
Sinopsis Jurnal
Oleh: Suhana
Selama berdekade-dekade, rumput laut hanya dipandang sebagai komoditas hilir: bahan pengental agar-agar, campuran kosmetik, atau pakan ternak murah. Namun, sebuah terobosan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Communications Sustainability (2026) oleh Fakhraee dan Planavsky menuntut kita untuk mengubah cara pandang tersebut secara radikal. Penelitian ini mengungkap bahwa budidaya rumput laut bukan hanya soal ketahanan pangan, melainkan mesin “penyedot” karbon raksasa melalui mekanisme yang selama ini kurang diapresiasi, yaitu produksi Alkalinitas sedimen.
Bagi Indonesia, sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, temuan ini bukan sekadar tambahan catatan kaki ilmiah. Ini adalah tiket emas menuju kedaulatan ekonomi hijau—jika kita mampu menyusun strategi yang tepat.
Membedah Sains: Mengapa Ini Berbeda dari “Blue Carbon” Biasa?
Kritik utama terhadap solusi berbasis alam (nature-based solutions) sering kali berputar pada isu permanensi. Banyak pihak skeptis bahwa karbon yang diserap oleh tanaman akan terlepas kembali ke atmosfer saat tanaman tersebut mati atau membusuk. Namun, studi terbaru ini memberikan argumen tandingan yang kuat.
Penelitian ini menggunakan model diagenetik sedimen untuk menunjukkan bahwa biomassa rumput laut yang jatuh ke dasar laut meningkatkan fluks karbon organik. Di sana, terjadi proses kimiawi yang luar biasa, yaitu (Fakhraee and Planavsky 2026):
- Pelarutan Kalsit: Respirasi aerobik dari materi organik meningkatkan keasaman di lapisan sedimen tertentu, yang justru mempercepat pelarutan kalsium karbonat (CaCO3) menjadi bikarbonat (HCO3).
- Reduksi Sulfat: Di lapisan yang miskin oksigen (anoksik), mikroba membantu proses reduksi sulfat yang juga menghasilkan alkalinitas.
Mengapa ini penting secara kritis? Karena tidak seperti penyimpanan karbon organik dalam jaringan tanaman yang bisa terurai dalam hitungan dekade, karbon yang tersimpan melalui jalur alkalinitas ini akan menetap di lautan selama ribuan tahun. Kita tidak lagi bicara tentang “menabung” karbon sementara, tapi mengunci karbon secara geologis.

Potensi Angka: Skala yang Menggetarkan
Berdasarkan simulasi stokastik, setiap hektar kebun rumput laut mampu menyerap rata-rata 0,85 ton CO2 per tahun. Jika dunia mampu memperluas lahan budidaya hingga 67,78 juta hektar pada tahun 2050 sesuai proyeksi, maka kita bisa menarik sekitar 57,6 juta ton CO2 dari atmosfer setiap tahunnya.
Bagi Indonesia, yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, potensi ini bukan hanya angka di atas kertas. Ini adalah kapasitas industri yang bisa mengubah wajah ekonomi pesisir kita secara total.
Namun demikian, meskipun memiliki potensi masif, industri rumput laut Indonesia masih terjebak dalam paradigma lama. Ada beberapa tantangan kritis yang harus kita akui:
- Rantai Pasok yang Fragmentasi: Petani kita masih menjual rumput laut dalam bentuk mentah (raw dried seaweed) dengan harga yang ditentukan oleh tengkulak. Manfaat karbon yang ditemukan dalam studi ini sama sekali belum masuk dalam struktur harga.
- Kurangnya Verifikasi Data: Studi Fakhraee dan Planavsky menekankan pentingnya verifikasi lapangan untuk mengonfirmasi fluks alkalinitas. Di Indonesia, riset serupa masih sangat minim dan belum terintegrasi dengan kebijakan karbon nasional.
- Ancaman Perubahan Iklim: Ironisnya, rumput laut yang diharapkan menjadi solusi iklim justru terancam oleh kenaikan suhu laut yang menyebabkan penyakit seperti ice-ice.
Strategi Transformasi Rumput Laut Indonesia
Untuk memaksimalkan temuan ilmiah ini menjadi keuntungan nyata, Indonesia memerlukan peta jalan strategis yang agresif, yaitu pertama, monetisasi lewat “Carbon Insetting”. Kita tidak boleh hanya menunggu pasar karbon sukarela (VCM) yang sering kali rumit secara birokrasi. Indonesia harus mendorong mekanisme insetting. Dalam model ini, perusahaan besar yang membeli rumput laut Indonesia (misalnya industri farmasi atau bioplastik) membiayai upaya penyerapan karbon langsung di dalam rantai pasok mereka. Petani tidak hanya dibayar untuk rumput lautnya, tapi juga untuk “jasa alkalinitas” yang mereka hasilkan.
Kedua, Integrasi Teknologi “Enhanced Alkalinity”. Penelitian ini menyarankan bahwa penambahan mineral seperti batu kapur (limestone) di area budidaya dapat secara dramatis meningkatkan laju pelarutan karbonat dan produksi alkalinitas. Indonesia, yang kaya akan deposit batu kapur, bisa mengintegrasikan industri tambang mineral dengan budidaya laut untuk menciptakan sistem penyerapan karbon yang jauh lebih efisien.
Ketiga, Digitalisasi dan MRV (Measurement, Reporting, Verification). Tanpa data, karbon hanya akan jadi janji manis. Kita butuh sistem pemantauan berbasis sensor dan satelit untuk mengukur fluks alkalinitas di bawah kebun rumput laut secara real-time. Ini akan memberikan bukti ilmiah yang kuat untuk pendaftaran kredit karbon di tingkat internasional.
Keempat, Hilirisasi dan Material Baru. Rumput laut tidak boleh berhenti di agar-agar. Kita harus mendorong penggunaan rumput laut untuk bioplastik, kain, dan bahan bangunan. Mengapa? Karena produk-produk ini mengunci karbon organik di dalam material padat, sementara sedimen di bawahnya mengunci karbon melalui alkalinitas. Ini adalah strategi “Double Carbon Capture”.
Dus, Penelitian Fakhraee and Planavsky (2026) telah memberikan landasan ilmiah bahwa rumput laut adalah kunci penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui jalur alkalinitas yang permanen. Namun, sains tetaplah sains jika tidak diikuti oleh keberanian politik dan ekonomi.
Indonesia berada di persimpangan jalan. Kita bisa terus menjadi sekadar eksportir bahan mentah yang murah, atau kita bisa bertransformasi menjadi Superpower Karbon Biru. Menjadikan rumput laut sebagai instrumen ekonomi hijau bukan hanya tentang menyelamatkan bumi, tetapi tentang memberikan martabat dan kesejahteraan bagi jutaan petani pesisir kita.
Saatnya kita berhenti memandang rumput laut sebagai gulma laut biasa. Ia adalah teknologi canggih ciptaan alam yang siap membantu kita memenangkan perang melawan krisis iklim.
Referensi Utama: Fakhraee, M., Planavsky, N.J. Seaweed farms enhance alkalinity production and carbon capture. Commun. Sustain. 1, 1 (2026). https://doi.org/10.1038/s44458-025-00004-8
