
Oleh: Suhana
Air laut merupakan salah satu komoditas ekspor yang masuk dalam kategori salt and pure sodium chloride (kode HS 250100). Air laut (HS Code 25010050) adalah komoditas bernilai tinggi yang dikuasai negara seperti Belanda, Jerman, dan India. Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dengan tujuan ekspor ke Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura untuk kebutuhan akuakultur dan industri.
Selama ini, banyak orang menganggap air laut sebagai sesuatu yang melimpah dan tidak bernilai. Laut Indonesia begitu luas, seolah tak ada habisnya, sehingga air laut dipersepsikan sebagai sumber daya yang “gratis”. Namun kenyataannya tidak demikian. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia ternyata sudah mengekspor air laut ke berbagai negara di dunia. Negara-negara seperti Malaysia, Rusia, Jepang, Korea Selatan, hingga China tercatat sebagai pembeli air laut dari Indonesia untuk kebutuhan bernilai tinggi seperti kosmetik, spa, riset ilmiah, dan akuakultur. Fakta ini menunjukkan bahwa air laut bukan sekadar sumber daya alam biasa, melainkan bagian dari komoditas bioekonomi yang mulai berkembang di pasar global (Badan Pusat Statistik, 2026; Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2023).
Baca juga; mendefinisikan-ekonomi-kelautan-indonesia

Jika melihat data ekspor selama periode 2021 hingga 2025 (Gambar 1), terlihat bahwa ekspor air laut Indonesia memang masih dalam skala kecil, namun menunjukkan dinamika yang menarik. Pada tahun 2021, volume ekspor tercatat sebesar 5.049 kilogram dengan nilai sekitar 10 ribu dolar AS. Angka ini kemudian meningkat signifikan hingga mencapai puncaknya pada tahun 2023 dengan volume 28.078 kilogram dan nilai hampir 32 ribu dolar AS. Setelah itu, terjadi penurunan tajam pada tahun 2024 menjadi 6.794 kilogram, sebelum kembali meningkat menjadi 10.803 kilogram pada tahun 2025. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa pasar air laut masih bersifat niche dan sangat bergantung pada permintaan spesifik dari industri tertentu (Badan Pusat Statistik, 2026).
Namun, jika dilihat lebih dalam, terdapat satu indikator penting yang menunjukkan perkembangan positif, yaitu kenaikan nilai per kilogram. Pada awal periode, harga rata-rata ekspor hanya sekitar 1–2 dolar AS per kilogram. Namun pada tahun 2024 hingga 2025, harga tersebut meningkat tajam menjadi lebih dari 3 dolar AS per kilogram. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dari orientasi volume ke orientasi nilai. Dengan kata lain, Indonesia mulai memasuki pasar yang lebih selektif dan bernilai tinggi, di mana kualitas dan fungsi produk menjadi faktor utama dibandingkan kuantitas (Porter, 1990; Badan Pusat Statistik, 2026).
Tabel 1. Ekspor Air Laut (Seawater/HS Code 25010050) Menurut Negara Tujuan

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2026
Perubahan struktur pasar ini juga terlihat dari negara tujuan ekspor (Tabel 1). Malaysia menjadi pasar utama dari sisi volume, dengan puncaknya pada tahun 2023 mencapai 21.600 kilogram. Namun harga yang diterima relatif rendah, menunjukkan bahwa pasar ini lebih berfungsi sebagai pasar massal. Sebaliknya, Rusia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan baik dari sisi volume maupun nilai, dengan nilai ekspor mencapai lebih dari 25 ribu dolar AS pada tahun 2025. Sementara itu, China meskipun hanya mengimpor dalam jumlah kecil, memberikan nilai yang tinggi, menandakan bahwa negara tersebut berada pada segmen pasar premium. Pola ini memperlihatkan adanya dualisme pasar antara pasar volume besar dan pasar bernilai tinggi (Badan Pusat Statistik, 2026; OECD, 2020).
Jepang memberikan dinamika yang berbeda. Pada awal periode, Jepang merupakan salah satu pembeli utama dengan volume cukup besar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, volumenya menurun drastis. Meskipun demikian, nilai ekspor ke Jepang tetap relatif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Jepang tidak berhenti mengimpor, tetapi menjadi lebih selektif dalam memilih kualitas produk. Fenomena ini umum terjadi dalam pasar negara maju yang cenderung mengutamakan standar kualitas tinggi dan spesifikasi tertentu dibandingkan kuantitas (OECD, 2020; World Bank, 2021).
Tabel 1. Ekspor Air Laut (Seawater/HS Code 25010050) Menurut Pelabuhan/Bandara Asal

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2026
Dari sisi logistik, terjadi pergeseran penting dalam jalur ekspor (Tabel 2). Tanjung Perak di Surabaya kini menjadi pusat utama ekspor air laut Indonesia, terutama pada tahun 2025 di mana hampir seluruh volume ekspor berasal dari pelabuhan ini. Sebaliknya, Tanjung Priok di Jakarta yang sebelumnya sempat dominan justru tidak lagi menjadi pelabuhan utama. Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan pusat aktivitas ekonomi kelautan dari wilayah barat ke timur Indonesia, yang kemungkinan berkaitan dengan kualitas sumber daya laut di kawasan timur yang relatif lebih terjaga. Sementara itu, jalur udara seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai digunakan untuk ekspor dalam jumlah kecil dengan nilai tinggi, yang umumnya terkait dengan produk premium atau kebutuhan khusus (Badan Pusat Statistik, 2026; UNCTAD, 2022).
Jika seluruh data tersebut dianalisis secara menyeluruh, terlihat bahwa Indonesia sedang mengalami transformasi dalam struktur ekspor air laut. Pada awalnya, ekspor lebih berorientasi pada volume dengan harga rendah. Namun kini terjadi pergeseran menuju ekspor bernilai tinggi dengan pasar yang lebih spesifik. Transformasi ini sejalan dengan konsep upgrading dalam rantai nilai global, di mana negara berkembang berupaya meningkatkan nilai tambah dari produk yang diekspor (Gereffi, 2018; Badan Pusat Statistik, 2026).
Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan utama yang masih perlu diatasi. Pertama, sebagian besar ekspor masih dalam bentuk air laut mentah tanpa pengolahan lanjutan. Padahal, nilai ekonomi terbesar justru terdapat pada produk turunan seperti ekstrak mineral laut, kosmetik, dan produk kesehatan. Kedua, Indonesia belum memiliki branding global yang kuat untuk produk air lautnya. Negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan telah berhasil membangun citra sebagai produsen produk berbasis laut berkualitas tinggi. Ketiga, faktor logistik yang mahal menjadi hambatan tersendiri, mengingat karakteristik air laut yang berat dan korosif (Porter, 1990; UNCTAD, 2022).
Di sisi lain, peluang yang dimiliki Indonesia sangat besar. Air laut dapat menjadi bagian dari pengembangan bioekonomi laut yang mencakup industri kosmetik, farmasi, dan wellness. Tren global menunjukkan peningkatan permintaan terhadap produk berbasis bahan alami, termasuk mineral laut. Selain itu, potensi ini dapat diintegrasikan dengan sektor pariwisata, khususnya wisata kesehatan dan kebugaran di kawasan pesisir. Dengan pendekatan yang tepat, Indonesia tidak hanya menjual air laut sebagai komoditas, tetapi juga menjual nilai, kualitas, dan pengalaman yang melekat di dalamnya (World Bank, 2021; Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2023).
Pada akhirnya, data ekspor air laut Indonesia memberikan pesan yang jelas bahwa potensi besar telah ada, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Indonesia tidak kekurangan sumber daya maupun pasar, tetapi masih membutuhkan strategi yang tepat untuk meningkatkan nilai tambah. Melalui hilirisasi, penguatan branding, dan pengembangan ekosistem industri yang terintegrasi, air laut dapat menjadi salah satu komoditas unggulan dalam ekonomi kelautan Indonesia di masa depan (Gereffi, 2018; OECD, 2020).
Dus, air laut Indonesia bukan sekadar air asin, melainkan sumber daya strategis yang memiliki potensi ekonomi besar. Tantangan ke depan bukan lagi pada ketersediaan sumber daya, tetapi pada kemampuan untuk mengelola, mengolah, dan memposisikannya dalam pasar global. Dengan strategi yang tepat, air laut dapat menjadi simbol transformasi Indonesia menuju ekonomi laut yang bernilai tinggi.
Daftar Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026). Data ekspor Indonesia berdasarkan HS Code 25010050 (air laut), 2021–2025.
Gereffi, G. (2018). Global value chains and development: Redefining the contours of 21st century capitalism. Cambridge University Press.
Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2023). Laporan ekonomi kelautan Indonesia.
OECD. (2020). The ocean economy in 2030. OECD Publishing.
Porter, M. E. (1990). The competitive advantage of nations. Free Press.
UNCTAD. (2022). Review of maritime transport. United Nations.
World Bank. (2021). Blue economy development framework. World Bank.
