Maret 2020 : Nilai Tukar Perikanan Provinsi Makin Kritis

ILUSTRASI. Nelayan Kecil di Pesisir Pandeglang Banten. 50 % Provinsi di Indonesia memiliki nilai NTN dibawah titik kritis. Photo : Suhana

Selasa (07/04/2020), BPS merelease perkembangan Nilai Tukar Petani Bulan Maret, termasuk sektor perikanan menurut provinsi di Indonesia. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa pada bulan Maret jumlah provinsi yang Nilai Tukar Nelayan (NTN) kurang dari 100 (<100) mencapai 17 provinsi atau sekitar 50% dari total Provinsi di Indonesia (34 Provinsi).

Nilai Tukar Nelayan (NTN) Bulan Maret 2020 Menurut Provinsi (Sumber : www.bps.go.id, diakses 7-04-2020)

Jumlah provinsi dengan nilai NTN < 100 bulan Maret tersebut menurun sekitar 5,56%  dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 18 provinsi. Secara teori NTN < 100 menunjukan bahwa rumah tangga nelayan kecil mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Atau dengan kata lain pendapatan nelayan turun, lebih kecil dari pengeluarannya.

Lima Provinsi dengan nilai NTN terbesar pada bulan Maret adalah Papua (109,65), Jambi (106,74), Kepulauan Bangka Belitung (105,67), Kalimantan Utara (104,46) dan DI Yogyakarta (104,46). Sementara lima provinsi dengan nilai NTN terendah pada bulan Maret adalah DKI Jakarta (96,57), Papua Barat (96,42), Sulawesi Tenggara (95,92), Nusa Tenggara Timur (94,80), dan Bengkulu (91,63).

Sementara itu jumlah provinsi yang memiliki Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) dibawah 100 terus meningkat. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa pada bulan Maret jumlah provinsi yang NTPi kurang dari 100 (<100) mencapai 19 provinsi atau sekitar 55,88% dari total Provinsi di Indonesia (34 Provinsi).

Nilai Tukar Pembudiaya Ikan (NTPi) Bulan Maret 2020 Menurut Provinsi (Sumber : www.bps.go.id, diakses 7-04-2020)

Jumlah provinsi dengan nilai NTPi < 100 bulan Maret tersebut meningkat sekitar 11,76 %  dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 17 provinsi. Secara teori NTPi < 100 menunjukan bahwa rumah tangga pembudidaya ikan kecil mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Atau dengan kata lain pendapatan pembudidaya ikan turun, lebih kecil dari pengeluarannya.

Lima Provinsi dengan nilai NTPi terbesar pada bulan Maret adalah Jawa Tengah (107,99), Jawa Barat (104,93), Kepulauan Riau (103,54), Kalimantan Barat (103,43) dan Bali (103,35). Sementara lima provinsi dengan nilai NTPi terendah pada bulan Maret adalah Aceh (94,65), DI Yogyakarta (94,24), Riau (94,22), Sumatera Barat (93,67), dan Sumatera Selatan (93,22).

Berdasarkan hal tersebut pemerintah dan pemerintah daerah perlu terus meningkatkan perhatian terhadap rumah tangga nelayan dan pembudidaya ikan kecil, khususnya di wilayah-wilayah yang nilai NTN dan NTPi nya kurang dari 100. Hal ini guna terus meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan dan pembudidaya ikan dan menurunkan biaya produksi serta kebutuhan rumah tangganya.***

   Send article as PDF   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *