konsumen urban; dan (3) minimnya promosi gizi dan edukasi konsumsi ikan berbasis nilai nutrisi.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, pola preferensi konsumsi ikan masyarakat Kota Bogor tahun 2025 dapat dirumuskan sebagai berikut (1) Produk bernilai tinggi dan praktis lebih disukai dibanding ikan segar yang membutuhkan pengolahan lebih rumit; (2) Ikan budidaya air tawar menjadi tulang punggung konsumsi harian; (3) Ikan olahan memiliki posisi strategis dalam pola konsumsi urban; dan (4) diversifikasi konsumsi ikan masih rendah, terutama untuk ikan kecil dan hasil perikanan non-ikan.
Implikasi Kebijakan
Tingginya konsumsi ikan air tawar membuka peluang pengembangan urban aquaculture, rantai pasok pendek (short supply chain), dan UMKM olahan ikan berbasis bahan baku local. Selain itu juga karena ikan diawetkan sangat dominan, perlu perhatian pada kandungan garam dan pengawet, Inovasi produk ikan olahan sehat, dan standarisasi mutu dan keamanan pangan. Oleh sebab itu pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu terus mengampanyekan konsumsi ikan pelagis kecil, mengaitkan konsumsi ikan dengan isu gizi, stunting, dan kesehatan keluarga, dan memperkuat literasi pangan berbasis lokal
Dus, preferensi konsumsi ikan masyarakat Kota Bogor tahun 2025 menunjukkan karakter khas wilayah urban non-pesisir, yaitu dominasi ikan budidaya air tawar, tingginya konsumsi produk ikan olahan, serta kecenderungan memilih komoditas bernilai tinggi dan praktis. Pola ini memberikan peluang besar bagi pengembangan perikanan budidaya, industri pengolahan, dan UMKM berbasis ikan, namun sekaligus menantang upaya diversifikasi konsumsi dan peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Ke depan, kebijakan konsumsi ikan di Kota Bogor tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah konsumsi, tetapi juga perlu diarahkan pada keseimbangan antara kepraktisan, nilai gizi, keberlanjutan, dan ketahanan pangan perkotaan.
