
Oleh: Suhana
Jawa Barat, dengan populasi lebih dari 50 juta jiwa, bukan hanya sekadar provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, tetapi juga pasar pangan yang sangat dinamis. Salah satu komoditas yang menjadi sorotan dalam satu dekade terakhir adalah ikan. Sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan Omega-3, ikan menjadi kunci dalam memerangi stunting dan meningkatkan kualitas SDM Jawa Barat.
Namun, benarkah masyarakat Jawa Barat sudah cukup gemar makan ikan? Gambar 1 menyajikan perkembangan data pengeluaran per kapita seminggu menurut kelompok ikan periode 2018–2025 di Jawa Barat. Data tersebut memberikan gambaran yang mengejutkan sekaligus memberikan optimisme. Mari kita bedah apa yang terjadi di pasar, dan bagaimana pelaku usaha serta pemerintah harus bersikap.

Membaca Tren Pengeluaran Masyarakat
Jika kita melihat data total rata-rata pengeluaran masyarakat Jawa Barat untuk ikan (Rupiah/Kapita/Minggu) (Gambar 1), terjadi tren kenaikan yang menggembirakan. Pada tahun 2018, rata-rata orang Jawa Barat hanya merogoh kocek sekitar Rp7.285 per minggu untuk membeli ikan. Namun, angka ini diprediksi menanjak konsisten hingga menyentuh Rp10.587 pada tahun 2025.
Lompatan ini bukan sekadar angka. Ini adalah sinyal pergeseran gaya hidup. Masyarakat mulai sadar bahwa protein tidak harus selalu datang dari daging sapi yang mahal atau ayam yang fluktuatif harganya. Ikan, baik laut maupun tawar, mulai mengambil porsi lebih besar di piring makan warga Jawa Barat.
Namun, di balik kenaikan rata-rata tersebut, terdapat “jurang” yang lebar antar wilayah. Mari kita bedah peluang ini satu per satu.
Pertama, bagi para pengusaha perikanan, distributor, hingga pemilik UMKM olahan ikan, data ini adalah peta harta karun. Strategi para pelaku usaha perikanan di Jawa Barat tidak bisa disamaratakan di seluruh wilayah. Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa Kota Bekasi dan Kota Depok adalah anomali yang luar biasa. Dengan pengeluaran per kapita menembus angka Rp20.000 – Rp24.000, wilayah ini adalah pasar premium. Masyarakat urban yang sibuk tidak lagi mencari ikan utuh yang harus disisik dan dibersihkan. Mereka mencari kepraktisan. Oleh sebab itu, fokuslah pada produk Value-Added. Ikan fillet, ikan bumbu kuning siap goreng, atau frozen food berbasis ikan dengan kemasan estetik akan laku keras di supermarket dan platform e-grocery di sini. Jangan lupa, aspek kesehatan (bebas pengawet) adalah nilai jual utama bagi kaum urban.

Kedua, pengeluaran masyarakat untuk ikan per kapita per minggu di kabupaten Pangandaran dan Sukabumi mencatat angka stabil tinggi di atas Rp13.000. Sebagai penghasil ikan, tingginya angka pengeluaran ini menunjukkan bahwa ikan adalah menu utama harian. Pengolahan hasil laut menjadi produk oleh-oleh premium atau pengemasan vakum untuk dikirim ke kota besar menjadi peluang bagi para pelaku usaha yang belum tergarap maksimal. Oleh sebab itu para pelaku usaha penting untuk membangun unit pengolahan di dekat sentra produksi untuk mengurangi biaya logistik dan menjaga kesegaran ikan sebelum sampai ke tangan konsumen urban.
Ketiga, wilayah seperti Kabupaten Majalengka, Kuningan dan Tasikmalaya masih mencatat pengeluaran masyarakat untuk ikan masih di bawah Rp5.000 per kapita per minggu. Mengapa? Kemungkinan besar karena akses distribusi yang terbatas dan harga yang mahal saat sampai di pasar lokal. Hal ini tentu dapat menjadi peluang bagi para pelaku usaha untuk menjadi pionir distribusi. Gunakan model bisnis “Ikan Rakyat”. Fokus pada jenis ikan air tawar (Nila, Lele, Patin) yang dibudidayakan secara lokal sehingga harga lebih kompetitif. Edukasi masyarakat bahwa ikan tawar memiliki protein yang hampir setara dengan ikan laut namun dengan harga yang lebih merakyat.
Peran Pemerintah
Pemerintah Daerah Jawa Barat memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa peningkatan konsumsi ikan tidak hanya terjadi di kota-kota satelit Jakarta (Bekasi/Depok), tetapi juga merata hingga ke Jawa Barat bagian timur. Ketimpangan data antara Bekasi (Rp20rb+) dan Majalengka (Rp4rb+) seringkali bukan soal selera, tapi soal ketersediaan. Ikan adalah barang yang sangat cepat busuk. Oleh sebab itu pemerintah daerah perlu membangun Cold Storage kolektif di pasar-pasar tradisional tingkat kabupaten. Jika pedagang kecil bisa menyimpan stok ikan lebih lama tanpa takut busuk, harga ikan akan lebih stabil, dan pasokan akan selalu ada.
Selain itu juga kampanye makan ikan tidak boleh lagi hanya sekadar poster di kantor kelurahan. Pemerintah daerah perlu gandeng influencer kuliner lokal untuk membuat konten kreatif tentang cara mengolah ikan yang “kekinian”. Sasar ibu-ibu muda di media sosial dengan resep MPASI (Makanan Pendamping ASI) berbasis ikan lokal untuk mencegah stunting di daerah dengan konsumsi rendah.
Hasil analisis data juga menunjukkan bahwa kenaikan konsumsi ikan di Jawa Barat sangat menjanjikan. Pemerintah daerah perlu mengintegrasikan hasil panen ikan lokal ke dalam program bantuan sosial atau makan bergizi gratis (MGB) bagi siswa sekolah. Hal ini akan menciptakan captive market (pasar pasti) bagi para pembudidaya ikan lokal.
Tantangan
Dengan melihat data tahun 2025 dengan rata-rata pengeluaran Rp10.587, kita melihat adanya pertumbuhan sekitar 45% dibanding 2018. Ini adalah tanda bahwa masyarakat Jawa Barat sedang bertransformasi menuju masyarakat yang lebih sehat.
Namun, tantangan ke depan adalah inflasi dan keberlanjutan. Bagi para pelaku usaha perikanan budidaya tantangan terbesar adalah harga pakan ikan yang terus naik. Inovasi pakan mandiri berbasis bahan lokal akan menjadi penentu apakah harga ikan tetap terjangkau oleh warga di Jawa Barat. Sementara itu bagi pemerintah, tantangan perubahan iklim yang memengaruhi hasil tangkapan laut dan debit air waduk untuk ikan tawar harus diantisipasi dengan teknologi budidaya yang lebih efisien (seperti sistem Bioflok atau Recirculating Aquaculture System/RAS).
Dus, angka-angka rata-rata pengeluaran masyarakat tersebut bukan sekadar statistik ekonomi. Di balik angka Rp10.587 per kapita itu, ada ribuan pembudidaya ikan di Subang yang menyekolahkan anaknya, ada nelayan di Cirebon, Sukabumi, Pangandaran, Tasikmalaya dan Garut yang merawat perahunya, dan ada jutaan anak Jawa Barat yang otaknya berkembang lebih baik berkat nutrisi ikan.
Jawa Barat memiliki potensi air tawar dan laut yang luar biasa. Jika pelaku usaha jeli membidik pasar urban dengan inovasi, dan pemerintah daerah berani melakukan terobosan dalam rantai distribusi ke pelosok desa, maka bukan tidak mungkin Jawa Barat akan menjadi provinsi dengan tingkat konsumsi ikan tertinggi di Indonesia, sekaligus menjadi provinsi dengan angka stunting terendah.
