
Oleh: Suhana
Tahun 2025 menandai fase penting bagi sektor perikanan Indonesia. Bukan sebagai tahun ledakan pertumbuhan, melainkan sebagai periode stabilitas yang penuh perhitungan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan perubahan iklim, serta dinamika pasar domestik dan ekspor, sektor perikanan justru menunjukkan daya tahan yang patut dicermati.
Gambaran ini tercermin dari Hasil Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Triwulan IV tahun 2025 oleh Bank Indonesia. Dalam laporan tersebut terlihat bahwa Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sektor perikanan sepanjang 2025 berada di zona positif, meskipun dengan tingkat optimisme yang moderat. Tidak ada lonjakan tajam, tetapi juga tidak terlihat kontraksi yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut menandakan bahwa pelaku usaha perikanan—mulai dari nelayan, pembudidaya, hingga pelaku pengolahan—sedang berada dalam mode bertahan, menyesuaikan diri, dan mengelola risiko.
Dalam konteks ekonomi kelautan, stabilitas semacam ini sering kali luput dari perhatian. Padahal, justru di fase inilah arah masa depan sektor ditentukan. Keputusan untuk menahan ekspansi, meningkatkan efisiensi, atau mengubah strategi usaha mencerminkan cara pelaku perikanan membaca tantangan struktural yang semakin kompleks, mulai dari cuaca ekstrem hingga tuntutan pasar yang lebih berkelanjutan.
Penulis dalam artikel ini mengulas bagaimana kinerja Saldo Bersih Tertimbang sektor perikanan pada tahun 2025 mencerminkan kondisi riil di lapangan, sekaligus apa maknanya bagi arah kebijakan dan pembangunan ekonomi kelautan Indonesia ke depan. Dengan memahami sinyal-sinyal ini, perikanan tidak hanya dilihat sebagai sektor produksi, tetapi sebagai penopang ketahanan ekonomi dan pangan nasional di tengah perubahan zaman.
Memahami Saldo Bersih Tertimbang (SBT) dalam Konteks Perikanan
Saldo Bersih Tertimbang merupakan indikator yang menggambarkan ekspektasi bersih pelaku usaha terhadap kondisi usahanya. Nilai positif berarti pelaku usaha yang optimistis lebih banyak dibanding yang pesimistis; sebaliknya, nilai negatif menandakan tekanan atau kontraksi.
Dalam sektor perikanan—yang sangat dipengaruhi faktor alam, harga input, dan pasar—SBT menjadi alat penting untuk membaca suasana batin ekonomi nelayan, pembudidaya, pengolah, dan pelaku distribusi. Oleh karena itu, pergerakan SBT bukan sekadar angka statistik, melainkan refleksi dari keputusan harian: apakah melaut diperbanyak, investasi kolam ditambah, atau justru menahan produksi.
SBT Perikanan 2025
Untuk memahami 2025, kita perlu menengok dinamika sebelumnya. Tahun 2023 tercatat sebagai periode optimisme tertinggi sektor perikanan, dengan SBT mencapai 0,43–0,44 persen pada kuartal II dan IV (Bank Indonesia, 2026). Permintaan yang membaik, stabilisasi harga, dan pemulihan pasca pandemi menjadi pendorong utama.
Namun, optimisme itu tidak sepenuhnya berlanjut. Tahun 2024 menghadirkan volatilitas yang tajam, terutama pada kuartal III ketika SBT anjlok hingga -0,18 persen. Faktor cuaca ekstrem, tekanan biaya produksi, serta ketidakpastian pasar global membuat pelaku usaha lebih berhati-hati.

Meski demikian, sektor perikanan menunjukkan resiliensi struktural dengan kembali ke zona positif pada kuartal IV 2024. Modal psikologis inilah yang dibawa ke tahun 2025. Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa sepanjang 2025 tidak ada satu pun kuartal dengan nilai negatif. Ini menunjukkan bahwa pesimisme tidak mendominasi, bahkan ketika tekanan masih ada. Namun, dibandingkan puncak 2023, tingkat optimisme jelas lebih rendah. Kondisi ini dapat dibaca sebagai fase konsolidasi. Pelaku usaha tidak buru-buru berekspansi, tetapi juga tidak menarik diri. Fokus utama bergeser ke efisiensi, pengendalian risiko, dan keberlanjutan usaha.
Ada beberapa faktor utama yang menjelaskan mengapa 2025 menjadi tahun optimisme yang terkendali, yaitu pertama, ketidakpastian iklim yang masih membayangi. Perikanan tangkap dan budidaya masih menghadapi risiko cuaca ekstrem, perubahan pola musim, serta anomali suhu laut. Pengalaman kontraksi di Q3 2024 membuat pelaku usaha lebih waspada dalam mengambil keputusan produksi. Kedua, tekanan biaya produksi. Harga BBM, pakan ikan, es, dan logistik masih menjadi tantangan. Meskipun tidak melonjak drastis, biaya yang tinggi menekan margin keuntungan dan menahan ekspansi. Ketiga, pasar ekspor yang selektif. Permintaan global tetap ada, tetapi standar mutu, keberlanjutan, dan traceability semakin ketat. Ini membuka peluang bagi pelaku yang siap, namun menjadi hambatan bagi usaha kecil yang belum bertransformasi.
Menariknya, pola musiman tetap terlihat pada 2025. SBT meningkat pada paruh kedua tahun, terutama di Q4 2025 (0,21 persen). Pola ini konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana kuartal akhir sering menjadi fase pemulihan. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pelaku usaha masih memiliki kepercayaan terhadap permintaan akhir tahun, baik dari konsumsi domestik maupun ekspor. Artinya, sektor perikanan belum kehilangan daya tarik ekonominya.
Arah Kebijakan Perikanan
Tahun 2025 memberikan pesan penting bagi para pembuat kebijakan. Ketika sektor berada dalam kondisi stabil namun berhati-hati, kebijakan yang dibutuhkan bukanlah stimulus besar-besaran yang bersifat reaktif, melainkan intervensi cerdas yang menurunkan risiko. Beberapa arah kebijakan yang relevan antara lain (1) penguatan perlindungan nelayan dan pembudidaya melalui asuransi dan sistem peringatan dini cuaca; (2) stabilisasi biaya input, khususnya BBM nelayan dan pakan budidaya; (3) Pendampingan transformasi usaha kecil, agar mampu memenuhi standar pasar modern; dan (4) penguatan pasar domestik, sehingga sektor tidak terlalu bergantung pada fluktuasi ekspor.
Dalam narasi ekonomi biru, tahun 2025 dapat dilihat sebagai fase “menata fondasi”. SBT yang positif namun moderat mencerminkan kesadaran kolektif pelaku usaha bahwa keberlanjutan dan efisiensi lebih penting daripada pertumbuhan cepat yang rapuh. Sektor perikanan Indonesia tidak sedang lesu. Ia sedang belajar bertahan dan beradaptasi. Dalam jangka panjang, ini justru menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan iklim, pasar global, dan transformasi ekonomi.
Dus, Saldo Bersih Tertimbang sektor perikanan tahun 2025 mengajarkan satu hal penting, yaitu stabilitas bukanlah kelemahan. Di tengah dunia yang penuh guncangan, kemampuan untuk tetap positif, meski hati-hati, adalah bentuk kekuatan. Jika kebijakan publik mampu membaca sinyal ini dengan tepat, sektor perikanan tidak hanya akan bertahan, tetapi perlahan kembali menjadi motor pertumbuhan ekonomi kelautan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Referensi
Bank Indonesia, 2026. Survei Kegiatan Dunia Usaha – Triwulan IV 2025
