Nilai Tukar Nelayan Bulan Januari 2017

Please follow and like us:
7

Bogor (6/02/2017). Nilai tukar nelayan Bulan Januari 2017 naik 2,96 persen jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2016. Sementara itu jika dibandingkan dengan Bulan Desember 2016 naik sebesar 0,25 persen. Artinya surplus nelayan bulan Januari 2017 jauh lebih baik dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2016.

Nilai Tukar Nelayan Bulan Januari 2017

Nilai Tukar Nelayan Bulan Januari 2017 mencapai 109,85 dan bulan Januari 2016 mencapai 106,69. Badan Pusat Statistik (BPS RI) lebih lanjut menjelaskan bahwa (1) NTN > 100, berarti nelayan mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan nelayan naik lebih besar dari pengeluarannya.

(2) NTN = 100, berarti nelayan mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan nelayan sama dengan pengeluarannya. (3) NTN< 100, berarti nelayan mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan nelayan turun, lebih kecil dari pengeluarannya.

Dengan terus mengalami perbaikan NTN tersebut diharapkan para nelayan dapat meningkatkan kemampuan modal usahanya guna mengembangkan usaha penangkapan ikan. Terlebih saat ini pemerintah, khususnya Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan  telah berkomitmen kuat untuk memberikan 100 persen aktivitas penangkapan ikan di perairan Indonesia hanya untuk nelayan Indonesia. 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS RI) Nilai Tukar Nelayan mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar produk yang dijual nelayan dengan produk yang dibutuhkan nelayan dalam produksi dan konsumsi rumah tangga. Selain itu juga Angka NTN menunjukkan tingkat daya saing produk perikanan tangkap dibandingkan dengan produk lain

Sementara itu berdasarkan kerangka pemikiran Amartya Sen dkk (2011) terlihat bahwa nilai tukar nelayan merupakan salah satu dimensi untuk mengukur kesejahteraan masyarakat dari segi pendapatan nelayan. Amartya Sen dkk (2011) dalam Bukunya berjudul “Mengukur Kesejahteraan” menyatakan bahwa untuk mengukur tingkat kesejahteraan diperlukan pendekatan multidimensi. Menurut Amartya Sen dkk (2011) terdapat 8 dimensi untuk mengukur kesejahteraan, yaitu (1) standar hidup meterial (pendapatan, konsumsi dan kekayaan); (2) kesehatan; (3) pendidikan; (4) aktivitas individu termasuk bekerja; (5) suara politik dan tata pemerintahan; (6) hubungan dan kekerabatan sosial; (7) lingkungan hidup; dan (8) ketidakamanan, baik yang bersifat ekonomi maupun fisik. (*Shn).

 

  

www.pdf24.org    Send article as PDF   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *