Oleh: Suhana

 

Perikanan skala kecil sering kali dipandang hanya sebagai aktivitas ekonomi sederhana—nelayan melaut, ikan ditangkap, lalu dijual di pasar. Namun, penelitian terbaru tentang sistem perdagangan ikan di negara kepulauan seperti Vanuatu menunjukkan bahwa realitasnya jauh lebih kompleks. Di balik setiap ikan yang sampai ke meja makan, terdapat jaringan sosial, ekonomi, dan logistik yang dinamis, tidak selalu terlihat, namun sangat menentukan siapa yang mendapat keuntungan, siapa yang tertinggal, dan bagaimana sistem pangan bekerja secara keseluruhan. Temuan ini menjadi pintu masuk penting untuk melihat bahwa perdagangan ikan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah sistem jaringan (network system) yang hidup, adaptif, dan sering kali tidak teratur secara formal.

Penelitian oleh Jeremie Kaltavara dan koleganya menunjukkan bahwa sistem perdagangan ikan skala kecil bersifat multi-aktor, multi-jalur, dan sangat dinamis. Dengan menggunakan pendekatan mixed-methods, penelitian tersebut menggabungkan data kuantitatif produksi perikanan dengan wawancara mendalam terhadap pelaku pasar. Hasilnya mengungkap bahwa distribusi ikan tidak mengikuti jalur linier, melainkan tersebar dalam jaringan kompleks yang dipengaruhi oleh akses transportasi, hubungan sosial, dan permintaan pasar (Kaltavara et al., 2026).

Gambar 1. Rute terjadwal kapal antar-pesisir yang mengangkut barang di Vanuatu, termasuk ikan, secara mingguan (hitam), dua mingguan (biru), dan bulanan (oranye). Ketebalan garis menunjukkan frekuensi pelayaran. (Sumber: Kaltavara et al., 2026)

Dalam konteks Vanuatu, misalnya, distribusi ikan sangat bergantung pada jaringan kapal antar pulau dan relasi sosial berbasis komunitas. Peran “middlemen” menjadi krusial sebagai penghubung antara nelayan dan konsumen. Bahkan, sebagian besar aktivitas perdagangan terjadi dalam sektor informal yang sulit dijangkau oleh sistem regulasi formal. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap sistem perdagangan ikan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbasis data statistik, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap dinamika sosial-ekonomi di lapangan.

Peluang Riset di TPI Cilincing

Jika kita tarik ke konteks Indonesia, khususnya wilayah perkotaan seperti Jakarta, kompleksitas ini justru meningkat. Salah satu lokasi yang sangat relevan untuk memahami fenomena ini adalah TPI Cilincing. Berbeda dengan konteks pulau kecil di Pasifik, TPI Cilincing berada dalam tekanan sistem pangan perkotaan yang besar, dengan permintaan ikan yang tinggi dan rantai distribusi yang lebih panjang.

Gambar 2. TPI Cilincing, Jakarta Utara (Sumber: Dokumen Pribadi)

Di TPI Cilincing, ikan tidak hanya berasal dari nelayan lokal Teluk Jakarta, tetapi juga dari daerah lain seperti Indramayu. Hal ini menjadikan TPI sebagai simpul distribusi penting dalam sistem pangan Jakarta. Ikan yang didaratkan kemudian mengalir ke berbagai tujuan: pasar tradisional, pedagang keliling, restoran, hingga industri pengolahan. Pola ini mencerminkan karakteristik sistem distribusi pangan urban yang kompleks dan terintegrasi (Béné et al., 2016).

Namun demikian, seperti yang ditemukan dalam studi di Vanuatu, sistem perdagangan di TPI Cilincing juga didominasi oleh aktor informal, khususnya tengkulak atau middlemen. Mereka memainkan peran ganda sebagai pembeli, distributor, sekaligus penyedia modal bagi nelayan. Hubungan ini sering kali bersifat patron-client, yang dalam banyak studi dianggap sebagai mekanisme adaptif sekaligus potensi sumber ketimpangan dalam rantai nilai perikanan (Platteau, 1995; Crona et al., 2010).

Di sinilah letak urgensi penelitian. Banyak aspek dari sistem distribusi ikan di Indonesia yang belum terdokumentasi secara komprehensif, terutama terkait dengan jaringan aktor dan aliran distribusi. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti bagaimana ikan bergerak dari nelayan ke konsumen, siapa aktor dominan, dan di mana titik inefisiensi masih membutuhkan kajian mendalam. Pendekatan metodologi seperti yang digunakan oleh Kaltavara et al. (2026) memberikan kerangka yang sangat relevan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dengan menggabungkan analisis kuantitatif (data produksi dan distribusi) dan kualitatif (wawancara dan observasi), serta diperkuat dengan analisis jaringan, mahasiswa dapat membangun pemahaman yang komprehensif tentang sistem perdagangan ikan. Analisis jaringan (network analysis) khususnya menjadi alat yang kuat untuk mengidentifikasi aktor kunci, hubungan antar pelaku, serta struktur distribusi yang terbentuk (Borgatti et al., 2009).

Bayangkan seorang mahasiswa yang melakukan penelitian di TPI Cilincing. Ia tidak hanya mencatat volume ikan yang didaratkan, tetapi juga menelusuri perjalanan ikan tersebut hingga ke konsumen akhir. Ia mengamati interaksi antara nelayan dan tengkulak, memahami mekanisme penentuan harga, serta mengidentifikasi jalur distribusi yang paling dominan. Dari proses ini, mahasiswa tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga membangun narasi tentang bagaimana sistem ekonomi bekerja dalam praktik.

Penelitian semacam ini memiliki nilai strategis yang tinggi. Dalam konteks ketahanan pangan, distribusi ikan yang efisien sangat penting untuk memastikan akses masyarakat terhadap sumber protein yang terjangkau. Di sisi lain, pemahaman terhadap struktur pasar dapat membantu merumuskan kebijakan yang lebih adil bagi nelayan. Misalnya, intervensi dalam bentuk penguatan koperasi, digitalisasi pasar, atau pengembangan cold chain dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak (FAO, 2020).

Lebih jauh lagi, penelitian ini juga dapat dikembangkan ke dalam analisis ekonomi yang lebih luas, seperti Input-Output (IO), Social Accounting Matrix (SAM), atau Computable General Equilibrium (CGE). Pendekatan ini memungkinkan kita untuk melihat dampak distribusi ikan terhadap perekonomian secara keseluruhan, termasuk kontribusinya terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi (Miller & Blair, 2009).

Bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta, ini merupakan peluang yang sangat menarik untuk diteliti. Penelitian di bidang ini tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Mahasiswa Prodi Sosial Ekonomi Perikanan dapat berperan sebagai penghubung antara teori dan praktik, serta berkontribusi dalam pengembangan kebijakan berbasis bukti. Selain itu, dengan perkembangan teknologi, penelitian ini juga membuka peluang untuk integrasi dengan pendekatan digital, seperti penggunaan GIS, big data, atau bahkan machine learning.

Dus, memahami perdagangan ikan berarti memahami bagaimana sistem pangan bekerja secara keseluruhan. Ini bukan hanya tentang ikan, tetapi tentang manusia, hubungan sosial, dan dinamika ekonomi. TPI Cilincing menjadi laboratorium hidup yang menawarkan peluang besar bagi mahasiswa untuk belajar, meneliti, dan berkontribusi.

Dengan demikian, penelitian tentang sistem perdagangan dan distribusi ikan di TPI Cilincing bukan hanya relevan, tetapi juga strategis. Ia membuka ruang untuk eksplorasi ilmiah, inovasi metodologi, dan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia. Dan mungkin, dari penelitian ini, akan lahir solusi-solusi baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan dan memperkuat sistem pangan nasional.

 

Daftar Referensi

Béné, C., Arthur, R., Norbury, H., Allison, E. H., Beveridge, M., Bush, S., … & Williams, M. (2016). Contribution of fisheries and aquaculture to food security and poverty reduction: Assessing the current evidence. World Development, 79, 177–196. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2015.11.007

Borgatti, S. P., Mehra, A., Brass, D. J., & Labianca, G. (2009). Network analysis in the social sciences. Science, 323(5916), 892–895. https://doi.org/10.1126/science.1165821

Crona, B., Nyström, M., Folke, C., & Jiddawi, N. (2010). Middlemen, a critical social-ecological link in coastal communities of Kenya and Zanzibar. Marine Policy, 34(4), 761–771. https://doi.org/10.1016/j.marpol.2010.01.023

Food and Agriculture Organization. (2020). The state of world fisheries and aquaculture 2020. FAO. https://doi.org/10.4060/ca9229en

Kaltavara, J., Andrew, N., Brewer, T., Dumas, P., & Steenbergen, D. (2026). Fish trade and distribution from Vanuatu’s community-based fisheries. Marine Policy, 188, 107092.DOI: https://doi.org/10.1016/j.marpol.2026.107092

Miller, R. E., & Blair, P. D. (2009). Input-output analysis: Foundations and extensions (2nd ed.). Cambridge University Press.

Platteau, J. P. (1995). A framework for the analysis of evolving patron-client ties in agrarian economies. World Development, 23(5), 767–786. https://doi.org/10.1016/0305-750X(94)00147-I

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!