Ilustrasi potensi kebutuhan konsumsi ikan China

Oleh : Suhana

China merupakan negara dengan konsumsi ikan terbesar di dunia, didorong oleh populasi yang mencapai 1,41 miliar jiwa dan tingkat konsumsi ikan yang tinggi sebesar 38,8 kg/kapita/tahun. Berdasarkan data GLOBEFISH (2023), kebutuhan nasional ikan China diperkirakan mencapai 54,7 juta ton per tahun, sementara produksi domestiknya sebesar 62,85 juta ton. Meskipun secara kuantitatif China tergolong swasembada, data perdagangan menunjukkan bahwa negeri ini tetap menjadi salah satu importir produk perikanan terbesar dengan nilai impor mencapai USD 14,88 miliar pada 2020.

Fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan kualitas dan preferensi konsumen yang tidak sepenuhnya dipenuhi oleh produksi lokal. Di sisi lain, Indonesia sebagai produsen perikanan tropis terbesar kedua di Asia Tenggara memiliki peluang besar untuk memasok kebutuhan pasar China, khususnya pada produk premium dan olahan bernilai tinggi.

Perkembangan Ekspor-Impor Ikan dan Produk Ikan China (Sumber : Globefish 2023)

 

Profil Konsumsi dan Kebutuhan Ikan di China

Tingginya konsumsi ikan di China dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang saling terkait. Pertama, urbanisasi yang pesat telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Lebih dari 65% penduduk China kini tinggal di kawasan perkotaan, yang memberikan akses lebih besar ke pasar modern dan mendorong preferensi terhadap seafood premium yang mudah dijumpai di ritel besar maupun platform e-commerce. Kedua, peningkatan daya beli menjadi faktor pendorong signifikan, di mana dengan PDB per kapita mencapai USD 10.500, masyarakat urban memiliki kemampuan finansial untuk membeli produk seafood berkualitas tinggi seperti udang vaname, lobster, tuna, dan cod.

Selain itu, kesadaran kesehatan yang semakin meningkat turut memperkuat posisi ikan sebagai sumber protein utama. Pola makan tradisional masyarakat China sejak lama telah menjadikan ikan sebagai bagian penting dalam diet harian, dan dengan berkembangnya pemahaman akan manfaat protein sehat, ikan kini dipandang lebih unggul dibandingkan daging merah. Data GLOBEFISH menunjukkan bahwa 89% konsumsi protein hewani di China berasal dari ikan, menegaskan peran vital sektor perikanan dalam ketahanan pangan negara tersebut. Namun, meskipun produksi domestik mencukupi secara volume, preferensi konsumen kelas menengah-atas yang menginginkan produk seafood premium terus mendorong tingginya angka impor. Hal ini membuka peluang besar bagi negara eksportir seperti Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin berkembang ini.

Peluang Ekspor Ikan Indonesia ke China

Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi gap permintaan ikan premium di China. Produk unggulan perikanan Indonesia yang sesuai dengan preferensi pasar China meliputi, pertama, Udang vaname dan lobster tropis. Mendominasi kategori seafood premium untuk hotel, restoran, dan ritel modern di kota besar seperti Shanghai dan Guangzhou. Kedua, Tuna dan cakalang. Menjadi bahan utama industri sashimi, restoran Jepang, serta produk olahan siap saji. Ketiga, Cumi-cumi dan kepiting. Memenuhi permintaan makanan laut olahan yang tumbuh pesat di sektor Horeka (hotel, restoran, katering). Keempat, Ikan karang bernilai tinggi (reef fish). Populer di pasar kelas atas dan restoran fine dining.

Top 10 Produk Impor Ikan China (Sumber : Globefish 2023)

Selain keunggulan produk, kedekatan geografis Indonesia dengan China memungkinkan biaya logistik yang lebih rendah dibanding pemasok dari Amerika Latin atau Eropa. Menurut data FAO (2023), ekspor perikanan Indonesia ke China menunjukkan tren peningkatan signifikan, terutama setelah implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang berhasil menurunkan hambatan tarif dan membuka akses pasar lebih luas. Komoditas utama seperti udang dan tuna mencatat kinerja ekspor yang konsisten dan menjadi kontributor utama dalam perdagangan perikanan kedua negara. Pada tahun 2020, nilai ekspor perikanan Indonesia ke China mencapai sekitar USD 1,2 miliar, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 7–9%. Dari total nilai tersebut, udang menyumbang lebih dari 40%, disusul oleh tuna, lobster, dan cumi-cumi sebagai komoditas unggulan lainnya.

Sebagian besar permintaan ini datang dari segmen pasar konsumen urban kelas menengah-atas di kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing, dan Guangzhou, yang memiliki daya beli tinggi serta preferensi terhadap produk seafood premium. Seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat dan tren gaya hidup praktis, permintaan terhadap produk olahan bernilai tambah diproyeksikan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pangsa ekspornya melalui inovasi produk, pemenuhan standar mutu, serta strategi distribusi yang lebih efektif di pasar China yang kompetitif.

Strategi Penetrasi Pasar

Strategi penetrasi pasar berbasis Segmentasi, Targeting, Positioning (STP) sangat relevan untuk memaksimalkan peluang ekspor ikan Indonesia ke China. Dari sisi segmentasi pasar, pendekatan ini dapat dilakukan dengan membagi konsumen berdasarkan aspek geografis, demografis, dan psikografis. Secara geografis, fokus utama diarahkan pada kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing, Guangzhou, dan Shenzhen yang memiliki jaringan distribusi modern dan tingkat permintaan seafood premium yang tinggi. Dari sisi demografis, sasaran utama adalah konsumen urban kelas menengah-atas dengan pendapatan lebih dari USD 20.000 per tahun. Sementara itu, secara psikografis, target pasar mencakup kelompok konsumen yang memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan (health-conscious) dan cenderung memilih produk segar, sehat, serta bersertifikasi.

Selanjutnya, pada tahap targeting pasar, penetrasi dapat dilakukan melalui saluran distribusi modern seperti hypermarket (misalnya Carrefour dan Walmart China) serta platform e-commerce yang populer di China seperti JD Fresh dan Alibaba’s Freshippo. Selain itu, sektor HoReKa (hotel, restoran, dan katering) juga menjadi target penting karena membutuhkan pasokan seafood premium dalam jumlah besar dan stabil.

Dari sisi positioning produk, Indonesia perlu menekankan keunggulan kualitas tropis premium yang mencakup kesegaran, keaslian produk tropis, dan nilai gizi tinggi. Selain itu, positioning yang berbasis keberlanjutan melalui sertifikasi ekolabel internasional seperti MSC atau ASC akan menarik konsumen yang peduli lingkungan. Terakhir, pengembangan produk praktis berupa seafood olahan siap saji menjadi penting untuk memenuhi gaya hidup urban yang cenderung mengutamakan kecepatan dan kemudahan dalam mengonsumsi makanan bergizi. Pendekatan STP ini diyakini mampu meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar China yang semakin kompetitif.

Tantangan

Meski peluang perdagangan ikan Indonesia dengan China sangat besar, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi agar penetrasi pasar berjalan optimal. Persaingan ketat menjadi salah satu hambatan utama, terutama dari negara seperti Vietnam dan Thailand yang telah lama menjadi pemasok utama udang dan tuna ke pasar China. Selain itu, standar mutu dan sertifikasi yang diberlakukan semakin ketat, seiring dengan meningkatnya regulasi keamanan pangan dan persyaratan sertifikasi kesehatan di China. Hambatan logistik dan distribusi juga menjadi perhatian penting, khususnya terkait dengan perlunya peningkatan sistem rantai dingin (cold chain) untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga hingga sampai ke konsumen akhir.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, beberapa strategi pendukung perlu diterapkan. Pertama, peningkatan fasilitas pengolahan yang memenuhi standar internasional seperti HACCP dan ISO 22000 akan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global. Kedua, menjalin kerja sama business-to-business (B2B) langsung dengan importir besar di China dapat mempersingkat rantai distribusi sekaligus mengurangi biaya logistik. Ketiga, diplomasi perdagangan aktif perlu dilakukan untuk memperkuat perjanjian bilateral dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk perikanan Indonesia. Dengan penerapan strategi pendukung ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pemasok utama seafood premium di pasar China yang semakin kompetitif.

Dus, Pasar perikanan China menawarkan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor ikan dan produk perikanannya. Dengan konsumsi ikan yang mencapai 38,8 kg/kapita dan tren permintaan seafood premium yang terus naik, Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan komparatifnya sebagai negara produsen ikan tropis terbesar di Asia Tenggara. Strategi penetrasi berbasis STP, didukung peningkatan mutu, sertifikasi, dan penguatan logistik, akan menjadi kunci sukses dalam memperluas pangsa pasar di China. Sinergi kebijakan pemerintah, pelaku industri, dan diplomasi dagang dapat menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama seafood premium di China dalam dekade mendatang.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!