Ilustrasi ikan segar air tawar dan laut di Pasar Tradisional Jambu Dua Kota Bogor (Sumber : Dokumen pribadi)

Oleh: Suhana

Akhir pekan sering kali menjadi waktu bagi keluarga di Provinsi Jawa Barat untuk berbelanja ke pasar atau sekadar menikmati hidangan spesial di restoran. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, jenis ikan apa yang sebenarnya paling banyak menyerap anggaran belanja rumah tangga kita?

Data terbaru mengenai rata-rata pengeluaran perkapita seminggu menurut kelompok ikan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2025 (Gambar 1) memberikan jawaban yang mengejutkan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, mereka adalah cerminan dari budaya, daya beli, dan tantangan logistik yang ada di provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia ini.

Mari kita bedah apa arti data ini bagi para pengusaha, bagaimana masyarakat bisa lebih cerdas berbelanja, dan apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan.

Gambar 1. Rata-rata Pengeluaran Perkapita Seminggu Menurut Kelompok Ikan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2025 (Sumber: BPS 2026)

Tingkat Preferensi Konsumsi Ikan Tahun 2025

Berdasarkan Gambar 1 terlihat ada tiga jenis ikan yang rata-rata pengeluaran masyarakat perkapita perminggu tertinggi, yaitu Ikan Mas (Rp31.833), Ikan Mujair (Rp30.775), dan Ikan Nila (Rp26.338). Fenomena ini mengukuhkan Jawa Barat sebagai benteng pertahanan perikanan budidaya air tawar.

Bagi warga Jawa Barat, ikan air tawar bukan sekadar sumber protein, melainkan bagian dari identitas kuliner. Hidangan seperti pepes lauk mas atau nila bakar adalah menu wajib dalam jamuan sunda. Tingginya pengeluaran pada jenis ini menunjukkan bahwa masyarakat merasa nyaman dengan rasa dan harga yang relatif stabil di pasar lokal.

Berdasarkan hal tersebut, bagi para pembudidaya ikan, data pengeluaran perkapita seminggu merupakan “lampu hijau” untuk terus meningkatkan produktivitas. Namun, pasar yang sudah matang ini membutuhkan inovasi. Para pelaku usaha ikan perlu menawarkan produk yang sudah dibersihkan (siap masak) atau bumbu kuning kemasan. Sementara itu penggunaan sistem bioflok atau recirculating aquaculture system (RAS) dapat membantu memenuhi permintaan yang terus melonjak tanpa harus bergantung pada lahan yang semakin sempit di Jawa Barat.

Hal yang cukup mengejutkan adalah pengeluaran masyarakat perkapita perminggu menempatkan Udang dan Lobster yang berada di peringkat keempat dengan angka Rp20.415. Angka ini jauh melampaui ikan laut populer lainnya seperti Tongkol atau Kembung. Hal ini menandakan adanya pergeseran kelas menengah di Jawa Barat. Masyarakat mulai mengalokasikan anggaran untuk protein yang dulu dianggap mewah. Udang kini menjadi bagian dari konsumsi mingguan, bukan lagi sekadar hidangan pesta.

Berdasarkan hal tersebut, pemerintah daerah perlu mendorong sentra budidaya udang vaname ramah lingkungan di wilayah pesisir utara (Pantura) dan selatan Jawa Barat. Potensi ekspor memang besar, namun pasar domestik Jawa Barat sendiri terbukti sangat menggiurkan. Infrastruktur menuju pesisir perlu diperkuat agar biaya logistik udang segar tetap kompetitif.

Berdasarkan hasil analisis data BPS (2026) menunjukkan bahwa Teri Diawetkan (Rp14.538) dan Tongkol/Tuna/Cakalang Diawetkan (Rp13.790) memiliki pengeluaran yang lebih tinggi daripada ikan segar sejenisnya. Ikan awetan (asin, pindang, asap) adalah solusi masyarakat terhadap dua kendala, yaitu waktu dan logistik. Ikan awetan lebih mudah disimpan tanpa kulkas dan memiliki rasa yang “kuat” sehingga cukup dikonsumsi dalam jumlah sedikit bersama nasi.

Ada peluang besar dalam modernisasi pengemasan ikan awetan. Masyarakat Jawa Barat menyukai ikan asin, tetapi mereka mulai peduli pada higienitas. Produk ikan asin yang dikemas dengan vakum (vacuum packed) dan memiliki label bebas formalin akan menjadi primadona baru di supermarket.

Anomali Ikan Laut: Tantangan “Cold Chain”

Mari kita perhatikan rata-rata pengeluaran perkapita perminggu yang paling rendah pada Gambar 1, terlihat bahwa ikan Tenggiri (Rp1.186), Ekor Kuning (Rp970), dan Baronang (Rp159) menunjukkan angka yang sangat rendah. Apakah orang Jawa Barat tidak suka ikan laut? Tidak juga. Masalah utamanya adalah aksesibilitas.

Ikan laut segar membutuhkan rantai dingin (cold chain) yang sempurna. Biaya es batu, listrik untuk cold storage, dan transportasi dari pelabuhan ke wilayah pegunungan seperti Bandung atau Garut membuat harga ikan laut melambung tinggi di tingkat konsumen akhir, atau kualitasnya menurun sehingga tidak menarik bagi pembeli.

Oleh sebab itu pemerintah perlu membangun “Pasar Ikan Modern” di wilayah-wilayah yang jauh dari laut adalah kunci. Pemerintah perlu memberikan insentif bagi investor yang mau membangun gudang pendingin skala kecil di pasar-pasar tradisional.

Dus, berdasarkan analisis di atas, kita dapat menarik benang merah untuk masa depan perikanan di Jawa Barat, yaitu pertama, bagi pelaku usaha, jangan hanya terpaku pada cara lama. Diversifikasi produk menjadi barang siap saji (ready-to-cook) adalah kunci memenangkan hati ibu rumah tangga modern di Jawa Barat yang sibuk namun tetap ingin menyajikan ikan. Kedua, bagi masyarakat, mulailah melakukan diversifikasi konsumsi. Mengonsumsi ikan laut (meski dalam bentuk beku yang berkualitas) dapat memberikan variasi nutrisi seperti Omega-3 dan yodium yang mungkin tidak setinggi pada ikan air tawar. Ketiga, bagi pemerintah, rata-rata pengeluaran masyarakat perkapita perminggu ini adalah bukti bahwa “ketahanan pangan” di Jawa Barat sangat bergantung pada kelancaran arus barang dari kolam dan pesisir ke piring konsumen. Investasi pada infrastruktur pasar tradisional jauh lebih efektif daripada sekadar kampanye “Ayo Makan Ikan”.

Jawa Barat memiliki potensi pasar yang luar biasa besar. Dengan rata-rata pengeluaran yang mencapai puluhan ribu rupiah per kapita hanya untuk ikan, sektor ini adalah mesin ekonomi yang kuat. Jika dikelola dengan integrasi antara petani, nelayan, pengusaha, dan pemerintah, visi Jawa Barat sebagai provinsi mandiri protein bukan lagi sekadar impian.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!