Oleh: Suhana

Ikan merupakan sumber protein hewani yang memiliki peran strategis dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia. Kandungan protein tinggi, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral menjadikan ikan sebagai komponen penting dalam upaya peningkatan gizi masyarakat serta pencegahan masalah kesehatan seperti stunting dan gizi buruk. Namun, tingginya potensi sumber daya perikanan suatu daerah tidak selalu berbanding lurus dengan pola konsumsi ikan masyarakatnya.

Provinsi Jawa Timur, sebagai salah satu sentra perikanan nasional dengan wilayah pesisir yang luas, perairan laut yang produktif, serta sektor perikanan budidaya air tawar yang berkembang pesat, memberikan gambaran menarik mengenai dinamika konsumsi ikan. Data rata-rata pengeluaran per kapita per minggu menurut jenis ikan menjadi instrumen penting untuk memahami preferensi konsumsi masyarakat, bukan hanya dari sisi gizi, tetapi juga dari sudut pandang ekonomi, budaya, dan aksesibilitas pangan.

Berdasarkan hal tersebut, Artikel ini mengulas secara mendalam pola pengeluaran konsumsi ikan masyarakat Jawa Timur berdasarkan jenis ikan. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk mengungkap jenis ikan yang paling dominan, peran ikan budidaya dan ikan laut, posisi produk olahan dan diawetkan, serta implikasinya terhadap kebijakan pangan dan pembangunan perikanan daerah.

Hasil analisis data BPS (2025) menunjukkan bahwa pola pengeluaran untuk konsumsi ikan masyarakat Jawa Timur tidak didominasi oleh satu jenis ikan laut bernilai tinggi, melainkan oleh ikan yang mudah diakses, terjangkau, dan akrab dengan konsumsi harian rumah tangga. Hal ini tercermin dari besarnya pengeluaran pada jenis ikan tertentu yang secara ekonomi relatif murah namun dikonsumsi secara luas (Gambar 1).

Gambar 1. Rata-rata Pengeluaran Perkapita Seminggu Menurut Kelompok Ikan Per Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur Tahun 2024 (Rupiah/Kapita/Minggu) (Sumber: BPS 2026)

Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa secara umum, struktur pengeluaran konsumsi ikan di Jawa Timur dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori besar:

  1. Ikan air tawar budidaya,
  2. Ikan laut segar populer,
  3. Ikan dan hasil perikanan diawetkan/olahan,
  4. Komoditas perikanan bernilai tinggi namun konsumsi terbatas.

Keempat kelompok ini membentuk gambaran utuh tentang bagaimana masyarakat Jawa Timur memenuhi kebutuhan protein ikan dalam kehidupan sehari-hari.

Lele: Pilar Utama Konsumsi Ikan Masyarakat

Dengan nilai pengeluaran Rp49.695/kapita/minggu, lele menempati posisi tertinggi di antara seluruh jenis ikan. Angka ini terpaut cukup jauh dari jenis ikan lain, menandakan dominasi lele sebagai sumber protein ikan utama bagi masyarakat Jawa Timur.

Dominasi lele tidak terlepas dari beberapa faktor kunci. Pertama, lele merupakan ikan budidaya yang sangat adaptif dan dapat diproduksi di berbagai skala, mulai dari kolam rumah tangga hingga usaha komersial. Kedua, harga lele relatif stabil dan terjangkau, menjadikannya pilihan utama bagi rumah tangga dari berbagai kelompok pendapatan. Ketiga, lele telah terintegrasi kuat dalam budaya kuliner lokal, khususnya melalui warung makan rakyat seperti pecel lele yang tersebar luas.

Dalam konteks ketahanan pangan, lele berperan sebagai protein rakyat—mudah diproduksi, mudah didistribusikan, dan mudah dikonsumsi. Ketergantungan yang tinggi pada lele juga menunjukkan bahwa kebijakan perikanan budidaya memiliki kontribusi nyata terhadap pemenuhan gizi masyarakat.

Ikan Air Tawar Lainnya: Penopang Konsumsi Harian

Selain lele, ikan air tawar lain seperti mujair (Rp28.955), bandeng (Rp25.173), nila (Rp8.584), patin (Rp6.702), dan gurame (Rp6.585) juga menunjukkan tingkat konsumsi yang signifikan. Kelompok ikan ini membentuk tulang punggung konsumsi ikan di banyak wilayah, khususnya daerah non-pesisir.

Ikan-ikan tersebut memiliki beberapa keunggulan utama:

  • Pasokan relatif stabil sepanjang tahun,
  • Harga lebih terkendali dibanding ikan laut tertentu,
  • Cocok dengan selera lokal dan pola masak tradisional.

Bandeng, meskipun sering dikategorikan sebagai ikan payau, memiliki posisi unik karena dikonsumsi luas baik di wilayah pesisir maupun pedalaman. Hal ini menunjukkan bahwa jaringan distribusi dan preferensi budaya berperan besar dalam membentuk pola konsumsi ikan.

Ikan Laut Populer: Tongkol, Tuna, dan Cakalang

Kelompok ikan laut populer masih memegang peranan penting dalam konsumsi ikan Jawa Timur. Tongkol segar (Rp34.590) serta tongkol/tuna/cakalang diawetkan (Rp34.532) menempati peringkat kedua dan ketiga dalam pengeluaran konsumsi.

Tingginya pengeluaran pada kelompok ini menunjukkan bahwa ikan pelagis besar masih menjadi pilihan utama masyarakat, baik dalam kondisi segar maupun diawetkan. Menariknya, nilai pengeluaran ikan diawetkan hampir setara dengan ikan segar, yang mengindikasikan meningkatnya peran produk olahan dalam menjangkau wilayah non-pesisir dan rumah tangga dengan keterbatasan akses ikan segar.

Kondisi ini mencerminkan perubahan gaya hidup dan pola konsumsi, di mana kepraktisan, daya simpan, dan kemudahan distribusi menjadi faktor penting dalam keputusan konsumsi.

Udang dan Hasil Perikanan Bernilai Tinggi

Udang dan lobster mencatat pengeluaran sebesar Rp31.114/kapita/minggu, menempatkannya di kelompok atas konsumsi ikan. Namun, tingginya nilai ini lebih mencerminkan harga komoditas yang mahal, bukan volume konsumsi yang besar.

Sebaliknya, komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kepiting, rajungan, kakap, tenggiri, dan bawal justru memiliki tingkat pengeluaran yang relatif rendah. Fenomena ini mengindikasikan bahwa sebagian besar hasil tangkapan komoditas premium lebih diarahkan untuk pasar luar daerah, restoran, atau ekspor, sehingga kontribusinya terhadap konsumsi rumah tangga lokal menjadi terbatas.

Hal ini menunjukkan adanya paradoks perikanan, di mana daerah penghasil ikan bernilai tinggi belum tentu memiliki tingkat konsumsi lokal yang tinggi.

Peran Ikan Olahan dan Diawetkan

Produk perikanan diawetkan seperti teri diawetkan, kembung peda, bandeng diawetkan, ikan kaleng, serta udang kering (ebi, rebon) memiliki posisi penting meskipun nilai pengeluarannya relatif lebih rendah dibanding ikan segar.

Produk-produk ini memainkan peran strategis, terutama di wilayah pedalaman dan daerah dengan keterbatasan akses ikan segar. Rendahnya nilai pengeluaran tidak serta-merta menunjukkan rendahnya peran gizi, melainkan mencerminkan:

  • Harga per satuan yang lebih murah,
  • Konsumsi dalam jumlah kecil namun rutin,
  • Persepsi masyarakat yang masih menempatkan ikan segar sebagai pilihan utama.

Ke depan, inovasi produk olahan yang terjangkau dan bergizi berpotensi meningkatkan kontribusi kelompok ini terhadap ketahanan pangan.

Jenis Ikan dengan Konsumsi Terendah

Beberapa jenis ikan seperti gabus diawetkan, cumi-cumi diawetkan, sepat diawetkan, dan ikan air tawar tertentu menunjukkan tingkat pengeluaran yang sangat rendah. Kondisi ini dapat disebabkan oleh keterbatasan pasokan, preferensi budaya yang sempit, atau tergesernya jenis ikan tersebut oleh alternatif yang lebih murah dan mudah diperoleh.

Namun demikian, beberapa jenis seperti gabus sebenarnya memiliki nilai gizi dan nilai kesehatan yang tinggi. Rendahnya konsumsi menunjukkan adanya peluang untuk edukasi gizi dan diversifikasi konsumsi ikan lokal.

Implikasi Kebijakan dan Pembangunan Perikanan

Pola konsumsi ikan berdasarkan jenis ini memberikan sejumlah implikasi penting, yaitu pertama, ikan budidaya air tawar merupakan kunci ketahanan pangan. Oleh karena itu penguatan budidaya lele, nila, dan mujair akan berdampak langsung pada gizi masyarakat. Kedua, distribusi ikan laut perlu diperkuat ke wilayah non-pesisir. Infrastruktur rantai dingin dan logistik menjadi faktor penentu.

Ketiga, produk olahan ikan harus dikembangkan secara inovatif dan terjangkau. UMKM perikanan memiliki peran strategis dalam hal ini. Keempat Komoditas premium perlu diintegrasikan ke konsumsi local. Agar manfaat perikanan tidak hanya dinikmati pasar luar daerah.

Dus, struktur konsumsi ikan masyarakat Jawa Timur menunjukkan bahwa aksesibilitas dan keterjangkauan lebih menentukan dibanding nilai ekonomi komoditas itu sendiri. Lele dan ikan budidaya lainnya menjadi fondasi utama konsumsi, sementara ikan laut bernilai tinggi masih terbatas pada segmen tertentu.

Untuk membangun masyarakat Jawa Timur yang lebih sehat dan bergizi, kebijakan perikanan perlu bergerak melampaui produksi semata, menuju pemerataan akses, diversifikasi konsumsi, dan edukasi gizi berbasis ikan lokal. Dengan demikian, potensi besar sektor perikanan dapat benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!