Belajar dari Tren Global untuk Menggerakkan Potensi Nusantara

Oleh : Suhana 

Indonesia adalah negara kepulauan dengan kekayaan laut yang luar biasa. Lebih dari dua pertiga wilayah nasional berupa perairan, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Selama berabad-abad, laut telah menjadi sumber pangan, jalur perdagangan, dan ruang hidup masyarakat pesisir. Namun, di tengah krisis iklim global dan meningkatnya kebutuhan energi nasional, laut Indonesia menawarkan peran baru yang jauh lebih strategis, yaitu sebagai sumber energi terbarukan masa depan.

Transisi menuju energi rendah karbon tidak lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan. Ketergantungan pada energi fosil tidak hanya meningkatkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memperbesar risiko ketahanan energi, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki tantangan distribusi energi antarwilayah. Dalam konteks ini, energi laut—yang mencakup energi gelombang, pasang surut, arus laut, perbedaan suhu laut (OTEC), dan gradien salinitas—muncul sebagai alternatif yang menjanjikan karena bersifat melimpah, stabil, dan berbasis sumber daya domestik.

BPS (2025) mencatat bahawa konsumsi akhir energi akhir Indonesia pada tahun 2024 mencapai angka 7.930.428 terajoule, mengalami kenaikan sekitar 7,2% dibanding tahun 2023 dengan konsumen utama adalah sektor industri dan kontruksi sebesar 4.515.252 terajoule, atau sekitar 56,9% dari total konsumsi energi akhir. Konsumen terbesar kedua adalah sektor rumah tangga sebesar 1.659.629 terajoule (20,9%), diikuti oleh tranportasi sebesar 1.250.606 terajoule (15,8%) dan konsumen lainnya, termasuk sektor bisnis sebesar 455.108 terajoule (5,8%).

Sementara itu produksi energi primer dalam negeri pada tahun 2024 mencapai 25.617.883 terajoule atau naik sebesar 7,5% dibanding tahun 2023. Sumber energi primer terbesar adalah batubara (21.018.820 terajoule), diikuti oleh produksi gas alam (2.509.448 terajoule), dan minyak mentah dan kondensat (1.292.308 terajoule) (BPS 2025).

Sejalan dengan temuan Shyamala et all (2026) dalam artikel Jurnal Energy Nexus berjudul Harnessing the Future of Renewable Energy: Integrated Insights of Ocean Energy, potensi energi laut secara global bahkan diperkirakan mampu melampaui kebutuhan listrik dunia. Namun hingga kini, pemanfaatannya masih sangat terbatas akibat tantangan teknologi, biaya, serta tata kelola. Bagi Indonesia, kondisi ini menghadirkan dua sisi sekaligus: keterbatasan implementasi di satu sisi, dan peluang strategis untuk menjadi pelopor energi laut di kawasan tropis di sisi lain.

Lebih dari sekadar sumber listrik, energi laut memiliki keterkaitan erat dengan ekonomi kelautan. Pengembangannya berpotensi mendorong industrialisasi maritim, memperkuat perikanan dan akuakultur, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta mendukung pembangunan pulau-pulau kecil. Oleh karena itu, energi laut perlu dipahami bukan hanya sebagai isu teknis energi, tetapi sebagai bagian integral dari transformasi ekonomi kelautan dan agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Pada artikel singkat ini penulis membahas bagaimana energi laut dapat menjadi pilar baru masa depan ekonomi kelautan Indonesia, dengan mengaitkan tren global, temuan ilmiah terkini, serta tantangan dan peluang implementasinya dalam konteks nasional. 

Energi Laut dalam Peta Transisi Energi Global

Secara global, transisi menuju energi rendah karbon masih didominasi oleh energi surya dan angin. Namun, Shyamala et all (2026) menegaskan bahwa ketergantungan berlebihan pada energi intermiten menimbulkan tantangan baru, terutama terkait stabilitas pasokan listrik dan kebutuhan energi baseload. Dalam konteks inilah energi laut memiliki posisi strategis.

Shyamala et all (2026) menjelaskan bahwa energi laut mencakup lima sumber utama, yaitu energi gelombang, energi pasang surut, energi arus laut, Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), dan energi gradien salinitas (blue energy). Keunggulan utama energi laut terletak pada kepadatan energi yang tinggi, prediktabilitas, serta ketersediaan yang relatif kontinu. Shyamala et all (2026) menunjukkan bahwa meskipun pemanfaatannya masih terbatas, tren riset energi laut meningkat signifikan sejak 2009, terutama setelah meningkatnya komitmen global terhadap pengurangan emisi karbon.

Bagi Indonesia, tren ini menjadi sinyal penting bahwa energi laut bukan sekadar wacana teknologi masa depan, tetapi arena kompetisi dan peluang ekonomi baru. Indonesia memiliki wilayah samudra terbuka yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia dan Pasifik, khususnya di pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Wilayah-wilayah ini memiliki karakteristik gelombang dan arus laut yang kuat serta relatif konsisten.

Shyamala et all (2026) mencatat bahwa energi gelombang memiliki potensi besar dengan efisiensi konversi 30–40 persen (Tabel 1), meskipun masih menghadapi tantangan teknis dan biaya. Dalam konteks Indonesia, pemanfaatan energi gelombang tidak harus langsung berskala besar. Pendekatan pembangkit skala kecil–menengah untuk pulau-pulau kecil, kawasan pesisir terpencil, dan sentra perikanan, justru lebih relevan dan realistis.

Energi arus laut, terutama di selat-selat sempit seperti Selat Lombok, Selat Alas, Selat Larantuka, dan Selat Sunda, memiliki potensi besar sebagai sumber listrik yang stabil. Jika dikembangkan secara tepat, energi arus laut dapat menurunkan ketergantungan BBM di wilayah kepulauan, menekan biaya logistik energi, dan memperkuat ekonomi lokal berbasis kelautan.

Tabel 1. Efisiensi Berbagai Bentuk Energi Laut.

Jenis Energi Laut Rentang Efisiensi Kepadatan Energi (kW/m² dan MW/km garis pantai) & Faktor Kapasitas Detail Referensi
Energi Gelombang 30–40% Kepadatan Energi: 20–70 kW/m² muka gelombang; hingga 30–100 MW/km garis pantai. Faktor Kapasitas: 25–45 %. Mengubah energi kinetik dari gelombang menjadi listrik. Efisiensi bervariasi tergantung pada tinggi gelombang, periode, dan teknologi yang digunakan. Irena. Innovation Outlook: Ocean Energy Technologies

International Renewable Energy Agency (2020)

Energi Pasang Surut 80–90% Kepadatan Energi: Biasanya 2–6 kW/m²; sistem pasang surut dapat melebihi 200 MW/km garis pantai di wilayah optimal. Faktor Kapasitas: 35–60 %. Efisiensi tinggi karena aliran pasang surut yang dapat diprediksi. Menggunakan bendungan pasang surut dan turbin, tetapi terbatas secara geografis. World Energy Resources: Marine Energy. (2016). World energy council. retrieved from world energy council website.
Konversi Energi Termal Laut (OTEC) 3–5% Kepadatan Energi: ∼5–10 kW/m² sumber daya gradien termal setara (tidak berbasis gelombang muka). Faktor Kapasitas: 80–95 % (beban dasar). Efisiensi rendah karena perbedaan suhu yang kecil; membutuhkan volume air yang besar. Doe. Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC)

US Department of Energy (2021)

Energi Gradien Salinitas (Energi Biru) 20–40% Kepadatan Energi: ∼2–4 W/m² luas permukaan membran, meningkat menjadi ∼5–30 MW/km zona muara pada instalasi besar. Faktor Kapasitas: 50–80 %. Memanfaatkan tekanan osmotik antara air asin dan air tawar. Efisiensinya terbatas oleh teknologi saat ini. (Energi Biru: Teknologi Energi Laut di Eropa. Komisi Eropa, 2018)
Energi Saat Ini 50–60% Kepadatan Energi: ∼2–3 kW/m² luas aliran, tergantung pada kecepatan arus (>1,5–2,5 m/s). Faktor Kapasitas: 30–50 %. Turbin bawah air menangkap energi arus laut; efisiensinya moderat tetapi dipengaruhi oleh biofouling dan kebutuhan perawatan. (“Energi Laut di Eropa: Kondisi Terkini,” 2019)

Sumber : Shyamala et all (2026)

Energi Pasang Surut: Stabilitas Energi untuk Wilayah Pesisir

Energi pasang surut merupakan bentuk energi laut paling stabil dan dapat diprediksi. Shyamala et all (2026) menunjukkan bahwa efisiensinya mencapai 80–90 persen, menjadikannya salah satu sumber energi terbarukan paling andal secara teknis.

Indonesia memiliki banyak teluk, estuaria, dan perairan semi-tertutup yang berpotensi untuk pengembangan energi pasang surut. Namun, pengalaman negara lain menunjukkan bahwa pembangunan bendungan pasang surut (tidal barrage) berisiko menimbulkan dampak ekologis signifikan.

Oleh karena itu, bagi Indonesia, pendekatan turbin arus pasang (tidal stream turbines) jauh lebih sesuai dengan prinsip ekonomi kelautan berkelanjutan. Teknologi ini dapat dikembangkan secara modular, minim gangguan ekosistem, dan selaras dengan aktivitas perikanan jika dirancang secara partisipatif.

OTEC: Energi Strategis untuk Negara Tropis Kepulauan

Salah satu temuan paling relevan dari Shyamala et all (2026) bagi Indonesia adalah potensi Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). Teknologi ini memanfaatkan perbedaan suhu antara air laut permukaan dan laut dalam, yang secara alami tersedia di wilayah tropis sepanjang tahun.

Indonesia, dengan perairan tropis yang luas dan banyak pulau kecil, merupakan lokasi ideal OTEC secara global. Keunggulan OTEC tidak hanya pada produksi listrik yang stabil 24 jam, tetapi juga pada kemampuannya menghasilkan air tawar sebagai produk sampingan. Hal ini sangat penting bagi pulau kecil, kawasan pesisir kering, dan wilayah rawan krisis air bersih. Dalam kerangka ekonomi kelautan, OTEC dapat berfungsi sebagai infrastruktur dasar pembangunan pulau kecil, yang mendukung perikanan, pariwisata bahari, dan industri pengolahan hasil laut.

Energi Gradien Salinitas

Indonesia memiliki ribuan muara sungai besar dan kecil yang berinteraksi langsung dengan laut. Secara teoritis, wilayah ini sangat cocok untuk pengembangan energi gradien salinitas. Namun, Shyamala et all (2026) menegaskan bahwa teknologi ini masih berada pada tahap awal pengembangan.

Bagi Indonesia, energi salinitas lebih relevan sebagai agenda riset dan inovasi jangka menengah, bukan solusi energi jangka pendek. Pengembangannya dapat dikaitkan dengan kawasan industri pesisir, pengelolaan DAS, dan restorasi ekosistem estuaria.

Salah satu kontribusi penting Shyamala et all (2026) adalah penegasan bahwa energi laut tidak boleh dilihat semata-mata sebagai sektor energi, melainkan sebagai bagian dari sistem ekonomi kelautan terpadu. Dalam konteks Indonesia, pengembangan energi laut dapat menciptakan lapangan kerja maritim baru, mendorong industri galangan, rekayasa kelautan, dan manufaktur lokal, memperkuat riset dan inovasi kelautan, serta meningkatkan nilai tambah wilayah pesisir. Lebih jauh, energi laut dapat menjadi enabler bagi sektor perikanan, budidaya laut, logistik dingin (cold chain), dan industri pengolahan hasil laut di wilayah terpencil.

Sejalan dengan temuan Shyamala et all (2026), tantangan utama pengembangan energi laut di Indonesia meliputi keterbatasan teknologi dan SDM, biaya investasi awal yang tinggi, risiko lingkungan dan sosial, dan fragmentasi kebijakan lintas sektor. Tanpa kerangka kebijakan yang jelas dan konsisten, energi laut berisiko berhenti pada tahap pilot project. Oleh karena itu, diperlukan roadmap energi laut nasional, integrasi dengan kebijakan ekonomi kelautan dan energi, skema pembiayaan inovatif, dan kemitraan riset dan industri.

Dus, artikel jurnal internasional berjudul Harnessing the Future of Renewable Energy: Integrated Insights of Ocean Energy yang ditulis oleh Shyamala et all (2026) menegaskan bahwa energi laut adalah sumber daya strategis yang belum dimanfaatkan secara optimal di tingkat global. Bagi Indonesia, pesan ini jauh lebih kuat, yaitu laut bukan hanya masa lalu dan masa kini, tetapi juga masa depan energi dan ekonomi bangsa.

Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, keberlanjutan ekosistem, dan keadilan sosial, energi laut dapat menjadi pilar baru pembangunan maritim Indonesia—menjembatani transisi energi, memperkuat ekonomi kelautan, dan mewujudkan visi Indonesia negara maritim terbesar dunia.

 

Referensi Utama:

BPS RI. 2025. Neraca Energi Indonesia 2020-2024. Volume 27, 2025

Shyamala, Gobinath Ravindran, George Uwadiegwu Alaneme, Ramesh T, Sukumar Dhanapalan. 2026. Harnessing the future of renewable energy: Integrated insights of ocean energy. Energy Nexus Volume 21, March 2026, 100622. DOI: https://doi.org/10.1016/j.nexus.2025.100622

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!