Lobsternomic (3) : Saatnya Benahi Kebijakan Lobster Indonesia

Lobster (Sumber : https://www.pngdownload.id/png-qdkkw3/)

Oleh : Suhana

Lobster merupakan salah satu komoditas perikanan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun demikian produksi Lobster dunia—termasuk Indonesia—sampai saat ini masih sangat tergantung dari pasokan alam, baik benih maupun ukuran konsumsi. Data FAO (2019) menunjukkan bahwa dalam periode 2010-2017 produksi Lobster dunia rata-rata tumbuh 2,30 % pertahun. Produksi Lobster dunia tahun 2017 mencapai 322.066 ton, dimana 319.996 ton bersumber dari perikanan tangkap dan 2.070 ton dari perikanan budidaya. Dalam periode 2010-2017 terlihat bahwa share produksi perikanan tangkap terhadap total produksi dunia rata-rata mencapai 99,52 %, sementara share perikanan budidaya terlihat cenderung stagnan sekitar 0,48 %. Artinya produksi Lobster masih mengandalkan produksi dari alam (Perikanan Tangkap), sementara budidaya lobster di dunia sampai saat ini belum berkembang dengan baik (Suhana 2019).

Oleh sebab itu menjaga stock Lobster di alam menjadi sangat penting, mengingat sampai saat ini produksi Lobster dunia masih sangat tergantung pada pasokan dari hasil tangkapan di alam. Artinya dengan menjaga keberlanjutan stock Lobster di alam akan turut menjaga keberlanjutan ekonomi Lobster. Negara-negara produsen Lobster dunia juga sudah menerapkan berbagai aturan guna menjaga kelestarian sumberdaya Lobster di alam. Misalnya adalah Australia, Inggris, Honduras, Nikaragua, dan India. Artinya bahwa kesadaran negara-negara produsen Lobster dunia untuk menjaga kelestarian stock sumberdaya di alam semakin tinggi. Oleh sebab itu langkah pemerintah Indonesia untuk menjaga kelestarian sumberdaya Lobster di alam perlu didukung secara baik oleh semua pemangku kepentingan di Indonesia.

Selain itu juga kondisi pandemi Covid-19 telah memukul bisnis Lobster dunia. Pada semester 1 tahun 2020 terjadi penurunan yang serius dalam perdagangan lobster dunia. Ekspor global turun 24,4 persen menjadi 63.402 ton (FAO 2021).  Ekspor AS menurun drastis sebesar 44,6 persen menjadi hanya 4.583 ton, sementara Kanada turun sebesar 17,8 persen menjadi 40.092 ton. Di sisi impor, China mengimpor 18,4 persen lebih sedikit (18.596 ton) dibandingkan dengan enam bulan pertama tahun 2019. Importir terbesar, Amerika Serikat, mengimpor 24.326 ton atau 11,5 persen lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Uni Eropa mencatat penurunan impor lobster sebesar 22,2 persen selama periode ini, dengan total impor mencapai 10.625 ton. Industri lobster Irlandia telah terkena dampak pandemi COVID-19, yang meredam permintaan karena penurunan ekonomi, dan harga turun 20 hingga 30 % (FAO 2021).

Industri lobster Australia juga dilanda COVID-19 ketika China menutup impor. Akibatnya, sebagian besar pasar Australia menghilang. Di Australia Barat, lobstermen (penangkap lobster) telah mengalami lonjakan produksi, tetapi harga turun. Sejak awal pandemi COVID-19, harga lobster batu Australia Barat telah turun secara signifikan. Pada Mei 2020, harga ekspor turun 19 persen dibanding periode yang sama pada 2019. Ada beberapa penyebab penurunan harga, di antaranya sulitnya menemukan kapasitas angkutan udara. Selain itu, terjadi peningkatan pasokan lobster karang dari Selandia Baru dan Tasmania.

Prospek pasar lobster dimasa pandemi masih akan mengalami kesulitan karena lebih banyak ekonomi mengalami masalah. Barang-barang mewah seperti lobster biasanya sangat terpukul selama periode penurunan ekonomi, dan banyak yang memperkirakan bahwa ekonomi dunia akan terus berkontraksi, dan untuk jangka waktu yang cukup lama (FAO 2021). Dengan demikian, perdagangan akan berkurang, dan harga akan terus rendah, atau bahkan turun lebih rendah. Selain itu, persediaan mungkin turun karena para pedagang tidak menganggapnya berguna karena harga yang rendah.

Belajar dari Budidaya Lobster Viet Nam

Wilayah Budidaya Lobster di Viet Nam (Sumber : https://www.researchgate.net/figure/Major-lobster-culture-areas-in-Vietnam_fig9_282071123)

Viet Nam dan Lobster merupakan dua kata yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan hangat para pemangku kepentingan perikanan di tanah air, khususnya perikanan budidaya lobster. Viet Nam sampai saat ini masih menjadi daya tarik bagi para eksportir benih lobster di tanah air. Walaupun sudah dihentikan, ternyata masih banyak yang diselundupkan. Hampir setiap saat media melaporkan penggagalan penyelundupan benih lobster dari Indonesia ke Viet Nam.

Sebuah artikel dalam Jurnal Marine Policy 113 (2020) 103799 yang berjudul “Involving stakeholders to support sustainable development of the marine lobster aquaculture sector in Vietnam” membahas secara detail terkait kondisi budidaya lobster di Viet Nan saat ini. Artikel tersebut di tulis oleh Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman, akademisi dari Department of Agricultural Economics, Faculty of Bioscience Engineering, Ghent University, Belgium dan University of Economics, Hue University, Viet Nam

Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman (2020) dalam artikelnya menjelaskan bahwa Viet Nam saat ini memiliki industri budidaya lobster yang berkembang dengan baik.  Dalam berbagai hasil riset diketahui bahwa budidaya lobster di Viet Nam didirikan sekitar tahun 1990-an dengan produksi kurang dari 100 ton. Namun, seiring dengan tumbuhnya permintaan, maka perikanan lobster dieksploitasi secara berlebihan. Industri budidaya lobster di Vietnam berkembang secara signifikan dan menjadi lebih intensif selama dua dekade terakhir. Jumlah keramba budidaya lobster telah meningkat dari sekitar 17.600 pada tahun 2000 menjadi lebih dari 83.000 pada tahun 2017. Perkembangan ini memberikan kontribusi besar bagi ekonomi Vietnam dan pengentasan kemiskinan di masyarakat pesisirnya. Namun demikian, pertumbuhan industri budidaya lobster di Viet NAm saat ini menjadi tidak terkendali, meningkatkan polusi, menyebarkan penyakit dan bahkan dalam beberapa tahun terakhir sudah berdampak pada penurunan produktivitas. Oleh sebab itu, guna mendukung industri ini, pemerintah Vietnam tidak hanya mengandalkan kebijakan budidaya perikanan secara umum; mereka juga telah mengeluarkan kebijakan khusus untuk budidaya lobster.

Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman (2020) menyatakan bahwa kondisi alam yang cocok di Vietnam dianggap sebagai kekuatan terpenting, sementara banyak pasar yang belum dimanfaatkan dan dukungan pemerintah untuk sektor ini merupakan peluang utama untuk lebih mengembangkan budidaya lobster laut. Namun demikian, meningkatnya angka kematian lobster dan frekuensi wabah penyakit dianggap sebagai kelemahan utama. Selain itu, perkembangan kompleks dari tekanan penyakit dan ketergantungan pada pasar China dianggap sebagai ancaman yang paling penting.

Kekuatan

Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman (2020) menyatakan bahwa kondisi alam yang sesuai di Vietnam, terutama di wilayah tengah, termasuk garis pantai yang panjang dan banyak teluk serta pulau yang menawarkan perlindungan angin dan gelombang, menjadi salah satu kekuatan utama untuk mengembangkan budidaya lobster. Ketersediaan benih secara alami, salah satu input penting bagi industri budidaya lobster, juga dianggap sebagai salah satu kekuatan. Di Vietnam, terutama di laut tengah, benih lobster secara alami berlimpah dan dapat ditangkap dengan mudah. Namun pasokan benih hasil tangkapan alam dari daerah lokal tidak sejalan dengan terus meningkatnya permintaan dari industri budidaya. Karena belum berkembangnya teknologi pembenihan, perlu dilakukan impor benih dari negara lain untuk menutupi kekurangan tersebut. Selama ini benih lobster di impor dari Indonesia, Filipina, dan Malaysia.

Sementar itu, meski tidak ada khusus perikanan rucah, tangkapan sampingan merupakan produk terpenting industri ini baik dari segi bobot maupun nilai. Ikan rucah merupakan input penting untuk budidaya, termasuk budidaya lobster. Menurut semua pemangku kepentingan, ketersediaan ikan rucah di Vietnam relatif baik. Selain itu, ketersediaan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi dan pengalaman bertahun-tahun bekerja di bidang budidaya lobster merupakan salah satu kekuatan dalam mengembangkan industri ini. Selain itu, para ahli sepakat bahwa keuntungan yang tinggi telah menjadi kekuatan penting budidaya lobster hingga saat ini (Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman 2020).

Kelemahan

Meskipun benih dan ikan rucah untuk budidaya lobster tersedia di perairan Viet Nam, namun para pembudidaya Lobster khawatir akan kestabilannya dari segi kualitas, kuantitas, dan harga. Meningkatnya pasokan ikan rucah dari perikanan lokal dan benih yang menetap secara alami memberikan landasan yang kuat untuk memperluas budidaya lobster. Namun, banyak pembudidaya di Vietnam menghadapi kekurangan benih lobster dan ikan rucah berkualitas tinggi untuk memberi makan lobster. Harga benih dan ikan rucah juga meningkat secara signifikan. Selain itu, ada kekhawatiran akan meningkatnya frekuensi wabah penyakit dan meningkatnya angka kematian di industri budidaya lobster. Teknologi budidaya yang belum berkembang juga dianggap menjadi salah satu kelemahan untuk pengembangan budidaya lobster secara berkelanjutan (Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman 2020).

Peluang

Semua pemangku kepentingan di Viet Nam sepakat bahwa permintaan lobster tinggi dan terus meningkat, baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Hal ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi industri budidaya lobster untuk mengidentifikasi pasar yang tersedia dan memenuhi permintaan yang belum terpenuhi ini. Selain itu, masih banyak pasar di dunia dengan permintaan tinggi akan produk lobster, yang belum dieksplorasi oleh sektor perikanan lobster Vietnam. Pasar yang belum tersentuh ini bisa menjadi peluang bagi Budidaya Lobster di Vietnam untuk memperluas ekspornya. Tidak seperti produksi budidaya laut lainnya, sektor lobster mendapat perhatian yang tinggi dan menjadi prioritas pemerintah Vietnam. Selain itu juga, saat ini sektor pembuatan keramba dan pemasok ikan rucah untuk pakan, dan benih berkembang dengan baik di Vietnam, terutama di wilayah laut tengah bagian selatan (Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman 2020).

Ancaman

Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman (2020) menyatakan bahwa Para pelaku budidaya lobster di Viet Nam mengakui bahwa ketersediaan pakan telah mendorong sumber daya ikan lainnya dieksploitasi secara berlebihan. Hal ini berarti akan semakin sedikit ikan rucah yang tersedia untuk pakan lobster dan / atau harga pakan dapat meningkat di masa mendatang. Hal ini mengancam pengembangan budidaya lobster secara berkelanjutan. Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada pasar China diakui sebagai ancaman bagi pembangunan berkelanjutan industri ini di Vietnam. Selain itu juga, salah satu ancaman paling serius adalah arus perkembangan kompleks dari masalah penyakit. Meskipun pemerintah Vietnam mendukung dan telah mengadopsi kebijakan yang relevan, kurangnya sanksi dalam melaksanakan kebijakan tersebut diidentifikasi sebagai ancaman oleh semua pemangku kepentingan. Selain itu, banyak penelitian menyebutkan bahwa budidaya lobster membutuhkan input modal yang cukup besar untuk pembelian keramba, bibit dan pakan.  Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman (2020) menyatakan bahwa karena risiko yang tinggi, petambak lobster mengalami kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari bank atau lembaga perkreditan.

Benahi Kebijakan Pengelolaan Lobster Indonesia

Belajar dari kondisi budidaya Lobster di Viet Nam tersebut semakin jelas bahwa pemerintah perlu untuk melindungi keberlanjutan benih lobster yang ada di perairan Indonesia. Viet Nam saat ini telah mengalami krisis benih lobster seiring dengan terus meningkatnya industri budidaya. Akibatnya benih lobster banyak diimpor dari negara lain, khususnya dari Indonesia.

Selain itu juga budidaya Lobster di Viet Nam telah mengancam ketersediaan sumberdaya ikan di wilayah pesisir, karena banyak dieksploitasi untuk mendukung pakan Lobster. Pembudidaya lobster di Vietnam hampir seluruhnya bergantung pada ikan rucah untuk memberi makan lobster di karamba. Rasio konversi pakan (FCR) dari ikan rucak tersebut sekitar 20: 1 dan dalam beberapa kasus bahkan 50: 1 dalam menggunakan makan ikan rucah tradisional (Jones et al. 2010). Artinya untuk mendapatkan Lobster ukuran 1 Kg di jaring karamba dibutuhkan ikan rucah sebanyak 20-50 kg. Hal inilah yang memicu overeksploitasi sumberdaya ikan di pesisir Viet Nam.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan, pada situasi pandemi covid-19 ini saatnya untuk memperbaiki pengelolaan Lobster di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar ketika harga Lobster kembali normal, pasokan Lobster dari Indonesia dapat meningkat. Oleh sebab itu kebijakan ekspor benih lobster perlu segera dihentikan, karena hanya akan menguntungkan para pelaku usaha Lobster di Viet Nam. Permen KP 12 Tahun 2020 perlu segera direvisi kembali.

Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu fokus mengembangkan pembibitan lobster melalui Hatchery. Hal ini guna mendukung pengembangan industri budidaya Lobster nasional. Selain itu juga, para peneliti pakan ikan nasional hendaknya terus di dorong untuk mengkaji terkait pakan budidaya lobster selain ikan rucah hasil tangkapan nelayan.

Referensi

Au Ton Nu Hai dan Stijn Speelman 2020. Involving stakeholders to support sustainable development of the marine lobster aquaculture sector in Vietnam. Jurnal Marine Policy Marine Policy 113 (2020) 103799 yang berjudul. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0308597X19305883?via%3Dihub

FAO 2021. COVID-19 triggers big drop in lobster prices. diakses dari : http://www.fao.org/in-action/globefish/market-reports/resource-detail/en/c/1263846/

Suhana. 2019. Lobsternomic (1) : Menjaga Keberlanjutan Ekonomi Lobster. Diakses dari http://suhana.web.id/2019/04/24/lobsternomics-1-menjaga-keberlanjutan-ekonomi-lobster/

   Send article as PDF   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *