Oleh: Suhana

 

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pangan global menghadapi tekanan yang signifikan akibat inflasi, perubahan perilaku konsumen, serta dinamika ekonomi yang tidak stabil. Salah satu sektor yang terdampak sekaligus menyimpan peluang besar adalah industri seafood, khususnya produk seafood beku (frozen seafood). Laporan The State of Frozen Seafood: Value, Innovation, and Opportunity in 2026 menunjukkan bahwa di balik tekanan inflasi, sektor ini justru memiliki prospek pertumbuhan yang sangat menjanjikan di masa depan.

Inflasi menjadi faktor utama yang memengaruhi perubahan pasar pangan global. Di Amerika Serikat, harga pangan meningkat sekitar 26% dalam lima tahun terakhir, mencerminkan tekanan biaya hidup yang semakin tinggi. Dalam konteks protein hewani, kenaikan harga sangat bervariasi. Harga daging sapi tercatat naik 7,5% menjadi USD 7,18 per pon, daging ayam naik 3,3% menjadi USD 3,17 per pon, dan daging babi naik 2,1% menjadi USD 3,27 per pon. Sementara itu, seafood mengalami kenaikan yang relatif lebih rendah, yaitu 2,1% dengan harga rata-rata USD 10,52 per pon (seafood source, 2026).

(Sumber: seafood source, 2026)

Meskipun inflasi seafood lebih rendah dibandingkan daging, tantangan utama terletak pada persepsi harga. Seafood sudah memiliki harga dasar yang lebih tinggi, sehingga tetap dianggap mahal oleh konsumen. Hal ini berdampak pada perilaku konsumsi: meskipun nilai penjualan seafood meningkat, volume penjualan justru menurun di sebagian besar kategori pada akhir 2025 (seafood source, 2026). Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen tetap membeli seafood, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan kondisi ekonomi yang lebih luas. Laporan tersebut menggambarkan munculnya pola “K-shaped economy”, di mana kelompok masyarakat terbagi menjadi dua segmen besar. Kelompok berpendapatan rendah dan menengah cenderung menekan konsumsi dan mencari produk dengan harga terjangkau, sementara kelompok berpendapatan tinggi tetap mempertahankan bahkan meningkatkan konsumsi produk premium. Data menunjukkan bahwa 49% konsumsi berasal dari 10% rumah tangga berpendapatan tertinggi, menegaskan bahwa pasar pangan kini semakin tersegmentasi (seafood source, 2026).

Di tengah tekanan tersebut, perubahan perilaku konsumen justru membuka peluang baru. Konsumen kini semakin fokus pada tiga hal utama, yaitu nilai (value), kemudahan (convenience), dan kesehatan (wellness). Produk seafood yang mampu memenuhi ketiga aspek ini memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Hal ini terlihat dari meningkatnya permintaan terhadap produk value-added seafood, seperti makanan laut siap masak dan siap saji.

Generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi pendorong utama tren ini. Data menunjukkan bahwa 49% Gen Z menginginkan makanan dengan harga lebih terjangkau, 30% mencari produk siap makan, 27% menginginkan solusi makanan setengah jadi, dan 31% tertarik pada perencanaan menu mingguan (seafood source, 2026). Preferensi ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya mencari harga murah, tetapi juga kemudahan dan fleksibilitas dalam mengolah makanan.

(Sumber: seafood source, 2026)

Selain itu, tren global menuju pola makan tinggi protein menjadi faktor pendorong penting bagi industri seafood. Protein kini menjadi pusat perhatian dalam pola konsumsi modern, seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan kebugaran. Bahkan, tren penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 turut memperkuat permintaan terhadap makanan tinggi protein dan rendah kalori. Laporan RAND menunjukkan bahwa sekitar 12% masyarakat Amerika telah menggunakan obat GLP-1, dan angka ini diperkirakan terus meningkat (seafood source, 2026).

Dalam konteks ini, seafood memiliki keunggulan kompetitif yang kuat karena merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan omega-3. Namun, konsumsi omega-3 masyarakat masih jauh dari ideal. Rata-rata konsumsi hanya sekitar 110 mg per hari, jauh di bawah rekomendasi 500 mg per hari (seafood source, 2026). Kesenjangan ini menunjukkan adanya peluang besar untuk meningkatkan konsumsi seafood melalui edukasi pasar dan promosi manfaat kesehatan.

Dari sisi prospek pasar, industri seafood menunjukkan tren yang sangat positif. Proyeksi menunjukkan bahwa sektor ini akan tumbuh dengan laju sekitar 13,8% per tahun, dengan nilai pasar diperkirakan mencapai USD 11,4 miliar pada tahun 2029 (seafood source, 2026). Bahkan, National Restaurant Association (2026) menyebutkan bahwa protein, termasuk seafood, akan menjadi “pemenang utama” dalam tren kuliner global.

Di sisi lain, inovasi teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri seafood. Teknologi pendinginan modern, seperti penggunaan CO₂ untuk pembekuan cepat, memungkinkan peningkatan efisiensi produksi sekaligus menjaga kualitas dan nilai nutrisi produk. Teknologi ini mampu mempercepat proses pendinginan, mengurangi kehilangan produk, serta meningkatkan hasil produksi (yield), sehingga memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku industri.

Peluang Seafoods Indonesia

Melihat dinamika tersebut, Indonesia sebagai negara maritim memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam pasar seafood global. Namun, untuk memanfaatkan peluang ini secara optimal, diperlukan langkah-langkah strategis yang terarah.

Baca juga: ekspor-seafood-indonesia-2026-ke-as-strategi-digital-fsma 

Pertama, pelaku ekspor perikanan Indonesia perlu beralih dari ekspor bahan mentah ke produk bernilai tambah. Pasar global saat ini lebih menghargai produk olahan seperti fillet beku, seafood siap masak, dan makanan siap saji. Produk-produk ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, tetapi juga lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen modern.

Kedua, strategi segmentasi pasar harus diperkuat. Mengingat adanya perbedaan signifikan antara segmen premium dan value, eksportir perlu mengembangkan portofolio produk yang mampu menjangkau kedua segmen tersebut. Produk premium dapat difokuskan pada kualitas, keberlanjutan, dan manfaat kesehatan, sementara produk value harus menekankan efisiensi harga dan kemudahan akses.

Ketiga, penguatan branding menjadi sangat penting. Indonesia perlu membangun identitas sebagai produsen seafood berkualitas tinggi dan berkelanjutan. Label seperti “sustainable seafood” dan klaim kandungan omega-3 dapat menjadi nilai tambah yang kuat di pasar internasional.

Keempat, investasi dalam teknologi dan rantai dingin (cold chain) harus ditingkatkan. Kualitas seafood sangat bergantung pada sistem penyimpanan dan distribusi. Dengan teknologi yang tepat, produk dapat mempertahankan kesegaran dan kualitas hingga sampai ke konsumen akhir.

Kelima, edukasi pasar perlu menjadi bagian dari strategi ekspor. Konsumen global semakin peduli terhadap kesehatan, sehingga informasi mengenai manfaat seafood harus dikomunikasikan secara efektif. Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye digital, kolaborasi dengan influencer kesehatan, maupun sertifikasi nutrisi.

Dus, industri seafood berada pada persimpangan antara tantangan dan peluang. Inflasi dan perubahan perilaku konsumen memang menjadi hambatan, tetapi di sisi lain, tren kesehatan, inovasi produk, dan pertumbuhan pasar global membuka ruang yang sangat luas bagi ekspansi. Bagi Indonesia, momentum ini merupakan kesempatan besar untuk meningkatkan posisi dalam rantai nilai global dan menjadi pemain utama dalam industri seafood dunia.

 

Referensi

seafood source (2026) The State of Frozen Seafood: Value, Innovation, and Opportunity in 2026. Available at: https://www.seafoodsource.com/reports/the-state-of-frozen-seafood-value-innovation-and-opportunity-in-2026?utm_source=marketo&utm_medium=banner&utm_campaign=march-report-nl&utm_content=inbound (Accessed: March 26, 2026).

Bureau of Labor Statistics. (2025). Consumer price index summary. U.S. Department of Labor.

National Restaurant Association. (2026). What’s hot culinary forecast 2026. Available at: https://restaurant.org/research-and-media/media/press-releases/national-restaurant-association-unveils-2026-culinary-forecast-smash-burgers-global-comfort/

RAND Corporation. (2025). Trends in GLP-1 drug usage in the United States. Available at: https://www.rand.org/pubs/research_reports/RRA4153-1.html

Rabobank. (2026). Global protein market outlook. Available at: https://www.rabobank.com/knowledge/q011409742-global-animal-protein-outlook-2026

Food and Agriculture Organization (FAO). (2024). The state of world fisheries and aquaculture 2024. Rome: FAO.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!