Catatan Akhir Pekan : Mengenal Inovasi “Blue Economy” Eco-Shrimp Busmetik

Please follow and like us:
10

Bogor (10/02/2017). Pada akhir tahun 2015 lalu, penulis berkesempatan mengunjungi Bagian Administrasi Pelatihan Perikanan Lapangan (BAPPL) Sekolah Tinggi Perikanan Serang. Catatan dan data yang disampaikan dalam tulisan ini didapat pada saat kunjungan keBAPPL STP Serang akhir tahun 2015 lalu, mudah-mudahan masih sangat relevan. BAPPL STP Serang terletak 80 km ke arah Barat dari Jakarta yang merupakan daerah pantai di Teluk Banten yang berdekatan dengan situs peninggalan sejarah di Propinsi Banten. Kampus ini didirikan tahun 1986 guna memenuhi kebutuhan penyediaan kampus latihan yang sesuai dan mendukung pencapaian pengetahuan praktis dan ketrampilan teknis. Disamping itu, kampus ini juga menyediakan fasilitas penelitian dan pelaksanaan pengajaran khususnya bagi Program Studi Teknologi Akuakultur dan Program Studi Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan (Lihat Gambar 1). Kampus ini melaksanakan program-program kegiatan dengan peserta adalah nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan

Gambar 1. Kondisi Lokasi Bagian Administrasi Pelatihan Perikanan Lapangan (BAPPL) Sekolah Tinggi Perikanan Serang

Teluk merupakan wilayah pesisir yang memiliki keunikan tersendiri. Wilayah teluk merupakan tempat interaksi antara daratan dan perairan, akibatnya, wilayah teluk secara langsung dipengaruhi oleh kekuatan alam baik yang berasal dari daratan maupun dari laut. Pengaruh daratan antara lain aliran air tawar dan sedimen ke pesisir yang mengakibatkan terbentuknya delta, wetlands dan mudflats. Sebaliknya, pasang surut dan arus laut mendorong air asin jauh masuk ke wilayah daratan. Kekuatan alam lainnya yang juga berlangsung di kawasan teluk dan berpengaruh nyata adalah angin, suhu, badai, dan curah hujan. Interaksi antara proses-proses fisika, kimia, dan biologi di wilayah peralihan tersebut menciptakan sistem sumberdaya yang menghasilkan barang dan jasa yang unik dan kondusif untuk kehidupan manusia. Aktivitas manusia adalah faktor yang mempengaruhi keterpaduan dan kesehatan perairan teluk.

Teluk Banten merupakan salah satu teluk di Indonesia yang terletak di ujung Barat dan pantai utara pulau Jawa dengan luas kurang lebih 120 km2. Beberapa sungai besar dan kecil bermuara di Teluk Banten, diantaranya sungai Domas, Soge, Cikemayungan, Banten, Pelabuhan, Wadas, Baros, Ciujung, Anyar, Cilid, Kesuban, Baru, Serdang, Suban, Kedungingus dan Candi (Peta Lingkungan Pantai Indonesia, Lembar LPI 1110-09 Teluk Banten, 1999). Sungai terbesar adalah Ciujung dan Anyar (Peta Lingkungan Pantai Indonesia, Lembar LPI 1110-09 Teluk Banten, 1999). Lamun (seagrass) dapat ditemukan di beberapa tempat, antara lain sepanjang pantai bagian Barat teluk, paparan terumbu beberapa pulau karang (pulau Panjang, Tarahan, Lima, Kambing, Pamujan Besar dan Kepuh) dan pada daerah terumbu karang intertidal hingga kedalaman 6 meter. Kedalaman teluk berkisar antara 1 – 10 meter dari muara hingga mendekati ujung teluk, sedangkan kedalaman ujung teluk hingga pulau Tunda dapat mencapai 40 – 60 meter. Sedimen teluk Banten terdiri dari lumpur dan pasir (Green and Short, 2003), nilai salinitas bervariasi antara 28.23 – 35,34 psu (Green and Short, 2003). Bakau dapat ditemukan di sepanjang Grenyang, bagian Timur teluk, hingga ke Tanjung Pontang di sebelah Barat Teluk, dan juga di sebelah Selatan pulau Panjang (Novi Susetyo Adi dan Agustin Rustam, 2010).

Boks 1. Kasus Kematian Udang Vaname di Kecamatan Pontang Kabupaten Serang

Berdasarkan kondisi tersebut terlihat bahwa wilayah teluk merupakan wilayah yang sangat memiliki potensial yang tinggi sebagai tempat berkumpulnya zat pencemar, baik yang terbawa oleh arus laut maupun dari aliran sungai. Terakumulasinya zat pencemaran di perairan teluk dapat berdampak terhadap aktivitas perikanan yang ada di sekitar wilayah teluk, misalnya aktivitas tambak udang. Terlebih dibeberapa wilayah teluk, ekosistem mangrove sudah tidak tampak lagi menghiasi wilayah pesisir tersebut,akibat adanya pembukaan lahan tambak udang. Hampir setiap saat para petambak udang dihadapkan dengan kasus kematian udang karena terserang virus. Misalnya pada tahun 2013 ribuan udang vaname di Kecamatan Pontang Kabupaten Serang mati terserang virus (Lihat Boks 1). 

Pada pertengahan tahun 2015 kasus serupa terjadi di Kecamatan Kronjo Kabupaten Tangerang (Lihat Boks 2). Kalau melihat kondisi lapangan yang ada dilokasi kematian udang vaname milik masyarakat tersebut terlihat bahwa ekosistem mangrove relative tidak terjaga dengan baik.

Boks 2. Kasus Kematian Udang Vaname di Kecamatan Pontang Kabupaten Serang

Selain kasus-kasus kematian udang tersebut, tantangan terbesar lainnya yang dihadapi oleh para pembudidaya udang adalah terkait dengan ketersediaan lahan budidaya yang ada di wilayah pesisir. Perkembangan pembangunan diwilayah pesisir yang semakin pesat telah menjadikan ketersediaan lahan budidaya udang di wilayah pesisir menjadi susah. 

Berbagai kasus kematian udang milik para pembudidaya tersebut yang sudah berlangsung dalam beberapa decade terakhir ini dan terus menurunnya ketersediaan lahan budidaya tambak udang telah menjadi salah satu bahan pemikiran kalangan akademisi, termasuk Sekolah Tinggi Perikanan. Berbagai inovasi terus dirancang oleh Bagian Administrasi Pelatihan Perikanan Lapangan (BAPPL) Sekolah Tinggi Perikanan Serang Banten guna memberikan solusi terbaik bagi para pembudidaya udang Indonesia. 

Sejak akhir tahun 2009, kampus ini terus melakukan penelitian-penelitian terkait teknologi budidaya udang skala mini empang plastiks (BUSMETIK). Penelitian ini dilakukan oleh tim dosen yang ada di BAPPL Serang, yaitu Tb. Haeru Rahayu (Ketua Tim), Suharyadi, Sri Budiani, Sinar Pagi dan Sinung Rahardjo.

Menurut Tb. Haeru Rahayu (Tanpa Tahun) yang merupakan Ketua Tim Peneliti Busmetik menyatakan bahwa penelitian ini dilatarbekalangi oleh antara lain : (1) Udang saat ini merupakan komoditas perikanan unggulan dengan permintaan pasar yang masih tetap stabil; (2) komunitas pembudidaya udang dengan “MODAL” menengah – kecil cukup tinggi yaitu masih diatas 60%; (3) menurunnya kualitas lingkungan secara umum, sehingga semakin menjamurnya penyakit pada udang budidaya; (4) kesulitan pengelolaan tambak dengan petakan ‘luas’ (>2000 m); (5) tidak semua jenis tanah dapat dijadikan petakan tambak; dan (6) mendukung program revitalisasi budidaya udang yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Disamping itu, melalui teknologi Busmetik ini telah menunjukkan bahwa dunia pendidikan mampu berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat; yang selama ini diyakini bahwa output dari dunia pendidikan baru akan dirasakan setelah para peserta didik lulus beberapa tahun kedepan.

Keuntungan teknologi Busmetik adalah (1) biaya terjangkau oleh pembudidaya menengah-kecil, (2) pengelolaan tambak mudah karena luas petakan kecil, sehingga resiko serangan penyakit kecil, (3) dapat dilakukan di berbagai tipe lahan termasuk jenis tanah yang “porous”, (4) masa pemeliharaan lebih singkat (size 60 ekor/kg dicapai pada pada masa pemeliharaan sekitar 100 hari), (5) penggunaan pakan lebih efisien (FCR ± 1,3), serta (6) tidak menggunakan antiobitika yang sudah dilarang penggunaannya sejak lama.

Teknologi Busmetik, sangat cocok untuk budidaya udang vaname (Litopeneus vannamei), hal ini karena udang vaname : (1) dapat dipelihara dalam kepadatan tinggi (yaitu; di atas 100 ekor/m), (2) memiliki pertumbuhan lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit, dan (3) udang vanamei memiliki segmen pasar yang lebih fleksibel (yaitu: udang ukuran kecil sudah laku dijual).

Komponen Dasar Busmetik

Kunci sukses teknologi Busmetik terdapat pada pemahaman terhadap ‘komponen dasar dalam budidaya’. Komponen dasar tersebut adalah: wadah budidaya, media budidaya, biota budidaya dan lingkungan sekelilingnya. Wadah budidaya dibuat sedemikian rupa agar mampu menampung media pemeliharaan (air) sesuai yang diinginkan oleh biota yang dibudidayakan (yaitu: udang vaname), dimensi wadah budidaya harus dibuat agar memudahkan dalam pengelolaannya, serta petakan tidak terlalu luas, yaitu hanya 600-1000 m

Media budidaya harus sesuai dengan yang diinginkan oleh udang yang dipelihara baik aspek fisika, kimia maupun biologinya, bebas  hama dan penyakit (steril), serta yang tidak kalah pentingnya adalah tidak membuat perubahan mendadak pada media pemeliharaan (air) tersebut, karena perubahan yang mendadak akan mengakibatkan udang mengalami stres yang tentunya udang akan menjadi lemah dan mudah sakit.

Biota yang dibudidayakan pun harus memenuhi persyaratan antara lain: sehat, ukuran seragam (PL-10-12) serta bebas dari penyakit tertentu atau lebih dikenal dengan SPF (specific pathogenic free), seperti: WSSV (white spot syndrome virus), TSV (taura syndrome virus), IMNV (infectious mionecrosis virus), dan EMS (early mortality syndrome). Saat ini para panti pembenih udang (hatcher) sudah banyak yang memberikan garansi benur yang dihasilkannya untuk beberapa penyakit tersebut di atas.

Komponen dasar lainnya yang juga sangat penting mendukung teknologi busmetik adalah mengupayakan kondisi sekeliling kegiatan budidaya menjadi kondusif. Langkah konkrit yang harus dilakukan adalah membuat ekosistem mangrove disekeliling tambak. Dengan menciptakan ekosistem mangrove, maka petakan busmetik akan terhindar dari biota pembawa penyakit (vektor) yang masuk ke dalam petakan tambak, karena biota pembawa penyakit tersebut akan lebih nyaman tinggal di dalam ekosistem mangrove.

Perhitungan Finansial Satu Petak BUSMETIK

Satu siklus yaitu 100 hari pemeliharaan, akan mendapatkan margin sekitar Rp. 44,5 juta dengan biaya investasi sekitar Rp 97 juta dan biaya operasional sekitar Rp. 51 juta. Margin tersebut dapat dicapai melalui petakan tambak seluas 600 m, dengan padat penebaran benur 200 ekor/m,tingkat kelangsungan hidup udang sekitar 95%, ukuran (size) udang yang dipanen 65 ekor/kg, konversi pakan sebesar 1,3 serta harga jual sekitar Rp.50 ribu. Jika kita membuat perhitungan lebih sederhana, maka dari data diatas dapat dikatakan bahwa Harga Produksi Per Kg (HPP) sekitar 48% dan margin keuntungannya sebesar 42%.

Mulai kepadatan rendah yaitu sekitar 100 ekor/m hingga kepadatan tinggi di atas 250 ekor/m. Produktivitas yang saat ini sudah dihasilkan adalah 1,4 kg/m atau setara dengan 14 ton/ha hingga 3,4 kg/m atau setara 34 ton/ha pada kepadatan 250 ekor/m. Saat ini masih terus dilakukan kajian dan percobaan dengan melakukan perbaikan SOP agar dapat meningkatkan produktivitas per kg-nya, sekitar 4 kg/m  atau setara dengan 40 ton/ha.

Mangrove Sebagai “Toilet” Alami Tambak Busmetik

Program pengembangan terobosan teknologi budidaya udang skala mini empang plastik (Busmetik) yang telah dilakukan oleh BAPPL-STP Serang, dikembangkan dan disinergikan dengan konsep budidaya terintegrasi sesuai dengan pendekatan ekonomi biru (blue economy), dengan istilah Eco-Shrimp yaitu teknologi budidaya udang ramah lingkungan berkelanjutan dimana limbah budidaya disalurkan ke “Toilet Alami” hutan mangrove, sehingga tidak mencemari lingkungan (Lihat gambar 2). Limbah budidaya udang merupakan sumber nutrien yang masih dapat dimanfaatkan untuk komoditi lainnya sebelum dibuang ke perairan pantai. Melalui konsep ini diharapkan kualitas lingkungan perairan menjadi lebih baik, keberlanjutan usaha dapat dijaga dan terdapat nilai tambah produksi dari budidaya lainnya.

Gambar 2. Sistem Distribusi Air dari Laut sampai Ke “Toilet” Alami Ekosistem Mangrove

Pengembangan kawasan budidaya udang Ecoshrimp sudah saatnya untuk diterapkan dengan melibatkan berbagai pihak, baik sektor swasta maupun pemerintah. Dekade terakhir, perhatian dunia untuk masalah lingkungan dan keamanan pangan (food safety) berpengaruh sangat kuat pada praktek budidaya. Beberapa negara pengimpor memberlakukan peraturan yang sangat ketat terhadap kegiatan budidaya yang bertanggung jawab seperti penggunaan antibiotik tertentu, dan pengalihan fungsi hutan mangrove menjadi areal budidaya.

Oleh karena itu, kegiatan budidaya udang harus dilakukan dengan teknologi yang dapat dipertanggungjawabkan dan ramah lingkungan. Keberlanjutan (sustainability) kegiatan budidaya tidak akan lepas dari pengendalian aspek lingkungan, ekonomi dan sosial masyarakat. Limbah budidaya merupakan bentuk energi yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman air sebagai sumber hara bagi pertumbuhannya, sehingga tidak mencemari lingkungan perairan dan menjaga kesehatan udang yang dipelihara. Hal ini merupakan bentuk upaya kita dalam meningkatkan efisiensi dan meminimalkan nilai entropi lingkungan dari pengolahan limbah tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian Heriyanto (2011) menyimpulkan bahwa dalam menyerap zat pencemar, mangrove jenis Avicenia marina (Forsk.) Vierh. lebih baik dari Rhizophora apiculata Blume dan Ceriops tagal C.B. Rob. Hal ini ditunjukkan oleh akumulasi zat tersebut pada bagian pohon. Pada umumnya akumulasi terbesar Magnesium (Mg) pada bagian daun dan akar, Seng (Zn) terakumulasi pada bagian akar dan daun sedangkan Kadmium (Cd) pada bagian daun dan akar, Arsen (As) pada bagian daun dan batang mangrove yang dekat dengan sumber pencemar. Berdasarkan hal tersebut Heriyanto (2011) menyarakan bahwa pengembangan tanaman mangrove sebagai penyerap polutan perlu mempertimbangkan substrat atau kondisi tanah dan tingkat pencemaran. Pada areal tambak dengan sistem silvofishery dalam kaitannya dengan penyerapan bahan pencemar maka penanaman Avicennia marina lebih baik dari pada Rhizophora.

Ekowisata Mangrove

Dalam perkembangannya lokasi tambak busmetik di kampus STP Serang Banten terus dirancang agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dalam setahun terakhir tambak busmetik dipadukan dengan pengembangan wisata alam (ekowisata) dan budidaya lebah. Keberadaan fasilitas Jogging Track dan Saung Mangrove yang ada saat ini telah menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Para pengunjung dapat melihat tambak busmetik dari dekat sambil menikmati segarnya udara hutan mangrove. Namun demikian sarana dan prasarana ekowisata mangrove yang ada di area tambak udang Busmetik ini perlu terus dibenahi dan dilengkapi guna memberikan informasi dan manfaat optimal bagi para pengunjung. Selain sebagai lokasi ekowisata, lokasi ini juga dapat dijadikan lokasi penelitian yang menarik dalam pengembangan dan penerapan konsep blue economy di Indonesia. Secara grafis kondisi ekowisata hutan mangrove di tambak busmetik tersebut dapat dilihat pada gambar 3. 

Gambar 3. Ekowisata Hutan Mangrove dan Tambak Busmetik

 

Daftar Referensi :

Heriyanto. 2011. Kandungan Logam Berat Pada Tumbuhan, Tanak, Air, Ikan dan Udang di Hutan Mangrove. Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi. Bogor

Peta Lingkungan Pantai Indonesia, Lembar LPI 1110-09 Teluk Banten, 1999

www.pdf24.org    Send article as PDF   

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *