Ilustrasi Pembangunan ekonomi biru wajib mempertimbangankan dampaknya terhadap nelayan kecil dan lingkungan. Photo : Suhana

Oleh : Suhana

Konsep ekonomi biru telah mendapatkan popularitas setelah Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2012, bahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam periode 2021-2024 mengusung kebijakan ekonomi biru. Namun demikian, konsep ekonomi biru sering kali fokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman dan tantangan ekonomi biru yang melibatkan keadilan sosial dan lingkungan.

Duret, Celine Germond et.al (2022) dalam artikelnya yang berjudul (In) Justice and The Blue Economy yang dipublikasi pada The Geographical Journal mencatat bahwa terdapat risiko-risiko ketidakadilan sosial yang terkait dengan implementasi ekonomi biru. Duret, Celine Germond et.al (2022) dalam artikelnya membahas konsep ekonomi biru dan perlunya memperhatikan keadilan sosial dan lingkungan dalamnya. Selain itu juga menyoroti risiko dan tantangan yang terkait dengan ekonomi biru dan menyerukan pengambilan keputusan yang inklusif dan pendekatan interdisipliner.

Duret, Celine Germond et.al (2022) menjelajahi asal-usul dan interpretasi yang beragam dari konsep ekonomi biru. Konsep ekonomi biru, yang berfokus pada penggunaan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut, sedang dipromosikan oleh Komisi Eropa dan organisasi lainnya.

Namun, ada ambiguitas dan kebingungan seputar konsep ini, yang mengarah pada interpretasi dan praktik yang berbeda. Sementara ekonomi biru seharusnya memprioritaskan keberlanjutan lingkungan dan sosial, ada risiko penggunaannya untuk membenarkan praktik yang tidak berkelanjutan dan eksploitatif. Dimensi sosial dari ekonomi biru, termasuk pertanyaan tentang keadilan, belum mendapatkan perhatian yang cukup. Ilmu sosial perlu terlibat dalam perdebatan ini dan mengatasi potensi biaya manusia dan sosial dari ekonomi biru sambil memastikan keadilan.

Duret, Celine Germond et.al (2022) menekankan pentingnya mempertimbangkan elemen sosial-budaya, konteks sejarah, praktik budaya, dan identitas sosial dalam desain dan pengiriman proyek untuk mencapai ekonomi biru yang ditandai oleh keberlanjutan sosial dan pembangunan inklusif. Selain tiu juga perlunya mengatasi risiko ekonomi biru, mempromosikan inklusi dan partisipasi, mendefinisikan praktik yang adil dan berkelanjutan, dan menantang pemahaman dominan tentang ekonomi biru. Oleh sebab itu Duret, Celine Germond et.al (2022) menyerukan perlunya pendekatan inklusif, interdisipliner, dan berbasis keadilan sosial dalam memahami dan mengatasi tantangan ekonomi biru.

Berdasarkan artikel Duret, Celine Germond et.al (2022) setidaknya ada enam hal penting untuk dijadikan pelajaran bagi bangsa Indonesia dalam mengusung konsep ekonomi biru, yaitu pertama konsep ekonomi biru sering kali dianggap sebagai peluang untuk pertumbuhan ekonomi. Namun, ada kebutuhan untuk mengatasi “kebutaan laut” dalam masyarakat yang mengabaikan pentingnya ruang laut dan dampaknya terhadap masyarakat, budaya, dan identitas. Kedua, terdapat risiko dan tantangan terkait dengan ekonomi biru, termasuk risiko ketidakadilan sosial. Misalnya, reformasi tata kelola perikanan di Jepang dapat menyebabkan masyarakat nelayan mengalami kehilangan kekuasaan.

Ketiga, terdapat kebutuhan untuk pendekatan inklusif dan pendekatan interdisipliner dalam mengimplementasikan ekonomi biru. Pendekatan ini harus melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, dan masyarakat sipil dalam kerangka penelitian tindakan transdisipliner. Keempat, penting untuk mempertimbangkan perspektif lokal, skala geografis, dan konteks budaya dalam desain dan pengiriman proyek ekonomi biru. Hal ini akan memastikan pengakuan terhadap pandangan lokal dan skala yang sesuai.

Kelima, terdapat kebutuhan untuk memperkuat keadilan sosial dalam ekonomi biru. Kerangka kerja blue justice dapat meningkatkan kesetaraan, ketahanan, dan keberlanjutan dalam implementasi ekonomi biru. Keenam, terdapat kebutuhan untuk mengintegrasikan keadilan dan ketahanan dalam inisiatif ekonomi biru. Kerangka kerja “just disruptions” dapat memfasilitasi integrasi tersebut.

 

Tantangan Penelitian Ekonomi Biru  

Penelitian yang dilakukan oleh Duret, Celine Germond et.al (2022) terlihat belum dilengkapi dengan penelitian empiris. Duret, Celine Germond et.al (2022) lebih berfokus pada analisis konseptual dan pemikiran kritis terkait dengan ekonomi biru dan keadilan sosial dan lingkungan. Karena itu, tidak ada data empiris yang digunakan untuk mendukung argumen yang diajukan dalam artikelnya.

Selain itu, penelitian ini juga tidak menyediakan solusi konkret atau rekomendasi tindakan yang dapat diambil untuk mengatasi tantangan yang terkait dengan ekonomi biru dan keadilan sosial dan lingkungan. Artikel ini lebih berfungsi sebagai tinjauan literatur dan pemikiran awal tentang topik ini.

Berdasarkan hal tersebut penelitian yang dilakukan Duret, Celine Germond et.al (2022) dapat diperluas atau dikembangkan lebih lanjut untuk mengkaji konsep ekonomi biru di Indonesia. Ada lima hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu pertama, melibatkan studi empiris yang lebih mendalam tentang implementasi dan dampak ekonomi biru di berbagai konteks geografis.

Kedua, penelitian dapat melibatkan analisis lebih lanjut tentang aspek sosial-budaya dan identitas dalam desain dan implementasi proyek ekonomi biru. Studi dapat mengeksplorasi bagaimana faktor-faktor seperti praktik budaya, tradisi lokal, dan pengetahuan tradisional dapat diintegrasikan dalam pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan dan inklusif.

Ketiga, penelitian dapat melibatkan analisis lebih lanjut tentang risiko dan tantangan yang terkait dengan ekonomi biru, termasuk risiko eksploitasi sumber daya, risiko dislokasi masyarakat lokal, dan risiko ketimpangan sosial. Keempat, penelitian dapat mengidentifikasi strategi dan kebijakan yang dapat mengurangi risiko ini dan mempromosikan keadilan dan keberlanjutan dalam ekonomi biru.

Kelima, penelitian dapat melibatkan kolaborasi antara ilmu sosial dan ilmu alam untuk memahami secara holistik dampak ekonomi biru terhadap lingkungan dan masyarakat. Pendekatan interdisipliner dan transdisipliner dapat digunakan untuk mengintegrasikan pengetahuan dan perspektif dari berbagai disiplin ilmu dalam memahami dan merancang ekonomi biru yang berkelanjutan.

 

Referensi

Duret, Celine Germond et.al (2022). (In) Justice and The Blue Economy yang dipublikasi pada The Geographical Journal Volume 189, Issue 2. https://rgs-ibg.onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/geoj.12483

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!