
Oleh : Suhana
Dunia kuliner dan industri pangan global sedang mengalami pergeseran paradigma. Konsumen masa kini tidak lagi hanya bertanya, “Apakah makanan ini enak?”, melainkan “Bagaimana makanan ini diproduksi?”. Kesadaran akan kesehatan pribadi dan keberlanjutan lingkungan telah menempatkan produk organik pada posisi premium. Salah satu sektor yang sedang bersinar adalah Akuakultur Organik.
Berdasarkan laporan terbaru dari European Market Observatory for Fisheries and Aquaculture Products (EUMOFA) No. 11/2025, Uni Eropa (UE) tengah memacu sektor ini sebagai bagian dari strategi kedaulatan pangan dan kelestarian laut mereka. Mari kita bedah apa yang terjadi di Eropa dan bagaimana Indonesia bisa mengambil peran besar dalam peta persaingan global ini.
Pelajaran dari Eropa: Dominasi Kekerangan Organik
Laporan EUMOFA mengungkapkan fakta menarik bahwa akuakultur organik di Eropa sangat didominasi oleh kelompok kekerangan, khususnya kerang (mussels). Beberapa fakta tersebut adalah, Pertama, angka yang berbicara. Pada tahun 2023, pasokan produk akuakultur organik di UE mencapai 128.401 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 72% adalah kerang. Mengapa kerang menjadi primadona? Jawabannya terletak pada efisiensi ekosistem. Kerang adalah filter feeder; mereka tidak membutuhkan pakan tambahan yang berasal dari tepung ikan atau bahan kimia. Mereka tumbuh dengan menyaring nutrisi alami dari laut, menjadikannya kandidat paling logis untuk sertifikasi organik yang ketat.
Kedua, kemandirian pasar. Eropa menunjukkan kemandirian yang kuat dalam sektor ini. Sebanyak 67% dari produk akuakultur organik yang mereka konsumsi diproduksi di dalam wilayah mereka sendiri. Belanda muncul sebagai pemimpin pasar untuk kerang organik, diikuti oleh negara-negara seperti Prancis dan Irlandia yang juga mencatat pertumbuhan nilai penjualan yang positif.
Ketiga, nilai ekonomi premium. Meskipun volume tangkapan laut secara umum mengalami fluktuasi, nilai penjualan pertama produk perikanan di Eropa justru naik sebesar 4% (Januari-September 2025). Hal ini menunjukkan bahwa pasar sangat menghargai produk yang memiliki label keberlanjutan dan organik. Konsumen Eropa rela membayar “harga premium” demi jaminan kualitas dan etika lingkungan.
Tabel Produksi Akuakultur EU Menurut Negara

Mengapa Indonesia Harus Melirik Budidaya Laut Organik?
Jika Eropa yang memiliki keterbatasan garis pantai dibandingkan Indonesia saja bisa memimpin pasar kekerangan organik, maka Indonesia—sebagai negara kepulauan terbesar di dunia—seharusnya bisa menjadi pemain utama. Indonesia memiliki aset yang tidak dimiliki Eropa, yaitu keanekaragaman hayati tropis dan luas perairan yang masif. Berikut adalah prospek komoditas yang bisa dikembangkan dengan standar organik serupa, yaitu Pertama, replikasi sukses kekerangan (Kerang Hijau & Dara). Belanda sukses dengan kerang biru mereka; Indonesia bisa sukses dengan kerang hijau dan kerang dara. Kerang-kerangan di Indonesia tumbuh sangat cepat karena suhu air yang hangat sepanjang tahun. Dengan menetapkan zona budidaya di perairan yang bebas pencemaran logam berat (seperti di beberapa titik di pesisir luar Jawa atau Sulawesi) dan menerapkan sertifikasi organik internasional, Indonesia bisa mengekspor kerang kalengan atau beku ke pasar Eropa yang permintaannya sedang tinggi.
Kedua, udang organik: “back to nature”. Udang adalah komoditas ekspor unggulan Indonesia. Namun, persaingan harga dengan Ekuador dan India sangat ketat. Oleh sebab itu perlu strategi lain untuk dapat menguasai pasar internasional, yaitu berpindah ke udang organik. Menggunakan sistem tradisional yang ditingkatkan (traditional plus), tanpa antibiotik, dan tanpa pakan kimia. Udang organik Indonesia dapat memiliki tekstur dan rasa yang lebih unggul. Di pasar Eropa dan Amerika, udang organik bisa dihargai 30-50% lebih tinggi dibandingkan udang budidaya intensif.
Ketiga, Rumput Laut sebagai tulang punggung budidaya laut terpadu. Rumput laut adalah penyerap karbon yang luar biasa. Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar di dunia untuk jenis tertentu. Oleh sebab itu dengan mengikuti konsep Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) yang mulai populer di Eropa, Indonesia bisa menggabungkan budidaya rumput laut dengan kerang dan ikan dalam satu ekosistem organik. Rumput laut akan menyerap limbah nutrisi, sementara kerang menyaring air, menciptakan lingkungan budidaya yang mandiri dan berkelanjutan.
Langkah Strategis: Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk mencapai level yang dicapai Eropa dalam laporan EUMOFA 2025, Indonesia perlu membenahi beberapa aspek, yaitu pertama, digitalisasi dan traceability (Ketertelusuran). Eropa mulai menerapkan aturan pelaporan digital penuh untuk kapal dan budidaya pada November 2025. Indonesia harus mempercepat implementasi logbook elektronik dan teknologi blockchain dalam rantai pasok perikanan agar konsumen global yakin bahwa produk tersebut benar-benar organik. Pemerintah perlu memfasilitasi kelompok pembudidaya kecil untuk mendapatkan sertifikasi organik (seperti sertifikat organik UE atau ASC). Tanpa label yang diakui, produk kita hanya akan dianggap sebagai produk konvensional biasa. Selain itu juga budidaya laut organik membutuhkan kualitas air yang prima. Perlindungan hutan mangrove dan pengendalian limbah industri di pesisir menjadi harga mati jika Indonesia ingin membangun citra sebagai produsen protein laut bersih.
Dus, laporan EUMOFA No. 11/2025 adalah pengingat bagi kita bahwa dunia sedang bergerak menuju ekonomi biru yang hijau (organik). Keberhasilan Belanda dalam menguasai pasar kerang organik membuktikan bahwa efisiensi alami adalah kunci bisnis masa depan.
Indonesia memiliki semua syarat untuk melampaui capaian tersebut. Dengan mengubah pola pikir dari sekadar “mengejar volume” menjadi “mengejar nilai dan keberlanjutan”, kita tidak hanya akan memberi makan dunia dengan protein berkualitas, tetapi juga menjaga laut kita tetap produktif untuk generasi mendatang. Saatnya Indonesia berhenti hanya menjadi penonton di pasar global dan mulai menjadi pemimpin dalam revolusi budidaya laut organik.
