
Oleh: Suhana
Perdagangan ikan global dalam dua dekade terakhir menunjukkan perubahan struktural yang signifikan. Salah satu komoditas yang menarik untuk dianalisis adalah pangasius, ikan air tawar yang telah berkembang menjadi salah satu produk akuakultur paling penting dalam perdagangan internasional. Analisis terbaru menunjukkan bahwa meskipun pasar tradisional seperti China dan Amerika Serikat mengalami perlambatan, perdagangan pangasius global tetap tumbuh karena munculnya pasar baru yang lebih beragam([FAO] Globefish, 2026). Fenomena ini mencerminkan transformasi sistem perdagangan pangan laut global yang semakin terdiversifikasi dan tidak lagi bergantung pada beberapa pasar besar saja.
Dokumen analisis perdagangan pangasius global menunjukkan bahwa pasar negara berkembang dan diversifikasi pasar menjadi motor utama pertumbuhan perdagangan([FAO] Globefish, 2026). Sementara permintaan dari China dan Amerika Serikat cenderung melemah, negara-negara Asia Tenggara, Jepang, Brasil, dan beberapa negara Timur Tengah justru mengalami peningkatan impor yang signifikan. Dinamika ini menandai perubahan penting dalam struktur perdagangan ikan dunia yang sebelumnya sangat terpusat pada pasar Barat dan China.
Baca juga: Pangasius Indonesia peluang di pasar global 2025
Dominasi Produksi Vietnam dalam Sistem Pangasius Global
Dalam konteks produksi, pangasius merupakan salah satu contoh sukses akuakultur modern. Produksi global diperkirakan akan melampaui 4 juta ton pada tahun 2026, dengan Vietnam sebagai produsen utama yang menyumbang sekitar 50 persen dari total produksi dunia([FAO] Globefish, 2026).
Dominasi Vietnam dalam industri pangasius tidak terjadi secara kebetulan. Negara ini berhasil membangun sistem produksi yang terintegrasi, mulai dari pembenihan, pakan, budidaya, hingga pengolahan dan ekspor. Struktur industri ini memungkinkan Vietnam mempertahankan efisiensi produksi yang tinggi serta kemampuan memenuhi standar kualitas pasar internasional.
Namun, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa industri pangasius menghadapi berbagai tantangan produksi. Beberapa faktor yang membatasi pertumbuhan produksi antara lain([FAO] Globefish, 2026), adalah (1) meningkatnya biaya budidaya; (2) pencemaran lingkungan; (3) wabah penyakit; (4) dampak perubahan iklim; dan (5) meningkatnya harga benih (fingerlings)
Kombinasi faktor ini menyebabkan sebagian petani menunda siklus produksi baru karena risiko ekonomi yang meningkat. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pangasius sering dianggap sebagai komoditas akuakultur yang relatif murah, sistem produksinya tetap rentan terhadap tekanan ekologis dan ekonomi.
Menariknya, untuk meningkatkan reputasi global produk pangasius, Vietnam mulai mengembangkan protokol kesejahteraan ikan (fish welfare assessment protocol) yang akan diuji di lebih dari 100 tambak. Upaya ini menunjukkan bahwa isu keberlanjutan dan kesejahteraan hewan mulai menjadi faktor penting dalam perdagangan ikan global.
Dalam perspektif ekonomi politik perdagangan pangan, langkah ini dapat dipahami sebagai strategi untuk mempertahankan akses pasar di negara maju, terutama di Eropa dan Jepang yang semakin ketat terhadap standar keberlanjutan.
Diversifikasi Pasar
Data perdagangan menunjukkan bahwa antara Januari hingga September 2025, Vietnam mengekspor sekitar 646 ribu ton pangasius beku ke lebih dari 140 negara, dengan nilai ekspor mencapai USD 1,6 miliar atau meningkat sekitar 9 persen secara tahunan([FAO] Globefish, 2026). Pertumbuhan nilai yang lebih cepat dibandingkan volume menunjukkan bahwa pangasius tidak lagi hanya diposisikan sebagai produk ikan murah, tetapi mulai mengalami reposisi pasar sebagai produk protein yang fleksibel dan bernilai tambah.

Penurunan Relatif Pasar Tradisional
Meskipun China dan Amerika Serikat masih merupakan dua pasar terbesar pangasius, laporan menunjukkan bahwa keduanya mengalami penurunan impor selama periode analisis.
Beberapa faktor yang menjelaskan tren ini antara lain([FAO] Globefish, 2026), yaitu pertama, kebijakan tarif perdagangan. Amerika Serikat menerapkan tarif impor sekitar 20 persen terhadap pangasius Vietnam, yang secara langsung menekan daya saing produk di pasar tersebut. Kedua, perubahan pola konsumsi. Konsumen di beberapa negara maju semakin memperhatikan isu keberlanjutan, asal-usul produk, dan standar produksi. Ketiga, diversifikasi pasokan ikan putih. Pasar global memiliki berbagai alternatif whitefish seperti cod, haddock, dan pollock.

Salah satu temuan menarik dalam laporan ini adalah meningkatnya peran pangasius sebagai alternatif bagi ikan whitefish tradisional. Beberapa faktor yang mendorong fenomena ini antara lain([FAO] Globefish, 2026), yaitu (1) pengurangan kuota tangkapan ikan cod dan haddock; (2) sanksi perdagangan yang mengganggu pasokan ikan laut; dan (3) meningkatnya harga ikan tangkap. Akibatnya, pangasius mulai digunakan sebagai substitusi whitefish dalam berbagai produk makanan, termasuk sushi di Jepang.
Di Jepang sendiri, impor pangasius Vietnam meningkat sekitar 14 persen secara tahunan, dan sebagian besar dalam bentuk fillet beku yang dijual di supermarket maupun restoran.
Perubahan ini menunjukkan bagaimana pangasius tidak lagi terbatas pada pasar kelas bawah, tetapi mulai masuk ke segmen kuliner premium.
Selain Asia, pertumbuhan permintaan pangasius juga terlihat di wilayah Amerika Latin dan Timur Tengah. Brasil menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, impor pangasius Brasil mencapai sekitar 35 ribu ton, meningkat 51 persen dibanding tahun sebelumnya. Brasil kini menjadi pasar terbesar ketiga pangasius Vietnam, menyerap sekitar 8 persen dari total ekspor.
Sementara itu, pasar baru seperti Irak dan Hong Kong juga mengalami lonjakan impor yang sangat besar, masing-masing meningkat 135 persen dan 100 persen. Fenomena ini menunjukkan bahwa perdagangan pangasius semakin mengikuti pola global south–south trade, yaitu perdagangan antarnegara berkembang.
Dalam aspek harga, industri pangasius menghadapi situasi yang cukup kompleks pada tahun 2025. Harga bahan baku berada pada kisaran USD 1,15–1,25 per kilogram, sementara biaya benih meningkat secara signifikan. Kondisi ini menciptakan tekanan margin bagi petani dan perusahaan pengolahan. Untuk menjaga stabilitas harga, industri cenderung fokus pada produksi ukuran ikan yang sesuai untuk fillet, karena produk fillet memiliki nilai pasar yang lebih stabil. Strategi ini menunjukkan bagaimana pelaku industri menyesuaikan produksi dengan preferensi pasar global, bukan hanya kondisi domestik.
Tabel 1. Harga eceran pangasius budidaya di Asia Tenggara

Sumber: ([FAO] Globefish, 2026)
Implikasi bagi Sistem Pangan Laut Global
Dari perspektif yang lebih luas, dinamika pangasius memberikan beberapa pelajaran penting bagi sistem pangan laut global. Pertama, akuakultur semakin menjadi tulang punggung pasokan ikan dunia. Ketika perikanan tangkap menghadapi keterbatasan stok dan regulasi konservasi yang ketat, produk budidaya seperti pangasius menjadi solusi penting untuk memenuhi permintaan protein global.
Kedua, diversifikasi pasar menjadi strategi kunci dalam perdagangan ikan modern. Ketergantungan pada satu atau dua pasar besar dapat menciptakan kerentanan ekonomi ketika terjadi perubahan kebijakan perdagangan.
Ketiga, standar keberlanjutan semakin menentukan akses pasar. Upaya Vietnam untuk mengembangkan protokol kesejahteraan ikan menunjukkan bahwa reputasi industri menjadi faktor strategis dalam perdagangan global.
Analisis perdagangan pangasius global menunjukkan bahwa industri ini sedang mengalami fase transformasi struktural. Pertumbuhan perdagangan tidak lagi bergantung pada pasar tradisional seperti China dan Amerika Serikat, tetapi semakin didorong oleh diversifikasi pasar di Asia Tenggara, Amerika Latin, Timur Tengah, dan negara-negara anggota CPTPP.
Dominasi produksi Vietnam tetap menjadi faktor utama dalam sistem perdagangan pangasius global. Namun, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan mulai dari kenaikan biaya produksi hingga tekanan keberlanjutan.
Dus, Ddalam konteks ekonomi global, pangasius menunjukkan bagaimana produk akuakultur dapat berperan sebagai alternatif strategis dalam sistem pangan dunia, terutama ketika pasokan ikan tangkap semakin terbatas. Kemampuan industri untuk beradaptasi dengan standar keberlanjutan, preferensi konsumen, dan dinamika perdagangan internasional akan menentukan masa depan komoditas ini. Dengan demikian, pangasius tidak hanya merupakan komoditas ikan murah, tetapi juga indikator penting perubahan dalam ekonomi politik pangan laut global.
Referensi Utama:
[FAO] Globefish (2026) Pangasius. Emerging markets bouy trade momentum. Available at: https://openknowledge.fao.org/items/3c7e6184-4326-4408-a9e7-9cf38202a5a3 (Accessed: March 16, 2026).
