Perdagangan Karang Hias Indonesia

Please follow and like us:
10

Karang hias merupakan salah satu komoditas kelautan dan perikanan Indonesia yang diperdagangkan dipasar internasional. Pada tahun 2016 nilai ekspor karang hias Indonesia mencapai US$ 10,70 juta atau sekitar 6,35 persen dari total nilai ekspor karang hias dunia (US$ 168,51 juta). Nilai ekspor karang hias tahun 2016 tersebut terlihat naik sebesar 14,51 % dibandingkan tahun 2015 yang hanya mencapai US$ 9,35 juta (International Trade Centre 2018).

Dalam kurun waktu 2012-2016 tercatat ada 153 negara yang melakukan perdagangan karang hias di pasar dunia. Kontribusi nilai ekspor karang hias Indonesia terhadap total nilai ekspor karang hias dunia rata-rata mencapai 5,58 % atau berada pada urutan dua besar dunia setelah Jepang (33,67 %). Pertumbuhan ekspor karang hias Indonesia dalam periode yang sama rata-rata mencapai 5,25 persen pertahun. Sementara itu dalam periode yang sama rata-rata kontribusi nilai ekspor dunia  mencapai 6,97 persen, sedangkan pertumbuhan ekspor karang hias dunia turun sebesar 1,03 persen (Lihat Gambar 1).

Gambar 1. Rata-rata Pertumbuhan dan Share Nilai Ekspor Karang Hias 10 Negara Utama Dunia Periode 2012-2016

Berdasarkan Gambar 1 terlihat Jepang merupakan negara yang memiliki kontribusi dan pertumbuhan ekspor karang hias tertinggi dunia dalam periode 2012-2016. Selain itu juga terlihat bahwa United Kingdom (UK)  dan Italy dalam periode yang sama pertumbuhan ekspornya menurun, rata-rata penurunannya adalah 8,76 % (Italy) dan 7,03 % (UK).

Negara Tujuan Ekspor Karang Hias Indonesia

Pada tahun 2016 negara tujuan ekspor karang hias Indonesia terjadi pergeseran, yaitu dari China ke Amerika Serikat. Kontribusi nilai ekspor karang hias Indonesia ke China dalam kurun waktu dua tahun terakhir terus mengalami penurunan, yaitu seiring terus meningkatnya kontribusi nilai ekspor karang hias Indonesia ke Amerika Serikat. Pada tahun 2016 kontribusi nilai ekspor karang hias Indonesia ke Amerika Serikat mencapai 27,33 persen, sementara ke China hanya mencapai 26,75 persen dari total nilai ekspor karang hias Indonesia tahun 2016 (Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwa para pelaku ekspor karang hias Indonesia telah berhasil dalam menembus langsung pasar utama karang hias dunia, yaitu Amerika Serikat, tanpa melalui transit di China. 

Gambar 2. Share (%) Nilai Ekspor Karang Hias Indonesia Menurut Negara Tujuan

Membaiknya nilai ekspor karang hias Indonesia tentu perlu diikuti dengan terus menjaga kelestarian sumberdaya terumbu karang di seluruh perairan Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar terumbu karang tidak terancam oleh kepentingan pasar. Publikasi Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI dan COREMAP-CTI (2017) tentang Status Terumbu Karang Indonesia 2017 menunjukkan bahwa secara umum, hasil yang diperoleh dari 1064 stasiun di 108 lokasi yang menyebar di seluruh perairan Indonesia, kondisi terumbu karang yang dalam kondisi sangat baik sebesar 6,39%, kondisi baik sebesar 23,40%, kondisi cukup sebesar 35,06% dan kondisi jelek sebesar 35.15%.

Adanya perbedaan kondisi terumbu karang yang diperoleh erat kaitannya dengan kondisi lingkungan masing-masing wilayah. Wilayah Indonesia bagian barat dipengaruhi langsung oleh Samudra Hindia dan fenomena-fenomena alam, baik tsunami ataupun gempa. Di Indonesia Tengah dan Timur merupakan jalur Arlindo dimana arus yang berasal dari Pasifik yang membawa banyak larva dan kaya akan nutrient. Hal ini akan membuat daerah-daerah yang dilalui mempunyai keanekaragaman yang tinggi dan tentunya kondisi habitat yang baik. Meskipun demikian, gangguan manusia terhadap terumbu karang sangat menentukan kondisi terumbu karang itu sendiri. Sebaik apapun kondisi terumbu karang di suatu lokasi, bila terus menerus mendapatkan gangguan/tekanan tentunya akan dapat merusak ekosistem terumbu karang.

Giyanto dalam Jurnal Oseana, Volume XXXII No. 4, 2007 menyatakan bahwa Ekosistem terumbu karang, dimana karang merupakan komponen utamanya merupakan sumberdaya alam yang dapat pulih (renewable), tetapi kontrol yang ketat tetap diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Kegiatan tranplantasi karang untuk perdagangan karang hias merupakan salah satu kegiatan alternatif untuk mengurangi tekanan eksploitasi karang yang diambil langsung dari alam. Sepanjang aturan dan pengawasan yang dilakukan oleh instansi yang berwenang berjalan baik, serta didukung oleh semua pihak, maka perdagangan karang hias tidak akan mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang.

Lebih lanjut Giyanto (2007) menyatakan bahwa karang hasil transplantasi merupakan hasil budidaya. Meskipun demikian, kontrol dari pemerintah baik dari Otoritas Pengelola (Departemen Kehutanan—saat ini Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup), Otoritas Keilmuan (LIPI), Pemerintah daerah setempat serta instansi/lembaga lain yang terkait, tetaplah diperlukan. Hal ini untuk menjamin agar karang yang diperdagangkan memang benar-benar merupakan hasil transplantasi, serta dengan teknik transplantasi yang memenuhi prinsip-prinsip kelestarian ekosistem terumbu karang itu sendiri.

www.pdf24.org    Send article as PDF   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *