Kenapa Harga Ikan Turun di Awal Pandemi Covid-19?

Nelayan perempuan pesisir Pangandaran sedang menarik jaring. Mereka tetap bertahan dalam kondisi resesi ekonomi perikanan (Photo : Suhana 2020)

Oleh : Suhana 

Pada awal pandemi Covid-19 sebagian besar media masa melaporkan terjadinya penurunan harga ikan di tingkat nelayan dan pembudidaya ikan. Akibatnya pendapatan keluarga nelayan dan pembudidaya ikan dari aktivitas perikanan mengalami penurunan, dan daya beli keluarga nelayan dan pembudidaya ikan juga mengalami penurunan.

Baca juga : http://suhana.web.id/2020/04/17/dampak-covid-19-terhadap-pelaku-perikanan-lokal/

Hal ini terlihat dari nilai tukar nelayan (NTN) dan nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) pada triwulan II-2020 berada di bawah angka 100. Artinya daya beli keluarga nelayan dan pembudidaya ikan mengalami defisit.

Baca Juga : http://suhana.web.id/2021/01/05/nilai-tukar-perikanan-2020/

Pandemi COVID-19 telah memaksa banyak pemerintah untuk menutup sebagian besar ekonomi, termasuk bisnis, restoran, dan sekolah, setidaknya untuk sementara, untuk mempromosikan jarak dan mengurangi tingkat infeksi (Althouse et al., 2020; Hale et al., 2021). Kebijakan jaga jarak dapat mengurangi permintaan produk perikanan, dan dapat berdampak menurun secara keseluruhan. Harga produk perikanan karena restoran membayar nilai premium untuk seafood (Love et al., 2020).

Bahkan penelitian Campbell et al. (2021) di Sulawesi Tenggara menujukkan bahwa volume dan nilai tangkapan ikan nelayan kecil telah menurun secara signifikan sejak pemerintah Indonesia membatasi perjalanan dan jarak sosial sebagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19. Jumlah nelayan dan pedagang aktif di wilayah Sulawesi Tenggara terlihat menurun lebih dari 90% setelah diumumkannya pandemi Covid-19 oleh pemerintah.

Namun demikian, meskipun harga rata-rata per kilogram ikan menurun setelah pandemi dimulai, para nelayan yang mampu mempertahankan penangkapan memiliki hasil tangkapan rata-rata yang lebih tinggi sehingga nilai tangkapan harian tetap terjaga. Perikanan bernilai tinggi yang biasanya memasuki rantai pasokan ekspor lebih banyak terkena dampak negatif dibandingkan dengan spesies bernilai rendah yang umumnya dijual ke pasar lokal (Campbell et al., 2021).

Saat ini kondisi tersebut sudah kembali membaik, pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sudah kembali tumbuh dengan baik, walaupun dibeberapa wilayah belum pulih 100%. Namun demikian yang menjadi perhatian penulis adalah bagaimana menjelaskan hubungan antara kebijakan pembatasan perjalanan, jaga jarak, penutupan restoran terhadap penurunan harga ikan di tingkat nelayan dan pembudidaya ikan.

Padahal disatu sisi, dimasa pandemi covid-19 aktivitas ekspor produk perikanan mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari total nilai ekspor perikanan Indonesia periode Januari-Desember 2020 yang mencapai USD 5,20 Milyar atau naik sebesar 5,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 (Badan Pusat Statistik RI, 2021). Artinya aktivitas ekspor perikanan terlihat belum signifikan dalam menjaga serapan hasil produk para nelayan dan pembudidaya ikan yang mengakibatkan harga ikan mengalami penurunan.

Struktur Permintaan dan Penawaran Sektor Perikanan

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis mencoba menelusurinya melalui Tabel Input-Output tahun 2016 yang dipublis BPS pada Maret 2021 dan direvisi Oktober 2021. Tabel input-output ini merupakan data yang sangat baik untuk melihat struktur permintaan dan penawaran sektor perikanan di Indonesia. Berdasarkan struktur tersebut diharapkan dapat diketahui faktor apa yang menjadi penyebab terjadinya penurunan permintaan produk perikanan di Indonesia pada awal pandemi covid-19.

Terlebih tabel Input-Output tahun 2016 disusun berdasarkan hasil sensus ekonomi 2016 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS-RI). Sehingga datanya sangat valid dan baik untuk digunakan dalam melihat struktur permintaan dan penawaran sektor perikanan.

Berdasarkan Struktur Permintaan dan Penawaran Sektor Perikanan 2016 terlihat bahwa total permintaan sektor perikanan mencapai Rp. 438. 270 Milyar atau naik sebesar 103,05% dibandingkan tahun 2010. Pada tahun 2016 permintaan sector perikanan tertinggi terjadi pada permintaan akhir konsumsi domestik, yaitu mencapai Rp. 232.254 Milyar atau sekitar 52,99%.

Permintaan antara sektor perikanan mencapai Rp. 146.466 Milyar atau sekitar 33,42%) dan permintaan akhir ekspor mencapai Rp. 59.549 Milyar atau sekitar 13,59%. Hal ini menunjukkan bahwa output perikanan nasional sangat dominan diserap oleh pasar dalam negeri, dibandingkan ekspor.

Tabel 1. Struktur Permintaan dan Penawaran Sektor Perikanan Menurut Tabel Input-Output 2010 dan 2016 (Rp. Milyar)

No

Tahun Permintaan Antara (Rp. Milyar) Permintaan Akhir (Rp. Milyar) Total Permintaan (Rp. Milyar) Penyedia(Rp. Milyar) Jumlah Penyediaan (Rp. Milyar)
Domestik Ekspor Import

Domestik

1

2016

146,466

232,254 59,549 438,270 4,927 433,343

438,270

Share (%)

33.42

52.99 13.59 100.00 1.12 98.88

100.00

2

2010

72,267

119,744 23,828 215,840 3,657 212,182

215,840

Share (%)

33.48

55.48 11.04 100.00 1.69 98.31

100.00

Sumber : https://www.bps.go.id/publication/2021/03/31/081f6b0af2c15c524d72b660/tabel-input—output-indonesia-2016.html , diolah Suhana

Sementara itu dari total yang diserap oleh permintaan antara terlihat bahwa sekitar 44,49% diserap oleh sektor pariwisata bahari (restoran, rumah makan, café dan sejenisnya), 42,47% oleh sektor perikanan sendiri (industry pengolahan), 12,60% sektor lainnya dan 0,45% diserap oleh sektor angkutan laut. Artinya sektor pariwisata bahari sangat berperan penting dalam menyerap output dari sektor perikanan.

Dari sisi supply terlihat bahwa pada tahun 2016 total supply perikanan domestic mencapai Rp. 433.343 Milyar atau meningkat sekitar 104,23% dibandingkan tahun 2010. Sementara itu supply perikanan dari impor mencapai Rp. 4.927 Milyar atau meningkat sebesar 34,73%. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa supply perikanan nasional sangat didominasi oleh produk domestic (nelayan dan pembudidaya ikan), yaitu mencapai 98,88%. Sementara supply dari impor hanya mencapai 1,12%.

Benahi Rantai Pasok Ikan

Berdasarkan data tersebut terlihat jelas bahwa kenapa pada awal pandemi Covid-19 harga ikan di tingkat produsen mengalami penurunan sangat tajam karena permintaan domestik dan aktivitas pariwisata bahari mengalami penurunan. Serapan output perikanan masih tertolong oleh industri perikanan dan aktivitas ekspor yang cenderung menggeliat pada saat pandemi Covid-19. Walaupun belum mampu secara signifikan dalam menyerap hasil produksi nelayan dan pembudidaya ikan.

Belajar dari kasus tersebut, pemerintah perlu mempercepat implementasi sistem resi gudang untuk sektor perikanan, sehingga ikan-ikan hasil produksi nelayan dan pembudidaya ikan bisa ditampung dulu di SRG dan dijual lagi ketika harga mulai kembali stabil. Selain itu juga pemerintah perlu terus memperkuat rantai pasok dari nelayan ke konsumen langsung (rumah tangga), pariwisata bahari dan industri pengolahan. Misalnya colstroge di setiap rantai pasar. Selama ini pemerintah hanya fokus pada coldstorage yang ada di pelabuhan perikanan saja, sudah saatnya untuk bangun coldstorage di jalur distribusi/pasar ikan sampai ke pelosok wilayah di Indonesia.

Dus, dengan adanya upaya yang sistematis dalam membenahi rantai pasok dari hulu-hilir, diharapkan ekonomi keluarga perikanan (nelayan dan pembudidaya ikan) akan terus meningkat dan terjaga dengan baik. Pemerintah perlu terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan para pahlawan pangan ikan tersebut.

   Send article as PDF   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.