Susi Pudjiastuti dan Tukar Guling Bantuan Perahu Nelayan Kecil

Oleh : Suhana

Susi Pudjiastuti dengan perahu dayung milik Mulyani, nelayan Pandeglang yang mendapat perahu dari metode tukar guling dengan perahu baru.(Photo : SUHANA)

DALAM Beberapa minggu terakhir, penulis berkesempatan mengikuti proses penyerahan bantuan kapal milik mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kepada para nelayan kecil. Perahu bantuan tersebut diperoleh dari honor berbagai kegiatan yang dihadiri Susi Pudjiastuti, seperti fashion show Anne Avantie, talkshow Tokopedia, dan seminar Yayasan Ardhya Garini (Yasarini) binaan istri Panglima TNI. Setiap kali menghadiri sebuah kegiatan, Susi mengalokasikan 100 persen honornya untuk pengadaan kapal-kapal bagi para nelayan kecil lengkap dengan mesin 15 PK.

Sampai akhir November 2019 tercatat sudah ada 32 perahu dengan dimensi panjang 9 meter, lebar 1,2 m, dan tinggi 0,7 m. Sampai akhir November sudah ada dua titik lokasi yang mendapatkan bantuan perahu, yaitu nelayan di pesisir Pandeglang dan Lampung Selatan. Kedua lokasi tersebut merupakan wilayah terkena dampak tsunami 2018. Dalam beberapa waktu ke depan direncanakan akan terus dilakukan di beberapa lokasi lagi, seperti Palu, Simueleu, Morotai, Banggai, Banda, Natuna, dan nelayan di wilayah perbatasan.

Berdasarkan kegiatan penyerahan di kedua lokasi tersebut, penulis melihat ada metode baru dalam penyaluran perahu bantuan dari Susi Pudjiastuti kepada para nelayan kecil.

Metode tukar guling

Metode yang digunakan Susi Pudjiastuti dalam menyalurkan perahu bantuannya adalah dengan menukar perahu yang sedang dipakai nelayan melaut dengan perahu baru yang sudah disiapkan atau dikenal dengan istilah metode tukar guling. Tentu nilai perahu baru milik Susi Pudjiastuti jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perahu lama yang dipakai nelayan.

Dengan metode tersebut, perahu lama yang dimiliki nelayan diambil dan diganti dengan perahu baru lengkap dengan mesin. Perahu lama milik nelayan selanjutnya diberikan kepada nelayan kecil lain yang belum memiliki perahu. Artinya, setiap kali memberikan bantuan perahu baru ke nelayan penerima bantuan, ada perahu lama milik nelayan penerima bantuan yang diberikan ke nelayan lain.

Kata tukar guling dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut tukar lalu, yang berarti bertukar barang dengan tidak menambah uang, atau dengan kata lain tukar guling mempunyai arti suatu persetujuan, dengan mana kedua belah pihak mengikatkan dirinya untuk saling memberi suatu barang secara bertimbal balik, sebagai gantinya atas suatu barang. Namun, dalam penyaluran perahu bantuan Susi Pudjiastuti tersebut istilah tukar guling dipakai untuk mendorong kepedulian para nelayan pemilik perahu lama untuk sama-sama berbagi dengan nelayan kecil di sekitarnya.

Sementara itu, metode pemilihan nelayan calon penerima perahu bantuan dari Susi Pudjiastuti adalah dengan mendatangi dan memilih nelayan yang sedang melakukan aktivitas penangkapan ikan di tengah laut. Cara ini sengaja ditempuh mengingat nelayan yang berada di tengah laut sudah pasti nelayan, sedangkan yang dijumpai di daratan belum tentu nelayan walaupun mengaku sebagai nelayan. Selain itu, hal ini dilakukan guna mendapatkan nelayan yang sesuai dengan kriteria.

Adapun beberapa kriteria nelayan yang berhak menerima perahu bantuan, antara lain nelayan dayung. Hal ini dimaksudkan guna meningkatkan pendapatan para nelayan dayung. Nelayan dayung selama ini masih sangat konvensional dan berpenghasilan minim sehingga untuk meningkatkan pendapatan, kapal dengan teknologi mesin adalah solusinya.

Berdasarkan wawancara di lapangan, terlihat bahwa nelayan dayung dengan alat tangkap pancingan setiap melaut maksimal dapat 20 kg. Dengan perahu bantuan ini diharapkan para nelayan bisa memperoleh sampai dengan 500 kg setiap kali melaut karena menggunakan mesin, jaring, ukuran kapal lebih besar, sehingga bisa jauh menjangkau wilayah tangkapnya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan terlihat bahwa dalam proses tukar guling perahu dayung, setiap 1-3 perahu dayung diganti dengan satu perahu bantuan. Berdasarkan wawancara dengan nelayan pemilik parahu dayung, setiap perahu dayung harganya rata-rata sekitar Rp 2 juta. Artinya kalau ada 3 kapal dayung total harganya sekitar 6 juta.

Sementara itu, harga perahu bantuan dari Susi Pudjiastuti berkisar Rp 50 juta-Rp 60 juta, sudah lengkap perahu dan mesin Yamaha 15 PK. Kriteria lain adalah nelayan yang terkena dampak tsunami. Salah satu prioritas Susi Pudjiastuti adalah memberikan kapal gratis kepada nelayan-nelayan yang terkena dampak tsunami di beberapa daerah di Indonesia, seperti Padeglang, Lampung, dan Palu.

Berdasarkan informasi di lapangan, masih ada nelayan yang belum mendapatkan bantuan pemerintah sehingga banyak nelayan yang alih profesi. Untuk lebih meyakinkan lagi bahwa penerima adalah seorang nelayan, akan dilakukan tes dalam menggunakan kapal serta pengetahuan umum mengenai perkapalan nelayan. Kriteria ketiga adalah nelayan dengan mesin pinjaman.

Sementara itu, kriteria penerima perahu lama milik para nelayan yang menerima bantuan perahu adalah nelayan yang selama ini tidak memiliki perahu atau hanya ikut dalam perahu milik tetangga atau nelayan lainnya. Dengan pemberian perahu lama tersebut, nelayan yang semula hanya ikut nelayan lainnya diharapkan menjadi memiliki perahu.

Mulyani, perahu dayung dan perahu mesin gratis dari Susi Pudjiastuti.(Photo : SUHANA)

Proses penyaluran bantuan perahu nelayan

Dalam penyaluran perahu bagi nelayan kecil tim sudah merencanakannya secara matang dalam beberapa tahapan. Tahapan pertama, mengidentifikasi dan menetapkan wilayah-wilayah kampung nelayan yang akan menjadi tujuan penyaluran perahu bantuan. Tim melakukan riset kecil dalam menentukan lokasi mana yang akan dijadikan tujuan pembagian bantuan perahu nelayan.

Beberapa kriteria dalam penentuan lokasi penyaluran bantuan adalah (1) kampung nelayan yang terkena dampak tsunami; (2) banyak nelayan kecil yang belum mendapatkan bantuan. Riset kecil tersebut dilakukan melalui penelusuran referensi sekunder dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, termasuk dari pemberitaan-pemberiaan media.

Tahapan kedua, pengiriman perahu dan mesin bantuan dari Jakarta ke lokasi yang sudah ditetapkan menjadi tempat penyaluran perahu bantuan. Tahap ketiga, setting perahu bantuan di lokasi penyaluran bantuan. Tahap keempat, survei detail di lapangan. Survei detail ini dilakukan sehari sebelum pencarian nelayan calon penerima bantuan di laut. Survei detail lapangan ini dimaksudkan guna memastikan bahwa di wilayah tersebut benar-benar lokasi yang tepat untuk mencari para nelayan panerima bantuan perahu.

Tahap kelima, pencarian nelayan calon penerima bantuan secara langsung di laut. Dalam proses pencarian tersebut nelayan langsung diwawancara di tengah laut sambil mereka melakukan aktivitas menangkap ikan. Nelayan yang sesuai kriteria dan mereka setuju dengan yang ditawarkan oleh tim langsung dibawa ke pesisir untuk memilih perahu mana yang akan mereka dapatkan sebagai pengganti perahu lama. Tahap keenam, pembuatan berita acara penyerahan perahu bantuan kepada nelayan kecil penerima bantuan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan proses penyaluran bantuan perahu kepada nelayan kecil terlihat sangat efektif dan tepat sasaran. Dengan metode ini tidak ada lagi kekhawatiran salah sasaran penerima bantuan yang selama ini kerap terdengar setiap ada bantuan perahu kepada para nelayan atau kelompok nelayan. Namun, metode ini perlu terus disempurnakan agar ke depan berbagai penyaluran bantuan bagi para nelayan kecil bisa tepat sasaran.

Perahu Dayung Mulyani dan perahu mesin gratis dari Susi Pudjiastuti.(Photo : SUHANA)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Susi Pudjiastuti dan Tukar Guling Bantuan Perahu Nelayan Kecil”, https://money.kompas.com/read/2019/12/03/113800826/susi-pudjiastuti-dan-tukar-guling-bantuan-perahu-nelayan-kecil?page=all#page2.

Editor : Erlangga Djumena

   Send article as PDF   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *